<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266</id><updated>2012-01-25T04:30:09.399-08:00</updated><category term='sejarah'/><category term='RIWAYAT'/><category term='Umum'/><category term='Lontar'/><title type='text'>BUDAYA &amp; FILOSOFI</title><subtitle type='html'>"TIADA KEAKUAN "SEHARUSNYA PALING BERSIH,TIDAK ADA POLUSI SEDIKITPUN,KITA MESTI MENGENAL PEMIKIRAN "TIADA AKU"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>115</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-5526626022025675064</id><published>2011-09-09T21:22:00.000-07:00</published><updated>2011-09-11T20:33:29.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>CINTA KASIH UNIVERSAL</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PjOMaHMZfbA/TY62_QWBHWI/AAAAAAAAAcE/_3Lgrv1CaYg/s1600/ratu+mas+tangan+seribu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-PjOMaHMZfbA/TY62_QWBHWI/AAAAAAAAAcE/_3Lgrv1CaYg/s320/ratu+mas+tangan+seribu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; CINTA KASIH UNIVERSAL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak cara untuk mempisualisasikan dan menggambarkan watak &lt;u&gt;cinta kasih&lt;/u&gt; yg diterapkan dalam simbul kita untuk mengarungi kehidupan di dunia ini baik untuk kehidupan antar sesama manusia,alam maupun terhadap leluhur sampai ke Tuhan yang semua itu adalah sebagai penyadaran akan kepedulian kita terhadap mahkluh di Bumi ini tanpa merasa Ego.&lt;br /&gt;
Apapun sebutannya dan dimanapun kita berada pasti kita berinteraksi dengan orang lain dan alam lingkungan kita untuk tempat berpijak,beristirahat,bergaul,kerja maupun berkomonitas.Begitu banyak jalan yang disediakan untuk mencapai jalan cinta kasih yang kesemuanya itu baik untuk kita terapkan tergantung situasi dan tempat maupun waktu yang ada selama kita mau berusaha untuk menerapkannya dan mempraktikkan langsung dalam bentuk perbuatan nyata.&lt;br /&gt;
Ibu yang identik dengan Orang yang kita melahirkan(lingkup keluarga),yang identik dengan Ibu pertiwi/Ibu Bumi(alam tanah air/universal) tempat kita dilahirkan dan berpijak sebagai tumpuan dan penyangga kita hidup,dan seorang ibu tidak pernah mengeluh, tidak pernah terbebani oleh perbuatan anak-anaknya walaupun tidak sesuai dengan kebajikan laku,namun seorang Ibu tetap dan tanpa bosan-bosannya menasihati anak-anaknya untuk berbuat baik dan benar dengan bahasa yang lembut dan penuh cinta kasih meski kita kadang tidak pernah menghiraukannya sampai kita paham betul akan ketulusan kasih sayangnya.&lt;br /&gt;
Bagaimana kita menerapkan kasih sayang yang Universal adalah dengan mengawalinya dengan menerapkan dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar yang akan menjadikan kebiasaan baik yang berlanjut tanpa kita sadari dengan catatan bahwa apa yang kita terapkan adalah untuk kebaikan semua dan tulus tanpa pamrih.&lt;br /&gt;
Penerapan itu kita mulai dari lingkup kecil dari sayang akan keluarga sahabat lingkungan kita tinggal dan seterusnya,memang secara teori itu gampang namun menerapkan sangatlah butuh perhatian dan ketelatenan dan secara kontinyu diperbuat minimal ucapan terima kasih yg setulusnya akan kasih Ibu yang membimbing kita dan menerapkan sifat yang mulia Beliau,sehingga lahirlah slogan"Surga ada di telapak kaki Ibu"itulah sifat kebajikan yang perlu ditauladari dari sifat Kasih sayang seorang Ibu untuk diterapkan bukan hanya sebagai simbul saja..............bukan hanya disembah saja tapi mampukah kita menerapkannya dikehidupan kita untuk saudara-saudari/sahabat,alam lingkungan dan yang lainnya................???&lt;br /&gt;
Di zaman sekarang sedikit sekali yang mempraktekkan langsung apa sebenarnya cinta kasih universal khususnya terhadap alam lingkungan yang semakin hari semakin di gerus oleh perkembangan zaman yang hanya mementingkan bisnis usaha tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh perbuatan ulah manusia yang kurang bertanggung jawab dan perduli terhadap lingkungan,seperti contoh dampak yang ditimbulkan oleh pesatnya pariwisata yang jelas-jelas telah mengekseploitasi/memeras alam lingkungan sekitar dengan dibangunnya hotel-hotel serta villa-villa yang menjamur terutama di lahan subur untuk pertanian dan ladang yang masih produktip dan layak untuk di tata ulang untuk kelangsungan hidup generasi ke depan dimana ujung-ujungnya banyak sekali terbengkalai dan merusak pemandangan alam sekitar yang dulunya sejuk dan adem sekarang menjadi gersang dan tandus. &lt;br /&gt;
Adakah yang perduli dan mau menjaga alam lingkungan kita seperti dampak negatif bencana lapindo yang berkepanjangan"hasil perbuatan siapakah itu......?itu adalah hasil dari ketamakan manusia yang hanya mengeruk keuntungan dari alam serta manusia tanpa memperhatikan dampak negatifnya terhadap umat manusia lain dan generasi ke depan dan masih banyak lagi bencana alam yang merupakan hasil perbuatan dari manusia itu sendiri.Itu adalah sebagian kecil contoh yang sudah terjadi dan belum bisa ditanggulangi.Dari segi aklak manusia di zaman ini juga mengalami kemerosotan moral seperti banyaknya pertikaian antar golongan,ras,agama,perampokan,penjarahan,pemerkosaan&amp;nbsp; serta pergolakan politik yang tidak dapat menjamin keselamatan umat manusia untuk tenang serta damai karena masih dihantui oleh perasaan was-was dan merasa tidak aman dan nyaman kemanapun pergi serta berinteraksi.Adakah orang yang mau perduli untuk semua itu dan apakah solusi untuk memperbaiki karakter-karakter manusia seperti itu,adakah yang salah dalam memberi didikan moral terhadap umat manusia.....? padahal begitu gencarnya tiap-tiap agama yang diakui pemerintah untuk mengarahkan umatnya untuk hal itu,tapi justru bertambah parah,dimanakah kekurangannya.......?semua itu kebanyakan berpengaruh dengan perekonomian negara yang tidak bisa mengkaper kebutuhan umat manusia sehingga banyak tenaga kerja kita lari ke luar negeri dari tingkat Profesor sampai tenaga kerja rendahan(TKW)yang di zaman dulu di sebut budak-budak belian,adakah yang perduli untuk perekonomian kita yang lagi di bawah,apakah solusinya..........???&lt;br /&gt;
Negara yang makmur adalah negara yang subur yang dan bisa mencukupi kebutuhan warganya,bagaimana caranya"ada slogan nenek moyang kita"belajarlah ke Negeri China untuk mensejahtrakan wargamu"....!!!&lt;br /&gt;
Dan memang betul terbukti meskipun Negara China pempunyai penduduk tertinggi di Dunia namun mampu menguasai perekonomian tingkat I Dunia.........&lt;i&gt;bersambung&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-5526626022025675064?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/5526626022025675064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/09/cinta-kasih-universal-banyak-cara-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5526626022025675064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5526626022025675064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/09/cinta-kasih-universal-banyak-cara-untuk.html' title='CINTA KASIH UNIVERSAL'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PjOMaHMZfbA/TY62_QWBHWI/AAAAAAAAAcE/_3Lgrv1CaYg/s72-c/ratu+mas+tangan+seribu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>3900 Rd, Coffeyville, KS 67337, USA</georss:featurename><georss:point>37.09024 -95.712891</georss:point><georss:box>-40.0469 102.56835899999999 90.0 66.005859</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-6923349012222761367</id><published>2011-01-24T01:41:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T01:41:56.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RIWAYAT'/><title type='text'>RAJA MAJAPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH BALI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
INILAH PRATIMA HYANG WISESA/RAJA MAOSPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH,dan lontar Raja purana dalem Majapahit untuk keberadaan dan pemeliharaan Pura Besakih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsAgo6uqWI/AAAAAAAAAaw/YdgcZMrhvsQ/s1600/Hyang+Wisesa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsAgo6uqWI/AAAAAAAAAaw/YdgcZMrhvsQ/s320/Hyang+Wisesa.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Ini perihal ketentuan dan kewajiban di pura &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Besakih&lt;/span&gt;&lt;/u&gt; &lt;/b&gt;(Gunung Agung) yang tercantum dalam Piagam Raja (Dalem). Anglurah Kebayan di Besakih dan Sedahan Ler di Selat mempunyai tugas yang sama untuk memelihara dan menegakkan piagam raja ini. Begini disebutkan, persembahan raja berupa tanah sawah untuk laba pura. Tanah itu ada di wilayah desa Tohjiwa terletak di subak Kepasekan, Bugbugan, Lenging Ogang, Lod Umah, Dauh Kutuh, jumlah semuanya berbibit 12 1/2 tenah, untuk Batara Ratu Kidul sepertiga, Batara I Dewa Bukit Pangubengan sepertiga, Batara Dewa Danginkreteg sepertiga, jadi masing-masing pura mendapat sawah berbibit 3 tenah 2 depuk. Lagi sawah untuk laba pura persembahan Dalem ke hadapan Batara di Batumadeg tanah sawah di desa Tangkup yang terletak di Jejero berbibit 5 tanah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lagi laba pura persembahan Dalem ke hadapan Batara Manik Geni berupa tanah sawah di Muncan yang terletak di Teba Kulon, Teba Lor, berbibit 4 tenah. Persembahan Dalem ke hadapan Batara Basukihan, dan Batara Tulus Dewa berupa tanah sawah di desa Klungah terletak di subak Bukihan berbibit 12 tenah yang juga dipergunakan untuk bebakaran. Untuk pesangon juru arah, pengusung Sang Hyang Siyem, Batara Rabut Paradah ialah hasil sawah di desa Macetra di sebelah selatan bukit Santap berbibit tiga setengah tenah. Ini ketentuan yang pertama. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Warga keturunan dari Majapahit yang ikut bersama Sri Kepakisan yang datang dan menjadi raja di Bali ialah keturunan warga Kanuruhan, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Sira Wang Bang. Sesudah itu Arya Kutawaringin. Pangeran Asak mengembara akhirnya sampai dan tinggal di Kapal. Di sini diangkat sebagai menantu oleh Arya Pengalasan berputra laki-laki bernama Pangeran Dauh, Pangeran Nginte dan ada pula yang wanita. Pangeran Nginte berputra Gusti Agung, Gusti di Ler. Pangeran Dauh berputra laki-laki dua orang dan wanita, yang diperistri oleh Pangeran Pande, yang tertua diperistri sepupunya, yang lebih kecil diperistri oleh Pangeran Dauh yang disebut Pangeran Srantik di Camanggawon. Keturunan Arya Kanuruhan: Pangeran Pagatepan dan Pangeran Tangkas. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pangeran Pangalasan menurunkan Srantik ini kesatria dari Majapahit bersepupu dengan keturunan Pangeran Dauh Bale Agung warga Arya Kepakisan menjadi menteri Dalem Kepakisan yang keturunannya antara lain: Pangeran Batan Jeruk, Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak. Keturunan Arya Wang Bang, Sang Penataran, Tohjiwa, Singarsa termasuk rumpun warga Pengalasan. Keturunan Arya Kenceng yaitu: Tabanan dan Badung, Keturunan Arya Belog: Buringkit dan Kaba-kaba. Keturunan Arya Wang Bang: Pring dan Cagahan Keturunan Arya Kutawaringin: Kubon Tubuh. Tiga orang wesya dari Majapahit yang bernama Tan Kober, Tan Mundur dan Tan Kawur. Keturunannya ialah Pacung, Abiansemal dan Cacahan. Pangeran Pande bersaudara dengan Pangeran Anjarame yang kawin dengan saudara Pangeran Anglurah Kanca. Mempunyai anak yang kawin dengan Pangeran Jelantik. Pangeran Pande mengambil istri ke Kapal menurunkan Arya Dauh yang ada sekarang. Dan I Gusti Agung berputra lima orang pria dan wanita tiga orang antara lain: I Gusti Kacang Pawos, I Gusti Intaran. I Gusti di Ler berputra sepuluh orang pria antara lain: I Gusti Penida dan yang wanita kawin ke Kapal (Gelgel) dengan I Gusti Kubon Tubuh. Ini merupakan mufakat dan ketulusan hati yang tersebut di atas ngemong pura-pura di Besakih. Semoga berhasil dan bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ini perihal upaya untuk menenteramkan pulau Bali supaya selamat dan selalu berpahala. Sepatutnya Nglurah Sidemen mengawasi ketentuan pura-pura seperti dahulu, tempat bersemayamnya para Dewa dan Batara. Pikiran yang tenteram dilambangkan dengan Padmasana. Padma Nglayang adalah lambang dari Gunung Agung, Gunung Batur adalah lambang dari gunung Indrakila. Di Besakih bagian selatan tempat. bersemayamnya I Dewa Kidul, bangunan gedong bertembok. Persemayaman Ida I Dewa Manik Mas meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Bangun Sakti meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Ulun Kulkul meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Jero Dalem meru bertingkat satu bertiang empat dan persemayaman I Dewa Empu Anggending sebuah gedong. Persemayaman Batara Sri meru bertingkat satu bertiang empat, persemayaman Batara Basukihan meru bertingkat tujuh. Persemayaman Batara Pangubengan meru bertingkat sebelas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Penataran, persemayaman I Dewa Atu sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Paninjoan sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Mas Mapulilit meru bertingkat sebelas. Ini semua terletak di Penataran Agung. Lengkap dengan tempat jempana semua pura terutama sekali bangunan Sanggar Agung. Bale Agung yang terdiri dari sebelas ruangan, sebuah Kori Agung, di luar pintu gerbang ada dua balai bertiang delapan dan candiraras mengapit pintu gerbang. Perihal persemayaman I Dewa Tegal Besung sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Samplangan sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Enggong sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Sagening sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Made sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pacekan sebuah meru bertingkat satu berbentuk gedong. Persemayaman Pangeran Tohjiwa sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pasek sebuah meru bertingkat tiga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya tentang bale mandapa tempat peristirahatan Dalem didampingi oleh Nglurah Sidemen. Dalem seyogyanya mengetahui semua bangunan suci yang ada di pura Batumadeg yang diemong oleh I Dewa Den Bancingah bersama para Arya dan masyarakat di sebelah barat sungai Telagadwaja supaya dalam keadaan baik semuanya. ini ketentuan mengenai persemayaman para Dewa yang diemong oleh Anglurah Sidemen bersama para Arya dan masyarakat desa di sebelah timur sungai Telagadwaja yaitu: Persemayaman I Dewa Gelap sebuah meru bertingkat tiga bertembok berdinding. Persemayaman I Dewa Bukit bersama permaisuri sebuah meru bertingkat satu bertembok. Persemayaman I Dewa Ratu Magelung meru bertingkat tiga bertembok. Persemayaman I Dewa Wisesa sebuah meru bertingkat sebelas dan sebuah candi raras yang merupakan pintu/jalan keluar masuk I Dewa Bukit. Persemayaman Sang Hyang Dedari sebuah balai bertiang empat yang dibuat dari kayu cendana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Persemayaman I Dewa Tureksa sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Maspahit sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Manik Makentel sebuah meru bertingkat sebelas, sebuah balai Panggungan beratap ijuk lengkap dengan kain busana, sebuah balai Manguntur. sebuah balai Sumangkirang beratap ijuk. Di luar pintu gerbang dua buah balai Ongkara mengapit pintu. Dan juga dua buah balai Majalila beratap ijuk berhadap-hadapan. Persemayaman I Dewa Manik Geni sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Penataran sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Hyangning Made Gunung Agung sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Gusti Hyang sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman Ida Hyang Antiga sebuah meru bertingkat satu. Persemayaman I Dewa Hyangning Teges sebuah meru bertingkat satu, semuanya beratap ijuk dan berdinding. Ini bagian yang diemong oleh Anglurah Sidemen. Semua bangunan suci yang berada di Penataran Agung juga menjadi tanggungjawab raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan lagi bangunan suci di pura Dangin Kreteg ditetapkan diemong oleh Arya Karangasem. Demikianlah semua bangunan suci yang tertulis dalam piagam. Dan untuk selanjutnya tentang upakara dan upacara besar maupun kecil menjadi tanggungjawab Anglurah Sidemen, juga mengenai kain-busana usungan para Dewa dan alat-alat perhiasan lainnya dibiayai dengan hasil tanah di Bebandem, Cacakan, Pajegan, Gantalan. Ini harus diingat / diperhatikan oleh Anglurah Sidemen, perlengkapan usungan para Dewa selengkapnya dan kewajiban para pemegang sawah milik raja. Begini anugerah Batara Maospahit. "Wahai turunanku raja Majapahit yang kuberikan gelar Ratu Kepakisan yang menjadi raja Bali, turun temurun harus mentaati dan menghormati piagam ini. Pegang dengan teguh piagam ini dan sebar luaskan di Bali. Dibantu oleh keturunan para Arya yang mengiring dan para punggawa yakni: Arya Kanuruhan, Kenceng, Belog. Delancang. Dan berikutnya warga Wang Bang yang juga turunan Brahmana yang ikut bersama-sama mengarungi samudra dan warga Kuta Waringin. Kepada Sira Wang Bang saya tugaskan menuju Gunung Agung (Besakih) supaya bersama-sama dengan Sang Kul Putih mohon anugerah ke hadapan Dewa (mengabdikan diri ke hadapan para Dewa) langsung sampai ke puncak Gunung Agung. Maka mulai sekarang Sira Wang Bang bersama Sang Mangku Gunung Agung. Sira Wang Bang bertugas menjaga arca Dewa dan piagam Raja yang turun dari Kahyangan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ini semua hendaknya diemong selama-lamanya, turun temurun. Aku mengatur / menentukan pemujaan kepada para Dewa dan lanjut upacara pengodalan pada hari Rabu Wage, wuku Kulawu, upacara pemujaan setiap hari purnama dan tilem (bulan gelap) Oktober. Nopember. April, Juli. pada saat itulah raja datang bersembahyang ke Besakih bersama para pendeta dan pasukan. Aku memberi ijin untuk mengambil hasil bumi, udara, tegalan dan sawah di desa-desa, hasil pantai, laut dan gunung di sebelah &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
timur sungai Telagadwaja. Terutama hasil tegal dan sawah bukti di desa Muncan. Jumlah uang tujuh belas ribu dan sawah berbibit delapan puluh lima tenah, sebagai biaya dapur dan isi lumbung agung, Sawah-sawah itu terletak di Bukih, Pedengdengan Kelod, sampai ke Keben Aras yang bernama Tinggarata. Pahyasan, Sari, Gunung Sari Lebih, dikenakan bawang putih 2200 biji dan lagi hasil bumi Selat. Ingat barang-barang itu sebagai pengisi lumbung agung yang terletak di halaman luar pura Besakih tempat hasil sawah laba itu seharga 1700. Lumbung itu milik raja dan lumbung pajenengan Batara di Gunung Agung (Besakih). Kalau sudah demikian stabillah persemayaman Dewa dan kedudukan raja. Kalau lumbung Dewa dan milik raja rusak maka diwajibkan desa harus memperbaiki lumbung itu dan mengatapi sampai selesai. Raja memberikan kuasa kepada semua penghulu desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peringatan kepada Sedahan Penyarikan: supaya menaikkan padi ke lumbung terutama hasil sawah Santen Dawa Higa yang dipergunakan untuk biaya upacara di pura Besakih dan Batara di puncak Gunung Agung. Bahan upakara itu dibebankan kepada masyarakat desa Sikuhan, Renaasih, Luwih, Suarga Peleng, masing-masing 500 biji dasun putih beserta uang dan ayam putih jantan betina, bunga palawa, bunga kasna yang bunganya melekat menjadi satu dan cemara tiblun. Ini harus dibawa setiap hari Kamis Paing wuku Wayang dan Minggu Paing Dungulan ke halaman luar pura Besakih diterimakan kepada Sedahan Dewa. Jangan lalai jangan alpa dan jangan curang. Ini adalah persembahan raja kepada para Dewa dan Batara yang bersemayam di puncak Gunung Agung. Batara bersabda, "Hai kamu manusia taatilah titahku! Piagam ini telah direstui oleh para Dewa Nawasanga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika tidak mentaati Piagam ini semoga kamu sirna dan menjadi lintah". Ini Piagam tahun 1007 Masehi (929 Saka). Om Namobhye namah, Om Sri wastha sattawasar. Raja Majapahit kabarnya dalam keadaan berbaring. Pada waktu itulah Prasasti yang berupa Piagam ini dikeluarkan. Aku adalah Batara Indra, aku ini adalah Batara Maospahit dan aku raja Majapahit bersama-sama bersemayam di pulau Bali. Diceritakan sekarang Dalem Pakisan yang menurunkan raja Bali. Karena ketulusan hati dan kebijaksanaan beliau ibarat Sang Hyang Darma menjadi raja yang dapat mengalahkan raja Bali yang terdahulu. Dan Sira Wang Bang yang mengabdikan diri kepada Batara di Besakih juga mengemong pura tempat bersemayamnya Batara Naga Basukih. Demikianlah kewajibannya selama hidup serta para turunannya mengabdi mempersembahkan air suci. Sira Wang Bang mengantarkan persembahan raja ke hadapan Batara di Kahyangan tatkala bersembahyang ke hadapan yang bersemayam di puncak Gunung Agung dan Batara Pusering Tasik (Tengah samudra) dan lautan madu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku mengambil hasil bumi dan angkasa, segala jenis hasil pesisir, lautan dan gunung untuk biaya upacara ke hadapan Batara di Besakih (gunung Agung). Berkat anugerah Batara masyarakat bersatu mematuhinya akibatnya bumi pun makmur. Para Arya semua bersatu yaitu: Arya Kanuruhan, Arya Kenceng, Delancang, Arya Belog, Arya Kuta Waringin. Sabda Batara, "Hai kamu manusia mayapada, jangan engkau durhaka kepadaku. Jika engkau tidak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman para Dewa masing-masing dan kalau ada yang rusak tidak kamu perbaiki, tidak bakti, semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita serta jauh dari keselamatan". Sabda Batara Nawasanga kepada para umat penganut Siwa dan Buda dan para catur wangsa supaya memelihara dan memperbaiki kerusakan pura di Besakih. Apabila waktu bersembahyang melihat warna seperti ijuk sekakab (segabung), itu pertanda turunnya Batara Kidul Bangun Sakti. Ucapkan mantra: Ong, Bang, I, namah. manifestasi Sang Hyang Antaboga yang bersemayam di samudra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kalau kelihatan seperti air tenang itu pertanda turunnya I Dewa Bukit. Ucapkan mantra: Ong, Yang, Ung, namah. ltulah manifestasi Batara Duhuring Akasa / Batara Naga Basukih. Kalau kelihatan ada cahaya seperti api menyala dan gemerlapan, itu pertanda turunnya Batara Atu. Ucapkan mantra: Ongkara Siwa namah swaha. Manifestasi Sang Hyang Siwa. Apabila kelihatan warna putih berkilau-kilauan itu pertanda turunnya I Dewa Sesa. Ucapkan mantra: Ong, Saswara Indra nama swaha. Manifestasi Sang Hyang Surya. Tampak cahaya berwarna merah itu pertanda turunnya I Dewa Rabut Pradah. Ucapkan mentera: Ong, Bang Yudhaya namah swaha. Manifestasi Batara Brahma. Kelihatan cahaya berwarna kuning seperti emas wilis itu pertanda turunnya Batara Maospahit. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Tang namah swaha. Manifestasi Batara Wulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelihatan. cahaya seperti kaca hitam itu pertanda turunnya Batara Batu Madeg. Ucapkan mentera: Ong, Ang, Ung. Kresnaya nama swaha. Manifestasi Batara Wisnu. Kelihatan cahaya seperti perak bertatahkan permata mirah itu pertanda turunnya Batara Basukihan. Ucapkan mentera: Ong, Mang, Siwaya namah swaha. Manifestasi Sang Agawe Pita. Kelihatan cahaya seperti mirah dan intan yang telah digosok itu pertanda turunnya I Dewa Mas Makentel. Ucapkan mentera: Ong, Mang. Siwaya namah swaha. Manifestasi Batara Rabut Sedana Sakti. Kelihatan cahaya seperti air embun seperti permata jamrut itu pertanda turunnya I Dewa Manik Malekah. Ucapkan mentera: Ong, Sang Bhawantu Sri ya namah. Manifestasi Batara Sri. Kelihatan cahaya seperti bunga teleng gemerlapan itu pertanda turunnya Batari Pertiwi. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Sri Sundharu ya namah. Manifestasi Batari Kuwuh/Batari Sundhari. Beliaulah yang menciptakan yang indah-indah dan benda-benda berharga dan persemayaman beliau tiada taranya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelihatan cahaya seperti kunang-kunang bertaburan itu pertanda turunnya I Dewa Geni / I Dewa Gelap. Ucapkan mentera: Ong Sa, Ba, Ta, nama siwaya. Beliau berwujud baik buruk, bumi dan angkasa. Kelihatan cahaya gelap gulita itu pertanda turunnya Batara Gangga di sebelah selatan Besakih menjadi mata air yang dinamakan Sindu Tunggang. Kisah kenyataan. Kelihatan cahaya gelap gulita turun Batari Gangga di sebelah utara Besakih: menjadi mata air yang dinamakan Sang Hyang Tirta Sakti Amerta. Demikianlah kisah semua mata air pada tahun 122 M. Turun Batara Indra dan membawanya ke Surga. Ini disebut Brahma Tirta terjadi pada tahun 126 Masehi. Turun pada waktu gelap gulita hujan angin kelihatan seperti mas berpermata intan dan terdengar seperti suara gentaworag para Mpu mengalun. Ucapkan mentera: Ong, Nang, Ung, Nang, Ung. Turunlah arca mas bermuka empat, arca perak, tembaga, loyang, besi. Semua bertatahkan permata mirah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Turun pada waktu malam hari disertai topan dan hujan itu pertanda turunnya Sang Hyang Siyem berwarna putih kehijau-hijauan dan Sang Hyang Rabut Pradah diiringi dengan tabuh-tabuhan dengdengkuk. Untuk mengingatkan raja supaya bersembahyang ke Besakih bersama para Arya serta rakyatnya mempersembahkan upacara. Semua mengiring malasti ke pancuran Pamanca (Arca) pada paruh bulan terang dengan kurban berupa babi guling 5, suci, dan lis. Di Pulo Jelepung sawah berbibit dua tenah dan lagi di Kinang sawah berbibit dua setengah tenah di Balu Agung Jelantik sawah berbibit empat tenah di Batu Mangecek berbibit empat tenah. Lagi sawah di daerah Tusan yang terletak di Jati Heling berbibit dua tenah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada abad XIII berdirilah Dinasti Majapahit dimana terjadi perkawinan Brahmaraja&amp;nbsp; I dengan putri Kerajaan Miao Li yaitu Yu Lan(Dara Jingga)putri ke II,juga pendiri Majapahit yakni Prabu Wisnu Wardana memperistri putri Raja Miao LI yang pertama yaitu Yu Lin(Dara Petak).Hyang Wisesa/Brahmaraja I Raja Jenggala sebelum diabisheka bernama “Jayasaba”sedangkan kakaknya sebelum diabhiseka Raja Kadiri bernama “Jayabaya”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Kenapa hanya Brahmaraja I saja yang di buatkan pelinggih di Pura terbesar di Besakih karena sebagian besar &amp;nbsp;anak-anak beliau sudah pindah ke Bali yaitu yang dikenal dengan “ Sapta Arya”ditugaskan menjadi Anglurah di tiap-tiap Kadipaten/kabupaten di Bali membantu Pamannya “Sri Kresna Kepakisan(Raja Bali)”demi kelancaran pemerintahan Beliau,sedangkan anak yang paling sulung masih di Jawa meneruskan kerajaan di Jenggala yaitu Arya Cakradara mengawini Ratu Tri Bwana Tungga Dewi(Raja III).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Sedangkan kakaknya Raja Kadiri Prabu Wisnu Wardana/Jayabaya yang menurunkan Raja-Raja di Jawa di buatkan pelinggih berupa Candi Megah&amp;nbsp; di zaman itu disesuaikan dengan adat tanah Jawa yang mana semua Palinggih Raja disemayamkan di Candi yang megah(lihat sejarah Nagarakertagama).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Hyang Wisesa di Jawa bergelar Hyang Indra karena Beliau ahli di bidang perang yang sering disebut Dewa Perang,Beliaulah yang mahir dalam taktik Peperangan di zaman itu dan mahir dengan segala senjata sehingga anak-anaknya mewarisinya sampai keturunannya sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsBNLkzRlI/AAAAAAAAAa4/QKS2eEfun78/s1600/Pandito+Ratu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsBNLkzRlI/AAAAAAAAAa4/QKS2eEfun78/s320/Pandito+Ratu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Yaitu &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sri Wilatikta Brahmaraja XI&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Abisheka Raja Majapahit Suryadiningrat)yaitu keturunan dari anak pertama beliau yang masih tinggal di jawa meneruskan kerajaan di jawa/Puri Jenggala,Tulung Agung &amp;nbsp;yaitu dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;trah ARYA CAKRADARA BERISTRI RATU TRI BWANA TUNGGA DEWI(Raja III).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Adapun pelinggih semua Kawitan Orang Bali dan Jawa di Pusatkan di Pura Majapahit Pusat Trowulan di sebelah utara kolam Segaran di sana terpampang semua soroh/klan dari Hyang Pasupati(Purusha)dan Hyang Bhatari Gangga(Predhana) menurunkan Raja Jawa-Bali/ Dalem,Ratu Pasek,Ratu Kepandean,dsb dst,tertulis dengan gamlang dengan Prasasti berupa lempengan emas.Sehingga Pura Majapahit Pusat Trowulan merupakan Pura Bibit Kawit/Kawitan Pertama orang Jawa dan Bali yang menyebar sesuai perkembangan zaman ekspedisi/eksodus untuk mencari daerah baru yang lebih eksis untuk keturunan selanjutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Yang mana daerah ini dulunya merupakan bekas Pusat Kerajaan Jawa yang sudah mendunia sampai ke mancanegara yang sering di sebut Nusantara di zaman itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Daerah kekuasaannya mencakup Thailand,siam,Burma,Malaysia,madagaskar(Nagarakertagama).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Sehingga Ageman Leluhur kita dari dulu adalah Ageman Siwa Budha/Purusha Predhana/Pertiwi Akasa/Bumi Langit/Lingga Yoni yang sering disebut Kawitan kita “Shanghyang Sangkan Paraning Dumadi”sehingga Leluhur kita dulu bisa mencapai Moksah/Mokswa karena mampu menerapkan Ageman yang tidak ada duanya di Dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
Di zaman sekarang orang-orang belum bisa menerapkan karena tercemari&amp;nbsp; oleh pengaruh ageman lain yang sering mengambil jalan singkat bahkan mengajarkan “pengampunan Dosa”sedangkan yang namanya dosa tetap dosa ,yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah sesuai hukum karmapala,inilah keunikan Leluhur kita yang sulit diterapkan oleh ageman lain sehingga mencari jalan pintas langsung menuju jalan tol alternative langsung menuju Tuhan tanpa melalui tingkatan yang ada yaitu Leluhur Kawitan sesuai tingkatan-tingkatannya.&lt;/div&gt;
Keunikan Bali yang lain bisa dilihat lewat bagaimana manusia Bali melakukan pembinaan kekerabatan secara lahir dan batin. Manusia Bali begitu taat untuk tetap ingat dengan asal muasal darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian melahirkan berbagai golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa atau soroh. Begitu banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki tempat pemujaan keluarga secara tersendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tatanan masyarakat berdasarkan soroh ini begitu kuat menyelimuti aktivitas kehidupan manusia Bali. Mereka tetap mempertahankan untuk melestarikan silsilah yang mereka miliki. Mereka dengan seksama dan teliti tetap menyimpan berbagai prasasti yang didalamnya berisi bagaimana silsilah sebuah keluarga Bali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Beberapa soroh yang selama ini dikenal misalnya Warga Pande, Sangging, Bhujangga Wesnawa, Pasek, Dalem Tarukan, Tegeh Kori, Pulasari, Arya, Brahmana Wangsa, Bali Aga dan lainnya. Semuanya memiliki sejarah turun-temurun yang berbeda. Meski begitu, akhirnya mereka bertemu dalam siklus keturunan yang disebut Hyang Pasupati. Begitu unik dan menarik memahami kehidupan manusia Bali dalam kaitan mempertahankan garis leluhurnya tersebut. Sebagian kehidupan ritual mereka juga diabdikan untuk kepentingan pemujaan terhadap leluhur mereka &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;Iden&lt;span style="color: red;"&gt;tifikasi Orang &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bali&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Suku bangsa Bali merupakan kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran tersebut, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi serta perbedaan setempat. Agama Hindhu yang telah lama terintegrasikan ke dalam masyarakat Bali, dirasakan juga sebagai unsur yang memperkuat adanya kesadaran kesatuan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa&amp;nbsp; di berbagai daerah di Bali dalam jaman Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat Bali, yaitu masyarakat Bali - Aga dan masyarakat Bali Majapahit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masyarakat Bali Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa&amp;nbsp; dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, pedawa, Tiga was, di Kabupaten Buleleng dan desa tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Orang Bali Majapahit yang pada umumnya diam didaerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pulau Bali yang luasnya 5808,8 Km2 dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga membentuk dataran yang agak sempit. di sebelah utara., dan dataran yang lebih besar disebelah selatan. Pegunungan tersebut yang sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba, mempunyai arti yang penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. di wilayah pegunungan itulah terletak Parahyangan (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru, dan yang terutama sekali Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sedangkan arah membujur dari gunung tersebut telah menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang Bali utara dan Orang Bali selatan. Dalam Bahasa Bali, kaja berarti ke gunung, dan kelod berarti ke laut. Untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan, sedangkan untuk orang Bali selatan kaja berarti utara. Sebaliknya kelod untuk orang Bali utara berarti utara, dan untuk orang bali selatan berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali, tapi juga dalam aspek kesenian dan juga sedikit aspek bahasa. Konsep kaja kelod itu nampak juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara agama, letak susunan bangunan-bangunan rumah suci dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya, maka bahsa Bali tak jauh berbeda dari bahsa Indonesia lainnya. Peninggalan prasasti zaman kuno menunjukkan adanya&amp;nbsp; suatu bahasa Bali kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno tersebut disamping banyak mengandung bahasa Sansekerta, pada masa kemudiannya juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit, ialah jaman waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata hormat", walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (bahasa halus) dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi. Di Bali juga berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik dalam bentuik puisi maupun prosa. Disamping itu sampai saat ini di bali didapati juga sejumlah hasil kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) dalam bentuk prosa maupun puisi yang dibawa ke Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sistem Kekerabatan Orang Bali&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem warna(wangsa), maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat dalam warna. Demikian, perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen, sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih Kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. Keadaan ini memang menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen, yang pada umumnya bersifat exogam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Orang-orang se-klen di Bali itu, adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama, dan demikian juga dalam warna, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar warna yang berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari warna yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat warnanya, karena perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta menjatuhkan gengsi dari seluruh warna dari anak wanita tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dahulu, apabila ada perkawinan semacam itu, maka wanitannya akan dinyatakan keluar dari dadianya, dan secara fisik suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama, ketempat yang jauh dari tempat asalnya. Semenjak tahun 1951, hukuman sermacam itu tidak pernah dijalankan lagi, dan pada saat ini hukuman campuran semacam itu relatif lebih banyak dilaksanakan. Bentuk perkawinan lain yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (makedengan ngad), karena perkawinan yang demikian itu dianggap dapat mendatangkan bencana (panes). Pada umumnya, seorang pemuda Bali memperoleh seorang istri dengan dua cara, yaitu dengan meminang (memadik, ngidih) kepada keluarga gadis, atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat,ngrorod). Kedua cara diatas berdasarkan adat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sesudah pernikahan, suami-istri yang baru biasanya menetap secara virilokal dikomplek perumahan dari orang tua suami, walapun tidak sedikit suami istri yang menetap secara neolokal dengan mencari atau membangun rumah baru. Sebaliknya ada pula suami istri baru yang menetap secara uxorilokal dikomplek perumahan dari keluarga istri (nyeburin). Kalau suami istri menetap secara virilokal, maka anak-anak keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa), dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen tersebut. Sebaliknya, keturunan dari suami istri yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si istri, dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si istri adalah sebagai sentana predhana(penerus keturunan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami, sering ditambah dengan anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan orang lain yang menumpang, baik orang yang masih kerabat maupun orang yang bukan kerabat. Beberapa waktu kemudian terdapat anak laki-laki yang sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mampu untuk berdiri sendiri, memisahkan diri dari orang tua dan mendirikajn rumah tangga sendiri yang baru. Salah satu anak laki-laki biasanya tetap tinggal di komplek perumahan orang tua (ngerob), untuk nanti dapat membantu orang tua mereka kalau sudah tidak berdaya lagi dan untuk selanjutnya menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas, dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Strutur tunggal dadia ini berbeda-beda di berbagai tempat di Bali. Di desa-desa pegunungan, orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal, tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. didesa-desa tanah datar, orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan mendirikan tempat pemujaan di masing-nasing kediamannya, yang disebut kemulan taksu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Disamping itu, keluarga batih yang hidup neolokal masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap kuil asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka.Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya, dan dengan demikian pura/kuil tersebut mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritet anggota-anggota dari suatu klen kecil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja kawitan leluhur yang sama disebut kelenteng (pura) paibon atau panti. Dalam prakteknya, suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal-usul yang ditulis dalam bentuk babad dan prasasti yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarga yang merasa dirinya senior, ialah keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sistem Kemasyarakatan Orang Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banjar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan sosial itu diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara keagaman yang keramat. Didaerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya terbatas pada orang yang lahir di wilayah banjar tersebut. Sedangkan didaerah datar, sifat keanggotaannya tidak tertutup dan terbatas kepada orang-orang asli yang lahir di banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah lain dan kebetulan menetap di banjar bersangkutan dipersilakan untuk menjadi anggota(krama banjar) kalau yang bersangkutan menghendaki. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pusat dari&amp;nbsp; banjar adalah Bale banjar, dimana warga banjar bertemu pada hari-hari yang tetap. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut Kelian banjar. Ia dipilih dengan masa jabatab tertentu oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dari banjar sebagai suatu komuniti, tapi juga lapangan kehidupan keagamaan. Kecuali itu ia juga harus memecahkan masalah yang menyangkut Desa adat. Kadang kelian banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan administrasi pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Subak &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Subak di Bali seolah-olah lepas dari dari Banjar dan mempunyai kepala sendiri. Orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama dengan orang yang menjadi anggota banjar. Warga subak adalah pemilik atau para penggarap sawah yang yang menerima air irigasinya dari dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Sudah tentu tidak semua warga subak tadi hidup dalam suatu banjar. Sebaliknya ada seorang warga banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan mendapat air irigasi dari bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Dengan demikian warga banjar tersebtu akan menggabungkan diri dengan semua subak dimana ia mempunya sebidang sawah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sekaha &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali, ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus, ialah sekaha. organisasi ini bersifat turun-temurun, tapi ada pula yang bersifat sementara. Ada sekaha yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenan dengan desa, misalnya sekaha baris/sanggar tari Baris (perkumpulan tari baris), sekaha teruna-teruni. Sekaha tersebut sifatnya permanen, tapi ada juga sekaha yang sifatnya sementara, yaitu sekaha yang didirikan berdasarkan atas suatu kebutuhan tertentu, misalnya sekaha memula (perkumpulan menanam), sekaha manyi (perkumpulan menuai), sekaha gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. sekaha-sekaha di atas biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi banjar maupun desa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gotong - Royong&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat Bali dikenal sistem gotong royong (nguopin) yang meliputi lapangan-lapangan aktivitas di sawah (seperti menanem, menyiangi, panen dan sebagainya), sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainya), dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga, atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. nguopin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib dibalas dengan bantuan tenaga juga. kecuali nguopin masih ada acara gotong royong antara sekaha dengan sekaha. Cara serupa ini disebut ngedeng (menarik). Misalnya suatu perkumpulan gamelan ditarik untuk ikut serta dalam menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. bentuk yang terakhir adalah kerja bhakti (&lt;b&gt;ngayah&lt;/b&gt;) untuk keperluan agama,masyarakat maupun pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kesatuan-kesatuan sosial di atas, biasanya mempunyai pemimpin dan mempunyai kitab-kitab peraturan tertulis yang disebut awig-awig atau sima. Pemimpin biasanya dipilih oleh warganya. Klen-klen juga mempunyai tokoh penghubung yang bertugas memelihara hubungan antara warga-warga klen, menjadi penasehat bagi para warga mengenai seluk beluk adat dan peristiwa-peristiwa yang bersangkaut paut dengan klen. Tokoh klen serupa itu di sebut moncol. Klen tersebut tidak mempunyai peraturan tertulis, akan tetapi mempunya silsilah/babad. Ditingkat desa ada kesatuan-kesatuan administratif yang disebut perbekelan. Suatu perbekelan yang sebenarnya merupakan warisan dari pemerintah Belanda, diletakkan diatas kesatuan-kesatuan adat yang asli di Bali, seperti desa adat dan banjar. Maka terdapatlah gabungan-gabungan dari banjar dan desa ke dalam suatu perbekelan yang dipimpin oleh perbekel atau bendesa yang secara administratif bertanggung jawab terhadap atasannya yaitu camat, dan seterusnya camat bertanggung jawab kepada bupati.dst dsb. &lt;/span&gt;(sebagian teks diambil dari babad Bali di tambah babad Jawa/Majapahit).&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-6923349012222761367?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/6923349012222761367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/raja-majapahit-yang-distanakan-di-pura_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/6923349012222761367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/6923349012222761367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/raja-majapahit-yang-distanakan-di-pura_24.html' title='RAJA MAJAPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH BALI'/><author><name>News abad-21</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04862393535581419728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsAgo6uqWI/AAAAAAAAAaw/YdgcZMrhvsQ/s72-c/Hyang+Wisesa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-8285537603463721337</id><published>2011-01-22T08:18:00.001-08:00</published><updated>2011-09-11T19:28:05.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RIWAYAT'/><title type='text'>RAJA MAJAPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH BALI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h2
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 2 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:10.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:2;
	font-size:13.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;}
span.Heading2Char
	{mso-style-name:"Heading 2 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 2";
	mso-ansi-font-size:13.0pt;
	mso-bidi-font-size:13.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	font-weight:bold;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsAgo6uqWI/AAAAAAAAAaw/YdgcZMrhvsQ/s1600/Hyang+Wisesa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsAgo6uqWI/AAAAAAAAAaw/YdgcZMrhvsQ/s320/Hyang+Wisesa.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;INILAH PRATIMA HYANG WISESA/RAJA MAOSPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH,dan lontar Raja purana dalem Majapahit untuk keberadaan dan pemeliharaan Pura Besakih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="margin-left: -7.55pt; width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 91.32%;" width="91%"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsA3AHBnwI/AAAAAAAAAa0/R56qMcKVGgQ/s1600/Palinggih+Brahmaraja+I.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsA3AHBnwI/AAAAAAAAAa0/R56qMcKVGgQ/s320/Palinggih+Brahmaraja+I.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Ini       perihal ketentuan dan kewajiban di pura &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Besakih&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;       &lt;/b&gt;(Gunung Agung) yang tercantum dalam Piagam Raja (Dalem). Anglurah       Kebayan di Besakih dan Sedahan Ler di Selat mempunyai tugas yang sama       untuk memelihara dan menegakkan piagam raja ini. Begini disebutkan,       persembahan raja berupa tanah sawah untuk laba pura. Tanah itu ada di       wilayah desa Tohjiwa terletak di subak Kepasekan, Bugbugan, Lenging       Ogang, Lod Umah, Dauh Kutuh, jumlah semuanya berbibit 12 1/2 tenah, untuk       Batara Ratu Kidul sepertiga, Batara I Dewa Bukit Pangubengan sepertiga,       Batara Dewa Danginkreteg sepertiga, jadi masing-masing pura mendapat       sawah berbibit 3 tenah 2 depuk. Lagi sawah untuk laba pura persembahan       Dalem ke hadapan Batara di Batumadeg tanah sawah di desa Tangkup yang       terletak di Jejero berbibit 5 tenah. Lagi laba pura persembahan Dalem ke       hadapan Batara Manik Geni berupa tanah sawah di Muncan yang terletak&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         2a&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;di       Teba Kulon, Teba Lor, berbibit 4 tenah. Persembahan Dalem ke hadapan       Batara Basukihan, dan Batara Tulus Dewa berupa tanah sawah di desa       Klungah terletak di subak Bukihan berbibit 12 tenah yang juga       dipergunakan untuk bebakaran. Untuk pesangon juru arah, pengusung Sang       Hyang Siyem, Batara Rabut Paradah ialah hasil sawah di desa Macetra di       sebelah selatan bukit Santap berbibit tiga setengah tenah. Ini ketentuan       yang pertama. Warga keturunan dari Majapahit yang ikut bersama Sri       Kepakisan yang datang dan menjadi raja di Bali ialah keturunan warga       Kanuruhan, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Sira Wang Bang.       Sesudah itu Arya Kutawaringin. Pangeran Asak mengembara &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         2b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;akhirnya       sampai dan tinggal di Kapal. Di sini diangkat sebagai menantu oleh Arya       Pengalasan berputra laki-laki bernama Pangeran Dauh, Pangeran Nginte dan       ada pula yang wanita. Pangeran Nginte berputra Gusti Agung, Gusti di Ler.       Pangeran Dauh berputra laki-laki dua orang dan wanita, yang diperistri       oleh Pangeran Pande, yang tertua diperistri sepupunya, yang lebih kecil       diperistri oleh Pangeran Dauh yang disebut Pangeran Srantik di       Camanggawon. Keturunan Arya Kanuruhan: Pangeran Pagatepan dan Pangeran       Tangkas. Pangeran Pangalasan menurunkan: &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         3a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Srantik       ini kesatria dari Majapahit bersepupu dengan keturunan Pangeran Dauh Bale       Agung warga Arya Kepakisan menjadi menteri Dalem Kepakisan yang       keturunannya antara lain: Pangeran Batan Jeruk, Pangeran Nyuh Aya,       Pangeran Asak. Keturunan Arya Wang Bang, Sang Penataran, Tohjiwa,       Singarsa termasuk rumpun warga Pengalasan. Keturunan Arya Kenceng yaitu:       Tabanan dan Badung, Keturunan Arya Belog: Buringkit dan Kaba-kaba.       Keturunan Arya Wang Bang: Pring dan Cagahan Keturunan Arya Kutawaringin:       Kubon Tubuh. Tiga orang wesya dari &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         3b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Majapahit       yang bernama Tan Kober, Tan Mundur dan Tan Kawur. Keturunannya ialah       Pacung, Abiansemal dan Cacahan. Pangeran Pande bersaudara dengan Pangeran       Anjarame yang kawin dengan saudara Pangeran Anglurah Kanca. Mempunyai       anak yang kawin dengan Pangeran Jelantik. Pangeran Pande mengambil istri       ke Kapal menurunkan Arya Dauh yang ada sekarang. Dan I Gusti Agung       berputra lima orang pria dan wanita tiga orang antara lain: I Gusti       Kacang Pawos, I Gusti Intaran. I Gusti di Ler berputra sepuluh orang pria       antara lain: I Gusti Penida dan yang wanita kawin ke Kapal (Gelgel)       dengan I Gusti Kubon Tubuh. Ini merupakan mufakat dan ketulusan hati yang       tersebut di atas ngemong pura-pura di Besakih. Semoga berhasil dan       bahagia.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         4a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Ini       perihal upaya untuk menenteramkan pulau Bali supaya selamat dan selalu       berpahala. Sepatutnya Nglurah Sidemen mengawasi ketentuan pura-pura       seperti dahulu, tempat bersemayamnya para Dewa dan Batara. Pikiran yang       tenteram dilambangkan dengan Padmasana. Padma Nglayang adalah lambang       dari Gunung Agung, Gunung Batur adalah lambang dari gunung Indrakila. Di       Besakih bagian selatan tempat. bersemayamnya I Dewa Kidul, bangunan       gedong bertembok. Persemayaman Ida I Dewa Manik Mas meru bertingkat satu       bertiang empat. Persemayaman I Dewa Bangun Sakti meru bertingkat satu       bertiang empat. Persemayaman I Dewa Ulun Kulkul meru bertingkat satu       bertiang empat. Persemayaman I Dewa Jero Dalem meru bertingkat satu       bertiang empat dan persemayaman I Dewa Empu Anggending sebuah gedong.       Persemayaman Batara Sri meru bertingkat satu bertiang empat, persemayaman       Batara Basukihan meru bertingkat tujuh. Persemayaman Batara Pangubengan       meru bertingkat sebelas.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         4b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Di       Penataran, persemayaman I Dewa Atu sebuah meru bertingkat sebelas.       Persemayaman I Dewa Paninjoan sebuah meru bertingkat sembilan.       Persemayaman I Dewa Mas Mapulilit meru bertingkat sebelas. Ini semua       terletak di Penataran Agung. Lengkap dengan tempat jempana semua pura       terutama sekali bangunan Sanggar Agung. Bale Agung yang terdiri dari       sebelas ruangan, sebuah Kori Agung, di luar pintu gerbang ada dua balai       bertiang delapan dan candiraras mengapit pintu gerbang. Perihal       persemayaman I Dewa Tegal Besung sebuah meru bertingkat sebelas.       Persemayaman I Dewa Samplangan sebuah meru bertingkat sembilan.       Persemayaman I Dewa Enggong sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I       Dewa Sagening sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Made       sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pacekan sebuah meru bertingkat       satu berbentuk gedong. Persemayaman Pangeran Tohjiwa sebuah meru       bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pasek sebuah meru bertingkat tiga.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         5a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Selanjutnya       tentang bale mandapa tempat peristirahatan Dalem didampingi oleh Nglurah       Sidemen. Dalem seyogyanya mengetahui semua bangunan suci yang ada di pura       Batumadeg yang diemong oleh I Dewa Den Bancingah bersama para Arya dan       masyarakat di sebelah barat sungai Telagadwaja supaya dalam keadaan baik       semuanya. ini ketentuan mengenai persemayaman para Dewa yang diemong oleh       Anglurah Sidemen bersama para Arya dan masyarakat desa di sebelah timur       sungai Telagadwaja yaitu: Persemayaman I Dewa Gelap sebuah meru       bertingkat tiga bertembok berdinding. Persemayaman I Dewa Bukit bersama       permaisuri sebuah meru bertingkat satu bertembok. Persemayaman I Dewa       Ratu Magelung meru bertingkat tiga bertembok. Persemayaman I Dewa Wisesa       sebuah meru bertingkat sebelas dan sebuah candi raras yang merupakan       pintu/jalan keluar masuk I Dewa Bukit. Persemayaman Sang Hyang Dedari       sebuah balai bertiang empat yang dibuat dari kayu cendana.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         5b&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Persemayaman       I Dewa Tureksa sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Maspahit       sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Manik Makentel sebuah       meru bertingkat sebelas, sebuah balai Panggungan beratap ijuk lengkap       dengan kain busana, sebuah balai Manguntur. sebuah balai Sumangkirang       beratap ijuk. Di luar pintu gerbang dua buah balai Ongkara mengapit       pintu. Dan juga dua buah balai Majalila beratap ijuk berhadap-hadapan.       Persemayaman I Dewa Manik Geni sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman       I Dewa Penataran sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa       Hyangning Made Gunung Agung sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I       Dewa Gusti Hyang sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman Ida Hyang       Antiga sebuah meru bertingkat satu. Persemayaman I Dewa Hyangning Teges       sebuah meru bertingkat satu, semuanya beratap ijuk dan berdinding. Ini       bagian yang diemong oleh Anglurah Sidemen. Semua bangunan suci yang       berada di Penataran Agung juga menjadi tanggungjawab raja. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         6a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Dan lagi       bangunan suci di pura Dangin Kreteg ditetapkan diemong oleh Arya       Karangasem. Demikianlah semua bangunan suci yang tertulis dalam piagam.       Dan untuk selanjutnya tentang upakara dan upacara besar maupun kecil       menjadi tanggungjawab Anglurah Sidemen, juga mengenai kain-busana usungan       para Dewa dan alat-alat perhiasan lainnya dibiayai dengan hasil tanah di       Bebandem, Cacakan, Pajegan, Gantalan. Ini harus diingat / diperhatikan       oleh Anglurah Sidemen, perlengkapan usungan para Dewa selengkapnya dan       kewajiban para pemegang sawah milik raja. Begini anugerah Batara       Maospahit. "Wahai turunanku raja Majapahit yang kuberikan gelar Ratu       Kepakisan yang menjadi raja Bali, turun temurun harus mentaati dan       menghormati piagam ini. Pegang dengan teguh piagam ini dan sebar luaskan       di Bali. Dibantu oleh keturunan para Arya yang mengiring dan para       punggawa yakni:&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         6b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Arya       Kanuruhan, Kenceng, Belog. Delancang. Dan berikutnya warga Wang Bang yang       juga turunan Brahmana yang ikut bersama-sama mengarungi samudra dan warga       Kuta Waringin. Kepada Sira Wang Bang saya tugaskan menuju Gunung Agung       (Besakih) supaya bersama-sama dengan Sang Kul Putih mohon anugerah ke       hadapan Dewa (mengabdikan diri ke hadapan para Dewa) langsung sampai ke       puncak Gunung Agung. Maka mulai sekarang Sira Wang Bang bersama Sang       Mangku Gunung Agung. Sira Wang Bang bertugas menjaga arca Dewa dan piagam       Raja yang turun dari Kahyangan. Ini semua hendaknya diemong       selama-lamanya, turun temurun. Aku mengatur / menentukan pemujaan kepada       para Dewa dan lanjut upacara pengodalan pada hari Rabu Wage, wuku Kulawu,       upacara pemujaan setiap hari purnama dan tilem (bulan gelap) Oktober.       Nopember. April, Juli. pada saat itulah raja datang bersembahyang ke       Besakih bersama para pendeta dan pasukan. Aku memberi ijin untuk       mengambil hasil bumi, udara, tegalan dan sawah di desa-desa, hasil       pantai, laut dan gunung di sebelah&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         7a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;timur       sungai Telagadwaja. Terutama hasil tegal dan sawah bukti di desa Muncan.       Jumlah uang tujuh belas ribu dan sawah berbibit delapan puluh lima tenah,       sebagai biaya dapur dan isi lumbung agung, Sawah-sawah itu terletak di       Bukih, Pedengdengan Kelod, sampai ke Keben Aras yang bernama Tinggarata.       Pahyasan, Sari, Gunung Sari Lebih, dikenakan bawang putih 2200 biji dan       lagi hasil bumi Selat. Ingat barang-barang itu sebagai pengisi lumbung       agung yang terletak di halaman luar pura Besakih tempat hasil sawah laba       itu seharga 1700. Lumbung itu milik raja dan lumbung pajenengan Batara di       Gunung Agung (Besakih). Kalau sudah demikian stabillah persemayaman Dewa       dan kedudukan raja. Kalau lumbung Dewa dan milik raja rusak maka       diwajibkan desa harus memperbaiki lumbung itu dan mengatapi sampai       selesai. Raja memberikan kuasa kepada semua penghulu desa.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         7b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Peringatan       kepada Sedahan Penyarikan: supaya menaikkan padi ke lumbung terutama       hasil sawah Santen Dawa Higa yang dipergunakan untuk biaya upacara di       pura Besakih dan Batara di puncak Gunung Agung. Bahan upakara itu       dibebankan kepada masyarakat desa Sikuhan, Renaasih, Luwih, Suarga       Peleng, masing-masing 500 biji dasun putih beserta uang dan ayam putih       jantan betina, bunga palawa, bunga kasna yang bunganya melekat menjadi       satu dan cemara tiblun. Ini harus dibawa setiap hari Kamis Paing wuku       Wayang dan Minggu Paing Dungulan ke halaman luar pura Besakih diterimakan       kepada Sedahan Dewa. Jangan lalai jangan alpa dan jangan curang. Ini       adalah persembahan raja kepada para Dewa dan Batara yang bersemayam di       puncak Gunung Agung. Batara bersabda, "Hai kamu manusia taatilah       titahku! Piagam ini telah direstui oleh para Dewa Nawasanga. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         8a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Jika       tidak mentaati Piagam ini semoga kamu sirna dan menjadi lintah". Ini       Piagam tahun 1007 Masehi (929 Saka). Om Namobhye namah, Om Sri wastha       sattawasar. Raja Majapahit kabarnya dalam keadaan berbaring. Pada waktu       itulah Prasasti yang berupa Piagam ini dikeluarkan. Aku adalah Batara       Indra, aku ini adalah Batara Maospahit dan aku raja Majapahit       bersama-sama bersemayam di pulau Bali. Diceritakan sekarang Dalem Pakisan       yang menurunkan raja Bali. Karena ketulusan hati dan kebijaksanaan beliau       ibarat Sang Hyang Darma menjadi raja yang dapat mengalahkan raja Bali       yang terdahulu. Dan Sira Wang Bang yang mengabdikan diri kepada Batara di       Besakih juga mengemong pura tempat bersemayamnya Batara Naga Basukih.       Demikianlah kewajibannya selama hidup serta para turunannya mengabdi       mempersembahkan air suci. Sira Wang Bang mengantarkan persembahan raja ke       hadapan Batara di Kahyangan tatkala bersembahyang ke hadapan yang       bersemayam di puncak Gunung Agung dan Batara Pusering Tasik (Tengah       samudra) dan lautan madu. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         8b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Aku       mengambil hasil bumi dan angkasa, segala jenis hasil pesisir, lautan dan       gunung untuk biaya upacara ke hadapan Batara di Besakih (gunung Agung).       Berkat anugerah Batara masyarakat bersatu mematuhinya akibatnya bumi pun       makmur. Para Arya semua bersatu yaitu: Arya Kanuruhan, Arya Kenceng,       Delancang, Arya Belog, Arya Kuta Waringin. Sabda Batara, "Hai kamu       manusia mayapada, jangan engkau durhaka kepadaku. Jika engkau tidak memelihara       pura-pura di Besakih persemayaman para Dewa masing-masing dan kalau ada       yang rusak tidak kamu perbaiki, tidak bakti, semoga kamu bertikam-tikaman       dengan keluargamu dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan       menderita serta jauh dari keselamatan". Sabda Batara Nawasanga       kepada para umat penganut Siwa dan Buda dan para catur wangsa supaya       memelihara dan memperbaiki kerusakan pura di Besakih. Apabila waktu       bersembahyang melihat warna seperti ijuk sekakab (segabung), itu pertanda       turunnya Batara Kidul Bangun Sakti. Ucapkan mantra: Ong, Bang, I, namah.       manifestasi Sang Hyang Antaboga yang bersemayam di samudra. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         9a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Kalau       kelihatan seperti air tenang itu pertanda turunnya I Dewa Bukit. Ucapkan       mantra: Ong, Yang, Ung, namah. ltulah manifestasi Batara Duhuring Akasa /       Batara Naga Basukih. Kalau kelihatan ada cahaya seperti api menyala dan       gemerlapan, itu pertanda turunnya Batara Atu. Ucapkan mantra: Ongkara       Siwa namah swaha. Manifestasi Sang Hyang Siwa. Apabila kelihatan warna putih       berkilau-kilauan itu pertanda turunnya I Dewa Sesa. Ucapkan mantra: Ong,       Saswara Indra nama swaha. Manifestasi Sang Hyang Surya. Tampak cahaya       berwarna merah itu pertanda turunnya I Dewa Rabut Pradah. Ucapkan       mentera: Ong, Bang Yudhaya namah swaha. Manifestasi Batara Brahma.       Kelihatan cahaya berwarna kuning seperti emas wilis itu pertanda turunnya       Batara Maospahit. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Tang namah swaha.       Manifestasi Batara Wulan.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         9b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Kelihatan.       cahaya seperti kaca hitam itu pertanda turunnya Batara Batu Madeg.       Ucapkan mentera: Ong, Ang, Ung. Kresnaya nama swaha. Manifestasi Batara       Wisnu. Kelihatan cahaya seperti perak bertatahkan permata mirah itu       pertanda turunnya Batara Basukihan. Ucapkan mentera: Ong, Mang, Siwaya       namah swaha. Manifestasi Sang Agawe Pita. Kelihatan cahaya seperti mirah       dan intan yang telah digosok itu pertanda turunnya I Dewa Mas Makentel.       Ucapkan mentera: Ong, Mang. Siwaya namah swaha. Manifestasi Batara Rabut       Sedana Sakti. Kelihatan cahaya seperti air embun seperti permata jamrut       itu pertanda turunnya I Dewa Manik Malekah. Ucapkan mentera: Ong, Sang       Bhawantu Sri ya namah. Manifestasi Batara Sri. Kelihatan cahaya seperti       bunga teleng gemerlapan itu pertanda turunnya Batari Pertiwi. Ucapkan       mentera: Ong, Ong, Sri Sundharu ya namah. Manifestasi Batari Kuwuh/Batari       Sundhari. Beliaulah yang menciptakan yang indah-indah dan benda-benda       berharga dan persemayaman beliau tiada taranya. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr style="height: 9.7pt;"&gt;     &lt;td style="height: 9.7pt; padding: 0in; width: 12.94%;" width="12%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman 10a &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="height: 9.7pt; padding: 0in;"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 0.42%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 9.7pt;"&gt;         &lt;td style="height: 9.7pt; padding: 0in; width: 100%;" width="100%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Kelihatan       cahaya seperti kunang-kunang bertaburan itu pertanda turunnya I Dewa Geni       / I Dewa Gelap. Ucapkan mentera: Ong Sa, Ba, Ta, nama siwaya. Beliau       berwujud baik buruk, bumi dan angkasa. Kelihatan cahaya gelap gulita itu       pertanda turunnya Batara Gangga di sebelah selatan Besakih menjadi mata       air yang dinamakan Sindu Tunggang. Kisah kenyataan. Kelihatan cahaya       gelap gulita turun Batari Gangga di sebelah utara Besakih: menjadi mata       air yang dinamakan Sang Hyang Tirta Sakti Amerta. Demikianlah kisah semua       mata air pada tahun 122 M. Turun Batara Indra dan membawanya ke Surga.       Ini disebut Brahma Tirta terjadi pada tahun 126 Masehi. Turun pada waktu       gelap gulita hujan angin kelihatan seperti mas berpermata intan dan       terdengar seperti suara gentaworag para Mpu mengalun. Ucapkan mentera:       Ong, Nang, Ung, Nang, Ung. Turunlah arca mas bermuka empat, arca perak,       tembaga, loyang, besi. Semua bertatahkan permata mirah. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 639px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 17.4pt;"&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; height: 17.4pt; padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 18.16%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 10.6pt;"&gt;         &lt;td style="height: 10.6pt; padding: 0in; width: 97.58%;" width="97%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Halaman         10b &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 10.6pt; padding: 0in; width: 2.42%;" width="2%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr style="height: 119.45pt;"&gt;       &lt;td style="height: 119.45pt; padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Turun       pada waktu malam hari disertai topan dan hujan itu pertanda turunnya Sang       Hyang Siyem berwarna putih kehijau-hijauan dan Sang Hyang Rabut Pradah       diiringi dengan tabuh-tabuhan dengdengkuk. Untuk mengingatkan raja supaya       bersembahyang ke Besakih bersama para Arya serta rakyatnya       mempersembahkan upacara. Semua mengiring malasti ke pancuran Pamanca       (Arca) pada paruh bulan terang dengan kurban berupa babi guling 5, suci,       dan lis. Di Pulo Jelepung sawah berbibit dua tenah dan lagi di Kinang       sawah berbibit dua setengah tenah di Balu Agung Jelantik sawah berbibit       empat tenah di Batu Mangecek berbibit empat tenah. Lagi sawah di daerah       Tusan yang terletak di Jati Heling berbibit dua tenah. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h2&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Pada abad XIII berdirilah Dinasti Majapahit dimana terjadi perkawinan Brahmaraja&amp;nbsp; I dengan putri Kerajaan Miao Li yaitu Yu Lan(Dara Jingga)putri ke II,juga pendiri Majapahit yakni Prabu Wisnu Wardana memperistri putri Raja Miao LI yang pertama yaitu Yu Lin(Dara Petak).Hyang Wisesa/Brahmaraja I Raja Jenggala sebelum diabisheka bernama “Jayasaba”sedangkan kakaknya sebelum diabhiseka Raja Kadiri bernama “Jayabaya”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Kenapa hanya Brahmaraja I saja yang di buatkan pelinggih di Pura terbesar di Besakih karena sebagian besar &amp;nbsp;anak-anak beliau sudah pindah ke Bali yaitu yang dikenal dengan “ Sapta Arya”ditugaskan menjadi Anglurah di tiap-tiap Kadipaten/kabupaten di Bali membantu Pamannya “Sri Kresna Kepakisan(Raja Bali)”demi kelancaran pemerintahan Beliau,sedangkan anak yang paling sulung masih di Jawa meneruskan kerajaan di Jenggala yaitu Arya Cakradara mengawini Ratu Tri Bwana Tungga Dewi(Raja III).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Sedangkan kakaknya Raja Kadiri Prabu Wisnu Wardana/Jayabaya yang menurunkan Raja-Raja di Jawa di buatkan pelinggih berupa Candi Megah&amp;nbsp; di zaman itu disesuaikan dengan adat tanah Jawa yang mana semua Palinggih Raja disemayamkan di Candi yang megah(lihat sejarah Nagarakertagama).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Hyang Wisesa di Jawa bergelar Hyang Indra karena Beliau ahli di bidang perang yang sering disebut Dewa Perang,Beliaulah yang mahir dalam taktik Peperangan di zaman itu dan mahir dengan segala senjata sehingga anak-anaknya mewarisinya sampai keturunannya sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsBNLkzRlI/AAAAAAAAAa4/QKS2eEfun78/s1600/Pandito+Ratu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsBNLkzRlI/AAAAAAAAAa4/QKS2eEfun78/s1600/Pandito+Ratu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Yaitu &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sri Wilatikta Brahmaraja XI&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Abisheka Raja Majapahit Suryadiningrat)yaitu keturunan dari anak pertama beliau yang masih tinggal di jawa meneruskan kerajaan di jawa/Puri Jenggala,Tulung Agung &amp;nbsp;yaitu dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;trah ARYA CAKRADARA BERISTRI RATU TRI BWANA TUNGGA DEWI(Raja III).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Adapun pelinggih semua Kawitan Orang Bali dan Jawa di Pusatkan di Pura Majapahit Pusat Trowulan di sebelah utara kolam Segaran di sana terpampang semua soroh/klan dari Hyang Pasupati(Purusha)dan Hyang Bhatari Gangga(Predhana) menurunkan Raja Jawa-Bali/ Dalem,Ratu Pasek,Ratu Kepandean,dsb dst,tertulis dengan gamlang dengan Prasasti berupa lempengan emas.Sehingga Pura Majapahit Pusat Trowulan merupakan Pura Bibit Kawit/Kawitan Pertama orang Jawa dan Bali yang menyebar sesuai perkembangan zaman ekspedisi/eksodus untuk mencari daerah baru yang lebih eksis untuk keturunan selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Yang mana daerah ini dulunya merupakan bekas Pusat Kerajaan Jawa yang sudah mendunia sampai ke mancanegara yang sering di sebut Nusantara di zaman itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Daerah kekuasaannya mencakup Thailand,siam,Burma,Malaysia,madagaskar(Nagarakertagama).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Sehingga Ageman Leluhur kita dari dulu adalah Ageman Siwa Budha/Purusha Predhana/Pertiwi Akasa/Bumi Langit/Lingga Yoni yang sering disebut Kawitan kita “Shanghyang Sangkan Paraning Dumadi”sehingga Leluhur kita dulu bisa mencapai Moksah/Mokswa karena mampu menerapkan Ageman yang tidak ada duanya di Dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Di zaman sekarang orang-orang belum bisa menerapkan karena tercemari&amp;nbsp; oleh pengaruh ageman lain yang sering mengambil jalan singkat bahkan mengajarkan “pengampunan Dosa”sedangkan yang namanya dosa tetap dosa ,yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah sesuai hukum karmapala,inilah keunikan Leluhur kita yang sulit diterapkan oleh ageman lain sehingga mencari jalan pintas langsung menuju jalan tol alternative langsung menuju Tuhan tanpa melalui tingkatan yang ada yaitu Leluhur Kawitan sesuai tingkatan-tingkatannya.&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 570px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 22in;"&gt;   &lt;td style="height: 22in; padding: 0in; width: 427.5pt;" valign="top" width="570"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keunikan   Bali yang lain bisa dilihat lewat bagaimana manusia Bali melakukan pembinaan   kekerabatan secara lahir dan batin. Manusia Bali begitu taat untuk tetap   ingat dengan asal muasal darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian   melahirkan berbagai golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa   atau soroh. Begitu banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki   tempat pemujaan keluarga secara tersendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tatanan   masyarakat berdasarkan soroh ini begitu kuat menyelimuti aktivitas kehidupan   manusia Bali. Mereka tetap mempertahankan untuk melestarikan silsilah yang   mereka miliki. Mereka dengan seksama dan teliti tetap menyimpan berbagai   prasasti yang didalamnya berisi bagaimana silsilah sebuah keluarga Bali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Beberapa   soroh yang selama ini dikenal misalnya Warga Pande, Sangging, Bhujangga   Wesnawa, Pasek, Dalem Tarukan, Tegeh Kori, Pulasari, Arya, Brahmana Wangsa,   Bali Aga dan lainnya. Semuanya memiliki sejarah turun-temurun yang berbeda.   Meski begitu, akhirnya mereka bertemu dalam siklus keturunan yang disebut   Hyang Pasupati. Begitu unik dan menarik memahami kehidupan manusia Bali dalam   kaitan mempertahankan garis leluhurnya tersebut. Sebagian kehidupan ritual   mereka juga diabdikan untuk kepentingan pemujaan terhadap leluhur mereka &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Identifikasi   Orang Bali &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suku bangsa Bali merupakan kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan   kesatuan budayanya, kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama.   Walaupun ada kesadaran tersebut, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak   variasi serta perbedaan setempat. Agama Hindhu yang telah lama   terintegrasikan ke dalam masyarakat Bali, dirasakan juga sebagai unsur yang   memperkuat adanya kesadaran kesatuan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perbedaan   pengaruh dari kebudayaan Jawa&amp;nbsp; di berbagai daerah di Bali dalam jaman   Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat Bali, yaitu masyarakat   Bali - Aga dan masyarakat Bali Majapahit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masyarakat   Bali Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa&amp;nbsp; dari   Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada umumnya   mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa,   pedawa, Tiga was, di Kabupaten Buleleng dan desa tenganan Pegringsingan di   Kabupaten Karangasem. Orang Bali Majapahit yang pada umumnya diam   didaerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk   Bali. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pulau   Bali yang luasnya 5808,8 Km2 dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur   dari barat ke timur, sehingga membentuk dataran yang agak sempit. di sebelah   utara., dan dataran yang lebih besar disebelah selatan. Pegunungan tersebut   yang sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba, mempunyai arti yang   penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. di wilayah pegunungan   itulah terletak Parahyangan (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali,   seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru, dan yang terutama sekali Pura Besakih   yang terletak di kaki Gunung Agung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sedangkan   arah membujur dari gunung tersebut telah menyebabkan penunjukan arah yang   berbeda untuk orang Bali utara dan Orang Bali selatan. Dalam Bahasa Bali,   kaja berarti ke gunung, dan kelod berarti ke laut. Untuk orang Bali Utara   kaja berarti selatan, sedangkan untuk orang Bali selatan kaja berarti utara.   Sebaliknya kelod untuk orang Bali utara berarti utara, dan untuk orang bali   selatan berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan   arah dalam bahasa Bali, tapi juga dalam aspek kesenian dan juga sedikit aspek   bahasa. Konsep kaja kelod itu nampak juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam   upacara agama, letak susunan bangunan-bangunan rumah suci dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bahasa   Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan   kata dan strukturnya, maka bahsa Bali tak jauh berbeda dari bahsa Indonesia   lainnya. Peninggalan prasasti zaman kuno menunjukkan adanya&amp;nbsp; suatu   bahasa Bali kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno   tersebut disamping banyak mengandung bahasa Sansekerta, pada masa kemudiannya   juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit, ialah jaman   waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal   juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata hormat", walaupun   tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (bahasa halus)   dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi. Di Bali juga   berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik dalam bentuik puisi maupun   prosa. Disamping itu sampai saat ini di bali didapati juga sejumlah hasil   kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) dalam bentuk prosa maupun puisi yang dibawa ke   Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sistem   Kekerabatan Orang Bali&lt;br /&gt;
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali,   karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari   masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang   warga komuniti dan warga kelompok kerabat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menurut   anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan   sistem warna(wangsa), maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara   warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat   dalam warna. Demikian, perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen,   sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih Kolot   adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. Keadaan   ini memang menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen, yang pada   umumnya bersifat exogam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Orang-orang   se-klen di Bali itu, adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam   adat dan agama, dan demikian juga dalam warna, sehingga dengan berusaha untuk   kawin dalam batas klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan   dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar warna yang   berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari   warna yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat   warnanya, karena perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta   menjatuhkan gengsi dari seluruh warna dari anak wanita tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dahulu,   apabila ada perkawinan semacam itu, maka wanitannya akan dinyatakan keluar   dari dadianya, dan secara fisik suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk   beberapa lama, ketempat yang jauh dari tempat asalnya. Semenjak tahun 1951,   hukuman sermacam itu tidak pernah dijalankan lagi, dan pada saat ini hukuman   campuran semacam itu relatif lebih banyak dilaksanakan. Bentuk perkawinan   lain yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara   perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (makedengan ngad), karena   perkawinan yang demikian itu dianggap dapat mendatangkan bencana (panes).   Pada umumnya, seorang pemuda Bali memperoleh seorang istri dengan dua cara,   yaitu dengan meminang (memadik, ngidih) kepada keluarga gadis, atau dengan   cara melarikan seorang gadis (mrangkat,ngrorod). Kedua cara diatas   berdasarkan adat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sesudah   pernikahan, suami-istri yang baru biasanya menetap secara virilokal dikomplek   perumahan dari orang tua suami, walapun tidak sedikit suami istri yang   menetap secara neolokal dengan mencari atau membangun rumah baru. Sebaliknya   ada pula suami istri baru yang menetap secara uxorilokal dikomplek perumahan   dari keluarga istri (nyeburin). Kalau suami istri menetap secara virilokal,   maka anak-anak keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara   patrilineal (purusa), dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi   harta pusaka dari klen tersebut. Sebaliknya, keturunan dari suami istri yang   menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi   warga dadia si istri, dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini   kedudukan si istri adalah sebagai sentana predhana(penerus keturunan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Suatu   rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat   monogami, sering ditambah dengan anak laki-laki yang sudah kawin bersama   keluarga batih mereka masing-masing dan dengan orang lain yang menumpang,   baik orang yang masih kerabat maupun orang yang bukan kerabat. Beberapa waktu   kemudian terdapat anak laki-laki yang sudah maju dalam masyarakat sehingga ia   merasa mampu untuk berdiri sendiri, memisahkan diri dari orang tua dan   mendirikajn rumah tangga sendiri yang baru. Salah satu anak laki-laki biasanya   tetap tinggal di komplek perumahan orang tua (ngerob), untuk nanti dapat   membantu orang tua mereka kalau sudah tidak berdaya lagi dan untuk   selanjutnya menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tiap-tiap   keluarga batih maupun keluarga luas, dalam sebuah desa di Bali harus   memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen   (tunggal dadia). Strutur tunggal dadia ini berbeda-beda di berbagai tempat di   Bali. Di desa-desa pegunungan, orang-orang dari tunggal dadia yang telah   memencar karena hidup neolokal, tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan   leluhur di masing-masing tempat kediamannya. didesa-desa tanah datar,   orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan   mendirikan tempat pemujaan di masing-nasing kediamannya, yang disebut kemulan   taksu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Disamping   itu, keluarga batih yang hidup neolokal masih mempunyai kewajiban-kewajiban   terhadap kuil asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka.Suatu pura   ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua   warganya, dan dengan demikian pura/kuil tersebut mempersatukan dan   mengintensifkan rasa solidaritet anggota-anggota dari suatu klen kecil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di   samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi   beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja kawitan leluhur yang   sama disebut kelenteng (pura) paibon atau panti. Dalam prakteknya, suatu   tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran   terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Klen-klen   besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal-usul yang ditulis dalam bentuk   babad dan prasasti yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari   keluarga-keluarga yang merasa dirinya senior, ialah keturunan langsung dan   salah satu cabang yang tua dalam klen. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sistem   Kemasyarakatan Orang Bali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Banjar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan   wilayah. Kesatuan sosial itu diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara   keagaman yang keramat. Didaerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya   terbatas pada orang yang lahir di wilayah banjar tersebut. Sedangkan didaerah   datar, sifat keanggotaannya tidak tertutup dan terbatas kepada orang-orang   asli yang lahir di banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah   lain dan kebetulan menetap di banjar bersangkutan dipersilakan untuk menjadi   anggota(krama banjar) kalau yang bersangkutan menghendaki. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pusat   dari&amp;nbsp; banjar adalah Bale banjar, dimana warga banjar bertemu pada   hari-hari yang tetap. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut   Kelian banjar. Ia dipilih dengan masa jabatab tertentu oleh warga banjar.   Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial   dari banjar sebagai suatu komuniti, tapi juga lapangan kehidupan keagamaan.   Kecuali itu ia juga harus memecahkan masalah yang menyangkut Desa adat.   Kadang kelian banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan   administrasi pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Subak   &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
Subak di Bali seolah-olah lepas dari dari Banjar dan mempunyai kepala   sendiri. Orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama dengan orang yang   menjadi anggota banjar. Warga subak adalah pemilik atau para penggarap sawah   yang yang menerima air irigasinya dari dari bendungan-bendungan yang diurus   oleh suatu subak. Sudah tentu tidak semua warga subak tadi hidup dalam suatu   banjar. Sebaliknya ada seorang warga banjar yang mempunyai banyak sawah yang   terpencar dan mendapat air irigasi dari bendungan yang diurus oleh beberapa   subak. Dengan demikian warga banjar tersebtu akan menggabungkan diri dengan   semua subak dimana ia mempunya sebidang sawah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sekaha   &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali, ada organisasi-organisasi yang   bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus, ialah sekaha. organisasi ini   bersifat turun-temurun, tapi ada pula yang bersifat sementara. Ada sekaha   yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang   berkenan dengan desa, misalnya sekaha baris/sanggar tari Baris (perkumpulan   tari baris), sekaha teruna-teruni. Sekaha tersebut sifatnya permanen, tapi   ada juga sekaha yang sifatnya sementara, yaitu sekaha yang didirikan   berdasarkan atas suatu kebutuhan tertentu, misalnya sekaha memula   (perkumpulan menanam), sekaha manyi (perkumpulan menuai), sekaha gong   (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. sekaha-sekaha di atas biasanya merupakan   perkumpulan yang terlepas dari organisasi banjar maupun desa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gotong   - Royong&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat Bali dikenal sistem gotong   royong (nguopin) yang meliputi lapangan-lapangan aktivitas di sawah (seperti   menanem, menyiangi, panen dan sebagainya), sekitar rumah tangga (memperbaiki   atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainya), dalam   perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga,   atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. nguopin antara individu   biasanya dilandasi oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib   dibalas dengan bantuan tenaga juga. kecuali nguopin masih ada acara gotong   royong antara sekaha dengan sekaha. Cara serupa ini disebut ngedeng   (menarik). Misalnya suatu perkumpulan gamelan ditarik untuk ikut serta dalam   menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. bentuk yang   terakhir adalah kerja bhakti (&lt;b&gt;ngayah&lt;/b&gt;) untuk keperluan agama,masyarakat   maupun pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kesatuan-kesatuan   sosial di atas, biasanya mempunyai pemimpin dan mempunyai kitab-kitab   peraturan tertulis yang disebut awig-awig atau sima. Pemimpin biasanya   dipilih oleh warganya. Klen-klen juga mempunyai tokoh penghubung yang   bertugas memelihara hubungan antara warga-warga klen, menjadi penasehat bagi   para warga mengenai seluk beluk adat dan peristiwa-peristiwa yang bersangkaut   paut dengan klen. Tokoh klen serupa itu di sebut moncol. Klen tersebut tidak   mempunyai peraturan tertulis, akan tetapi mempunya silsilah/babad. Ditingkat   desa ada kesatuan-kesatuan administratif yang disebut perbekelan. Suatu   perbekelan yang sebenarnya merupakan warisan dari pemerintah Belanda,   diletakkan diatas kesatuan-kesatuan adat yang asli di Bali, seperti desa adat   dan banjar. Maka terdapatlah gabungan-gabungan dari banjar dan desa ke dalam   suatu perbekelan yang dipimpin oleh perbekel atau bendesa yang secara   administratif bertanggung jawab terhadap atasannya yaitu camat, dan   seterusnya camat bertanggung jawab kepada bupati.dst dsb. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;(sebagian teks diambil dari babad Bali di tambah babad   Jawa/Majapahit).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-8285537603463721337?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://budayadanfilosofi.tk' title='RAJA MAJAPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH BALI'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/8285537603463721337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/raja-majapahit-yang-distanakan-di-pura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/8285537603463721337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/8285537603463721337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/raja-majapahit-yang-distanakan-di-pura.html' title='RAJA MAJAPAHIT YANG DISTANAKAN DI PURA BESAKIH BALI'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTsAgo6uqWI/AAAAAAAAAaw/YdgcZMrhvsQ/s72-c/Hyang+Wisesa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-7789352777572926730</id><published>2011-01-21T20:47:00.003-08:00</published><updated>2011-09-11T19:28:06.015-07:00</updated><title type='text'>PALINGIH MERU TUMPANG XI HYANG WISESA/BRAHMARAJA I DI PURA BESAKIH</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:RelyOnVML/&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;}
@font-face
 {font-family:Cambria;
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h2
 {mso-style-priority:9;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-link:"Heading 2 Char";
 mso-style-next:Normal;
 margin-top:10.0pt;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:0in;
 margin-left:0in;
 margin-bottom:.0001pt;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan lines-together;
 page-break-after:avoid;
 mso-outline-level:2;
 font-size:13.0pt;
 font-family:"Cambria","serif";
 mso-ascii-font-family:Cambria;
 mso-ascii-theme-font:major-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:major-fareast;
 mso-hansi-font-family:Cambria;
 mso-hansi-theme-font:major-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:major-bidi;
 color:#4F81BD;
 mso-themecolor:accent1;}
a:link, span.MsoHyperlink
 {mso-style-priority:99;
 color:blue;
 mso-themecolor:hyperlink;
 text-decoration:underline;
 text-underline:single;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 color:purple;
 mso-themecolor:followedhyperlink;
 text-decoration:underline;
 text-underline:single;}
span.Heading2Char
 {mso-style-name:"Heading 2 Char";
 mso-style-priority:9;
 mso-style-unhide:no;
 mso-style-locked:yes;
 mso-style-link:"Heading 2";
 mso-ansi-font-size:13.0pt;
 mso-bidi-font-size:13.0pt;
 font-family:"Cambria","serif";
 mso-ascii-font-family:Cambria;
 mso-ascii-theme-font:major-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:major-fareast;
 mso-hansi-font-family:Cambria;
 mso-hansi-theme-font:major-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:major-bidi;
 color:#4F81BD;
 mso-themecolor:accent1;
 font-weight:bold;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span&gt;INILAH PRATIMA HYANG WISESA/RAJA MAOSPAHIT&lt;/span&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="margin-left: -7.55pt; width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="padding: 0.75pt; width: 91.32%;" width="91%"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Ini perihal ketentuan dan kewajiban di pura &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Besakih&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;       &lt;/b&gt;(Gunung Agung) yang tercantum dalam Piagam Raja (Dalem). Anglurah       Kebayan di Besakih dan Sedahan Ler di Selat mempunyai tugas yang sama       untuk memelihara dan menegakkan piagam raja ini. Begini disebutkan,       persembahan raja berupa tanah sawah untuk laba pura. Tanah itu ada di       wilayah desa Tohjiwa terletak di subak Kepasekan, Bugbugan, Lenging       Ogang, Lod Umah, Dauh Kutuh, jumlah semuanya berbibit 12 1/2 tenah, untuk       Batara Ratu Kidul sepertiga, Batara I Dewa Bukit Pangubengan sepertiga,       Batara Dewa Danginkreteg sepertiga, jadi masing-masing pura mendapat       sawah berbibit 3 tenah 2 depuk. Lagi sawah untuk laba pura persembahan       Dalem ke hadapan Batara di Batumadeg tanah sawah di desa Tangkup yang       terletak di Jejero berbibit 5 tenah. Lagi laba pura persembahan Dalem ke       hadapan Batara Manik Geni berupa tanah sawah di Muncan yang terletak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 2a&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;di Teba Kulon, Teba Lor, berbibit 4 tenah. Persembahan       Dalem ke hadapan Batara Basukihan, dan Batara Tulus Dewa berupa tanah       sawah di desa Klungah terletak di subak Bukihan berbibit 12 tenah yang       juga dipergunakan untuk bebakaran. Untuk pesangon juru arah, pengusung       Sang Hyang Siyem, Batara Rabut Paradah ialah hasil sawah di desa Macetra       di sebelah selatan bukit Santap berbibit tiga setengah tenah. Ini       ketentuan yang pertama. Warga keturunan dari Majapahit yang ikut bersama       Sri Kepakisan yang datang dan menjadi raja di Bali ialah keturunan warga       Kanuruhan, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Sira Wang Bang.       Sesudah itu Arya Kutawaringin. Pangeran Asak mengembara &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 2b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;akhirnya sampai dan tinggal di Kapal. Di sini diangkat       sebagai menantu oleh Arya Pengalasan berputra laki-laki bernama Pangeran       Dauh, Pangeran Nginte dan ada pula yang wanita. Pangeran Nginte berputra       Gusti Agung, Gusti di Ler. Pangeran Dauh berputra laki-laki dua orang dan       wanita, yang diperistri oleh Pangeran Pande, yang tertua diperistri       sepupunya, yang lebih kecil diperistri oleh Pangeran Dauh yang disebut       Pangeran Srantik di Camanggawon. Keturunan Arya Kanuruhan: Pangeran       Pagatepan dan Pangeran Tangkas. Pangeran Pangalasan menurunkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 3a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Srantik ini kesatria dari Majapahit bersepupu dengan       keturunan Pangeran Dauh Bale Agung warga Arya Kepakisan menjadi menteri       Dalem Kepakisan yang keturunannya antara lain: Pangeran Batan Jeruk,       Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak. Keturunan Arya Wang Bang, Sang       Penataran, Tohjiwa, Singarsa termasuk rumpun warga Pengalasan. Keturunan       Arya Kenceng yaitu: Tabanan dan Badung, Keturunan Arya Belog: Buringkit       dan Kaba-kaba. Keturunan Arya Wang Bang: Pring dan Cagahan Keturunan Arya       Kutawaringin: Kubon Tubuh. Tiga orang wesya dari &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 3b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Majapahit yang bernama Tan Kober, Tan Mundur dan Tan       Kawur. Keturunannya ialah Pacung, Abiansemal dan Cacahan. Pangeran Pande       bersaudara dengan Pangeran Anjarame yang kawin dengan saudara Pangeran       Anglurah Kanca. Mempunyai anak yang kawin dengan Pangeran Jelantik.       Pangeran Pande mengambil istri ke Kapal menurunkan Arya Dauh yang ada       sekarang. Dan I Gusti Agung berputra lima orang pria dan wanita tiga       orang antara lain: I Gusti Kacang Pawos, I Gusti Intaran. I Gusti di Ler       berputra sepuluh orang pria antara lain: I Gusti Penida dan yang wanita       kawin ke Kapal (Gelgel) dengan I Gusti Kubon Tubuh. Ini merupakan mufakat       dan ketulusan hati yang tersebut di atas ngemong pura-pura di Besakih.       Semoga berhasil dan bahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 4a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Ini perihal upaya untuk menenteramkan pulau Bali       supaya selamat dan selalu berpahala. Sepatutnya Nglurah Sidemen mengawasi       ketentuan pura-pura seperti dahulu, tempat bersemayamnya para Dewa dan       Batara. Pikiran yang tenteram dilambangkan dengan Padmasana. Padma       Nglayang adalah lambang dari Gunung Agung, Gunung Batur adalah lambang       dari gunung Indrakila. Di Besakih bagian selatan tempat. bersemayamnya I       Dewa Kidul, bangunan gedong bertembok. Persemayaman Ida I Dewa Manik Mas       meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Bangun Sakti       meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Ulun Kulkul meru       bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Jero Dalem meru       bertingkat satu bertiang empat dan persemayaman I Dewa Empu Anggending       sebuah gedong. Persemayaman Batara Sri meru bertingkat satu bertiang       empat, persemayaman Batara Basukihan meru bertingkat tujuh. Persemayaman       Batara Pangubengan meru bertingkat sebelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 4b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Di Penataran, persemayaman I Dewa Atu sebuah meru       bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Paninjoan sebuah meru bertingkat       sembilan. Persemayaman I Dewa Mas Mapulilit meru bertingkat sebelas. Ini       semua terletak di Penataran Agung. Lengkap dengan tempat jempana semua       pura terutama sekali bangunan Sanggar Agung. Bale Agung yang terdiri dari       sebelas ruangan, sebuah Kori Agung, di luar pintu gerbang ada dua balai       bertiang delapan dan candiraras mengapit pintu gerbang. Perihal       persemayaman I Dewa Tegal Besung sebuah meru bertingkat sebelas.       Persemayaman I Dewa Samplangan sebuah meru bertingkat sembilan.       Persemayaman I Dewa Enggong sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I       Dewa Sagening sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Made       sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pacekan sebuah meru       bertingkat satu berbentuk gedong. Persemayaman Pangeran Tohjiwa sebuah       meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pasek sebuah meru bertingkat       tiga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 5a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya tentang bale mandapa tempat peristirahatan       Dalem didampingi oleh Nglurah Sidemen. Dalem seyogyanya mengetahui semua       bangunan suci yang ada di pura Batumadeg yang diemong oleh I Dewa Den       Bancingah bersama para Arya dan masyarakat di sebelah barat sungai       Telagadwaja supaya dalam keadaan baik semuanya. ini ketentuan mengenai       persemayaman para Dewa yang diemong oleh Anglurah Sidemen bersama para       Arya dan masyarakat desa di sebelah timur sungai Telagadwaja yaitu:       Persemayaman I Dewa Gelap sebuah meru bertingkat tiga bertembok       berdinding. Persemayaman I Dewa Bukit bersama permaisuri sebuah meru       bertingkat satu bertembok. Persemayaman I Dewa Ratu Magelung meru       bertingkat tiga bertembok. Persemayaman I Dewa Wisesa sebuah meru       bertingkat sebelas dan sebuah candi raras yang merupakan pintu/jalan       keluar masuk I Dewa Bukit. Persemayaman Sang Hyang Dedari sebuah balai       bertiang empat yang dibuat dari kayu cendana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 5b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Persemayaman I Dewa Tureksa sebuah meru bertingkat       tujuh. Persemayaman I Dewa Maspahit sebuah meru bertingkat sebelas.       Persemayaman I Dewa Manik Makentel sebuah meru bertingkat sebelas, sebuah       balai Panggungan beratap ijuk lengkap dengan kain busana, sebuah balai       Manguntur. sebuah balai Sumangkirang beratap ijuk. Di luar pintu gerbang       dua buah balai Ongkara mengapit pintu. Dan juga dua buah balai Majalila       beratap ijuk berhadap-hadapan. Persemayaman I Dewa Manik Geni sebuah meru       bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Penataran sebuah meru bertingkat       tujuh. Persemayaman I Dewa Hyangning Made Gunung Agung sebuah meru       bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Gusti Hyang sebuah meru bertingkat       tiga. Persemayaman Ida Hyang Antiga sebuah meru bertingkat satu. Persemayaman       I Dewa Hyangning Teges sebuah meru bertingkat satu, semuanya beratap ijuk       dan berdinding. Ini bagian yang diemong oleh Anglurah Sidemen. Semua       bangunan suci yang berada di Penataran Agung juga menjadi tanggungjawab       raja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 6a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Dan lagi bangunan suci di pura Dangin Kreteg       ditetapkan diemong oleh Arya Karangasem. Demikianlah semua bangunan suci       yang tertulis dalam piagam. Dan untuk selanjutnya tentang upakara dan       upacara besar maupun kecil menjadi tanggungjawab Anglurah Sidemen, juga mengenai       kain-busana usungan para Dewa dan alat-alat perhiasan lainnya dibiayai       dengan hasil tanah di Bebandem, Cacakan, Pajegan, Gantalan. Ini harus       diingat / diperhatikan oleh Anglurah Sidemen, perlengkapan usungan para       Dewa selengkapnya dan kewajiban para pemegang sawah milik raja. Begini       anugerah Batara Maospahit. "Wahai turunanku raja Majapahit yang       kuberikan gelar Ratu Kepakisan yang menjadi raja Bali, turun temurun       harus mentaati dan menghormati piagam ini. Pegang dengan teguh piagam ini       dan sebar luaskan di Bali. Dibantu oleh keturunan para Arya yang       mengiring dan para punggawa yakni:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 6b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Arya Kanuruhan, Kenceng, Belog. Delancang. Dan       berikutnya warga Wang Bang yang juga turunan Brahmana yang ikut       bersama-sama mengarungi samudra dan warga Kuta Waringin. Kepada Sira Wang       Bang saya tugaskan menuju Gunung Agung (Besakih) supaya bersama-sama dengan       Sang Kul Putih mohon anugerah ke hadapan Dewa (mengabdikan diri ke       hadapan para Dewa) langsung sampai ke puncak Gunung Agung. Maka mulai       sekarang Sira Wang Bang bersama Sang Mangku Gunung Agung. Sira Wang Bang       bertugas menjaga arca Dewa dan piagam Raja yang turun dari Kahyangan. Ini       semua hendaknya diemong selama-lamanya, turun temurun. Aku mengatur /       menentukan pemujaan kepada para Dewa dan lanjut upacara pengodalan pada       hari Rabu Wage, wuku Kulawu, upacara pemujaan setiap hari purnama dan       tilem (bulan gelap) Oktober. Nopember. April, Juli. pada saat itulah raja       datang bersembahyang ke Besakih bersama para pendeta dan pasukan. Aku       memberi ijin untuk mengambil hasil bumi, udara, tegalan dan sawah di       desa-desa, hasil pantai, laut dan gunung di sebelah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 7a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;timur sungai Telagadwaja. Terutama hasil tegal dan       sawah bukti di desa Muncan. Jumlah uang tujuh belas ribu dan sawah       berbibit delapan puluh lima tenah, sebagai biaya dapur dan isi lumbung       agung, Sawah-sawah itu terletak di Bukih, Pedengdengan Kelod, sampai ke Keben       Aras yang bernama Tinggarata. Pahyasan, Sari, Gunung Sari Lebih,       dikenakan bawang putih 2200 biji dan lagi hasil bumi Selat. Ingat       barang-barang itu sebagai pengisi lumbung agung yang terletak di halaman       luar pura Besakih tempat hasil sawah laba itu seharga 1700. Lumbung itu       milik raja dan lumbung pajenengan Batara di Gunung Agung (Besakih). Kalau       sudah demikian stabillah persemayaman Dewa dan kedudukan raja. Kalau       lumbung Dewa dan milik raja rusak maka diwajibkan desa harus memperbaiki       lumbung itu dan mengatapi sampai selesai. Raja memberikan kuasa kepada       semua penghulu desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 7b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Peringatan kepada Sedahan Penyarikan: supaya menaikkan       padi ke lumbung terutama hasil sawah Santen Dawa Higa yang dipergunakan       untuk biaya upacara di pura Besakih dan Batara di puncak Gunung Agung.       Bahan upakara itu dibebankan kepada masyarakat desa Sikuhan, Renaasih,       Luwih, Suarga Peleng, masing-masing 500 biji dasun putih beserta uang dan       ayam putih jantan betina, bunga palawa, bunga kasna yang bunganya melekat       menjadi satu dan cemara tiblun. Ini harus dibawa setiap hari Kamis Paing       wuku Wayang dan Minggu Paing Dungulan ke halaman luar pura Besakih       diterimakan kepada Sedahan Dewa. Jangan lalai jangan alpa dan jangan       curang. Ini adalah persembahan raja kepada para Dewa dan Batara yang       bersemayam di puncak Gunung Agung. Batara bersabda, "Hai kamu manusia       taatilah titahku! Piagam ini telah direstui oleh para Dewa Nawasanga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 8a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Jika tidak mentaati Piagam ini semoga kamu sirna dan       menjadi lintah". Ini Piagam tahun 1007 Masehi (929 Saka). Om       Namobhye namah, Om Sri wastha sattawasar. Raja Majapahit kabarnya dalam       keadaan berbaring. Pada waktu itulah Prasasti yang berupa Piagam ini dikeluarkan.       Aku adalah Batara Indra, aku ini adalah Batara Maospahit dan aku raja       Majapahit bersama-sama bersemayam di pulau Bali. Diceritakan sekarang       Dalem Pakisan yang menurunkan raja Bali. Karena ketulusan hati dan       kebijaksanaan beliau ibarat Sang Hyang Darma menjadi raja yang dapat       mengalahkan raja Bali yang terdahulu. Dan Sira Wang Bang yang mengabdikan       diri kepada Batara di Besakih juga mengemong pura tempat bersemayamnya       Batara Naga Basukih. Demikianlah kewajibannya selama hidup serta para       turunannya mengabdi mempersembahkan air suci. Sira Wang Bang mengantarkan       persembahan raja ke hadapan Batara di Kahyangan tatkala bersembahyang ke       hadapan yang bersemayam di puncak Gunung Agung dan Batara Pusering Tasik       (Tengah samudra) dan lautan madu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 8b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku mengambil hasil bumi dan angkasa, segala jenis       hasil pesisir, lautan dan gunung untuk biaya upacara ke hadapan Batara di       Besakih (gunung Agung). Berkat anugerah Batara masyarakat bersatu       mematuhinya akibatnya bumi pun makmur. Para Arya semua bersatu yaitu:       Arya Kanuruhan, Arya Kenceng, Delancang, Arya Belog, Arya Kuta Waringin.       Sabda Batara, "Hai kamu manusia mayapada, jangan engkau durhaka       kepadaku. Jika engkau tidak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman       para Dewa masing-masing dan kalau ada yang rusak tidak kamu perbaiki,       tidak bakti, semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu dan semoga       engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita serta jauh dari       keselamatan". Sabda Batara Nawasanga kepada para umat penganut Siwa       dan Buda dan para catur wangsa supaya memelihara dan memperbaiki       kerusakan pura di Besakih. Apabila waktu bersembahyang melihat warna       seperti ijuk sekakab (segabung), itu pertanda turunnya Batara Kidul       Bangun Sakti. Ucapkan mantra: Ong, Bang, I, namah. manifestasi Sang Hyang       Antaboga yang bersemayam di samudra. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 9a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalau kelihatan seperti air tenang itu pertanda       turunnya I Dewa Bukit. Ucapkan mantra: Ong, Yang, Ung, namah. ltulah       manifestasi Batara Duhuring Akasa / Batara Naga Basukih. Kalau kelihatan       ada cahaya seperti api menyala dan gemerlapan, itu pertanda turunnya       Batara Atu. Ucapkan mantra: Ongkara Siwa namah swaha. Manifestasi Sang       Hyang Siwa. Apabila kelihatan warna putih berkilau-kilauan itu pertanda       turunnya I Dewa Sesa. Ucapkan mantra: Ong, Saswara Indra nama swaha.       Manifestasi Sang Hyang Surya. Tampak cahaya berwarna merah itu pertanda       turunnya I Dewa Rabut Pradah. Ucapkan mentera: Ong, Bang Yudhaya namah       swaha. Manifestasi Batara Brahma. Kelihatan cahaya berwarna kuning       seperti emas wilis itu pertanda turunnya Batara Maospahit. Ucapkan       mentera: Ong, Ong, Tang namah swaha. Manifestasi Batara Wulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 15.75pt;"&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 97%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 9b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 15.75pt; padding: 0in; width: 3%;" width="3%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Kelihatan. cahaya seperti kaca hitam itu pertanda       turunnya Batara Batu Madeg. Ucapkan mentera: Ong, Ang, Ung. Kresnaya nama       swaha. Manifestasi Batara Wisnu. Kelihatan cahaya seperti perak       bertatahkan permata mirah itu pertanda turunnya Batara Basukihan. Ucapkan       mentera: Ong, Mang, Siwaya namah swaha. Manifestasi Sang Agawe Pita.       Kelihatan cahaya seperti mirah dan intan yang telah digosok itu pertanda       turunnya I Dewa Mas Makentel. Ucapkan mentera: Ong, Mang. Siwaya namah       swaha. Manifestasi Batara Rabut Sedana Sakti. Kelihatan cahaya seperti       air embun seperti permata jamrut itu pertanda turunnya I Dewa Manik       Malekah. Ucapkan mentera: Ong, Sang Bhawantu Sri ya namah. Manifestasi       Batara Sri. Kelihatan cahaya seperti bunga teleng gemerlapan itu pertanda       turunnya Batari Pertiwi. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Sri Sundharu ya       namah. Manifestasi Batari Kuwuh/Batari Sundhari. Beliaulah yang       menciptakan yang indah-indah dan benda-benda berharga dan persemayaman       beliau tiada taranya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr style="height: 9.7pt;"&gt;     &lt;td style="height: 9.7pt; padding: 0in; width: 12.94%;" width="12%"&gt;     &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 10a &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div align="right"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 0.42%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 9.7pt;"&gt;         &lt;td style="height: 9.7pt; padding: 0in; width: 100%;" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 99%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Kelihatan cahaya seperti kunang-kunang bertaburan itu       pertanda turunnya I Dewa Geni / I Dewa Gelap. Ucapkan mentera: Ong Sa,       Ba, Ta, nama siwaya. Beliau berwujud baik buruk, bumi dan angkasa.       Kelihatan cahaya gelap gulita itu pertanda turunnya Batara Gangga di       sebelah selatan Besakih menjadi mata air yang dinamakan Sindu Tunggang.       Kisah kenyataan. Kelihatan cahaya gelap gulita turun Batari Gangga di       sebelah utara Besakih: menjadi mata air yang dinamakan Sang Hyang Tirta       Sakti Amerta. Demikianlah kisah semua mata air pada tahun 122 M. Turun       Batara Indra dan membawanya ke Surga. Ini disebut Brahma Tirta terjadi       pada tahun 126 Masehi. Turun pada waktu gelap gulita hujan angin       kelihatan seperti mas berpermata intan dan terdengar seperti suara       gentaworag para Mpu mengalun. Ucapkan mentera: Ong, Nang, Ung, Nang, Ung.       Turunlah arca mas bermuka empat, arca perak, tembaga, loyang, besi. Semua       bertatahkan permata mirah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;       &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" style="padding: 0.75pt;"&gt;     &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" class="MsoNormalTable" style="width: 626px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 17.4pt;"&gt;       &lt;td style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 0%; height: 17.4pt; padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;       &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 18.16%;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 10.6pt;"&gt;         &lt;td style="height: 10.6pt; padding: 0in; width: 97.58%;" width="97%"&gt;         &lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman 10b &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td style="height: 10.6pt; padding: 0in; width: 2.42%;" width="2%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;tr style="height: 119.45pt;"&gt;       &lt;td style="height: 119.45pt; padding: 0.75pt; width: 99.7%;" width="99%"&gt;       &lt;div class="MsoNormal"&gt;Turun pada waktu malam hari disertai topan dan hujan       itu pertanda turunnya Sang Hyang Siyem berwarna putih kehijau-hijauan dan       Sang Hyang Rabut Pradah diiringi dengan tabuh-tabuhan dengdengkuk. Untuk       mengingatkan raja supaya bersembahyang ke Besakih bersama para Arya serta       rakyatnya mempersembahkan upacara. Semua mengiring malasti ke pancuran       Pamanca (Arca) pada paruh bulan terang dengan kurban berupa babi guling       5, suci, dan lis. Di Pulo Jelepung sawah berbibit dua tenah dan lagi di       Kinang sawah berbibit dua setengah tenah di Balu Agung Jelantik sawah       berbibit empat tenah di Batu Mangecek berbibit empat tenah. Lagi sawah di       daerah Tusan yang terletak di Jati Heling berbibit dua tenah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h2&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pada abad XIII berdirilah Dinasti Majapahit dimana terjadi perkawinan Brahmaraja&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;I dengan putri Kerajaan Miao Li yaitu Yu Lan(Dara Jingga)putri ke II,juga pendiri Majapahit yakni Prabu Wisnu Wardana memperistri putri Raja Miao LI yang pertama yaitu Yu Lin(Dara Petak).Hyang Wisesa/Brahmaraja I Raja Jenggala sebelum diabisheka bernama “Jayasaba”sedangkan kakaknya sebelum diabhiseka Raja Kadiri bernama “Jayabaya”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kenapa hanya Brahmaraja I saja yang di buatkan pelinggih di Pura terbesar di Besakih karena sebagian besar &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;anak-anak beliau sudah pindah ke Bali yaitu yang dikenal dengan “ Sapta Arya”ditugaskan menjadi Anglurah di tiap-tiap Kadipaten/kabupaten di Bali membantu Pamannya “Sri Kresna Kepakisan(Raja Bali)”demi kelancaran pemerintahan Beliau,sedangkan anak yang paling sulung masih di Jawa meneruskan kerajaan di Jenggala yaitu Arya Cakradara mengawini Ratu Tri Bwana Tungga Dewi(Raja III).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sedangkan kakaknya Raja Kadiri Prabu Wisnu Wardana/Jayabaya yang menurunkan Raja-Raja di Jawa di buatkan pelinggih berupa Candi Megah&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;di zaman itu disesuaikan dengan adat tanah Jawa yang mana semua Palinggih Raja disemayamkan di Candi yang megah(lihat sejarah Nagarakertagama).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hyang Wisesa di Jawa bergelar Hyang Indra karena Beliau ahli di bidang perang yang sering disebut Dewa Perang,Beliaulah yang mahir dalam taktik Peperangan di zaman itu dan mahir dengan segala senjata sehingga anak-anaknya mewarisinya sampai keturunannya sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yaitu &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sri Wilatikta Brahmaraja XI&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Abisheka Raja Majapahit Suryadiningrat)yaitu keturunan dari anak pertama beliau yang masih tinggal di jawa meneruskan kerajaan di jawa/Puri Jenggala,Tulung Agung &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yaitu dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;trah ARYA CAKRADARA BERISTRI RATU TRI BWANA TUNGGA DEWI(Raja III).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Adapun pelinggih semua Kawitan Orang Bali dan Jawa di Pusatkan di Pura Majapahit Pusat Trowulan di sebelah utara kolam Segaran di sana terpampang semua soroh/klan dari Hyang Pasupati(Purusha)dan Hyang Bhatari Gangga(Predhana) menurunkan Raja Jawa-Bali/ Dalem,Ratu Pasek,Ratu Kepandean,dsb dst,tertulis dengan gamlang dengan Prasasti berupa lempengan emas.Sehingga Pura Majapahit Pusat Trowulan merupakan Pura Bibit Kawit/Kawitan Pertama orang Jawa dan Bali yang menyebar sesuai perkembangan zaman ekspedisi/eksodus untuk mencari daerah baru yang lebih eksis untuk keturunan selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang mana daerah ini dulunya merupakan bekas Pusat Kerajaan Jawa yang sudah mendunia sampai ke mancanegara yang sering di sebut Nusantara di zaman itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Daerah kekuasaannya mencakup Thailand,siam,Burma,Malaysia,madagaskar(Nagarakertagama).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sehingga Ageman Leluhur kita dari dulu adalah Ageman Siwa Budha/Purusha Predhana/Pertiwi Akasa/Bumi Langit/Lingga Yoni yang sering disebut Kawitan kita “Shanghyang Sangkan Paraning Dumadi”sehingga Leluhur kita dulu bisa mencapai Moksah/Mokswa karena mampu menerapkan Ageman yang tidak ada duanya di Dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di zaman sekarang orang-orang belum bisa menerapkan karena tercemari&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;oleh pengaruh ageman lain yang sering mengambil jalan singkat bahkan mengajarkan “pengampunan Dosa”sedangkan yang namanya dosa tetap dosa ,yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah sesuai hukum karmapala,inilah keunikan Leluhur kita yang sulit diterapkan oleh ageman lain sehingga mencari jalan pintas langsung menuju jalan tol alternative langsung menuju Tuhan tanpa melalui tingkatan yang ada yaitu Leluhur Kawitan sesuai tingkatan-tingkatannya.&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="margin-right: -13.5pt; width: 600px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 22in;"&gt;   &lt;td style="height: 22in; padding: 0in; width: 6.25in;" valign="top" width="600"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keunikan Bali yang lain bisa   dilihat lewat bagaimana manusia Bali melakukan pembinaan kekerabatan secara   lahir dan batin. Manusia Bali begitu taat untuk tetap ingat dengan asal   muasal darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian melahirkan berbagai   golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa atau soroh. Begitu   banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki tempat pemujaan   keluarga secara tersendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tatanan masyarakat berdasarkan   soroh ini begitu kuat menyelimuti aktivitas kehidupan manusia Bali. Mereka   tetap mempertahankan untuk melestarikan silsilah yang mereka miliki. Mereka   dengan seksama dan teliti tetap menyimpan berbagai prasasti yang didalamnya   berisi bagaimana silsilah sebuah keluarga Bali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Beberapa soroh yang selama ini   dikenal misalnya Warga Pande, Sangging, Bhujangga Wesnawa, Pasek, Dalem   Tarukan, Tegeh Kori, Pulasari, Arya, Brahmana Wangsa, Bali Aga dan lainnya.   Semuanya memiliki sejarah turun-temurun yang berbeda. Meski begitu, akhirnya   mereka bertemu dalam siklus keturunan yang disebut Hyang Pasupati. Begitu   unik dan menarik memahami kehidupan manusia Bali dalam kaitan mempertahankan   garis leluhurnya tersebut. Sebagian kehidupan ritual mereka juga diabdikan   untuk kepentingan pemujaan terhadap leluhur mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Identifikasi Orang Bali &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suku bangsa Bali merupakan kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan   kesatuan budayanya, kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama.   Walaupun ada kesadaran tersebut, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak   variasi serta perbedaan setempat. Agama Hindhu yang telah lama   terintegrasikan ke dalam masyarakat Bali, dirasakan juga sebagai unsur yang   memperkuat adanya kesadaran kesatuan tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perbedaan pengaruh dari kebudayaan   Jawa&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;di berbagai daerah di Bali dalam   jaman Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat Bali, yaitu   masyarakat Bali - Aga dan masyarakat Bali Majapahit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Masyarakat Bali Aga kurang sekali   mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa&lt;span&gt;&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada   umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga   Sidatapa, pedawa, Tiga was, di Kabupaten Buleleng dan desa tenganan   Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Orang Bali Majapahit yang pada umumnya   diam didaerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk   Bali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pulau Bali yang luasnya 5808,8 Km2   dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga   membentuk dataran yang agak sempit. di sebelah utara., dan dataran yang lebih   besar disebelah selatan. Pegunungan tersebut yang sebagian besar masih   tertutup oleh hutan rimba, mempunyai arti yang penting dalam pandangan hidup   dan kepercayaan penduduk. di wilayah pegunungan itulah terletak Parahyangan   (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti Pura Pulaki, Pura   Batukaru, dan yang terutama sekali Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung   Agung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sedangkan arah membujur dari gunung   tersebut telah menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang Bali   utara dan Orang Bali selatan. Dalam Bahasa Bali, kaja berarti ke gunung, dan   kelod berarti ke laut. Untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan, sedangkan   untuk orang Bali selatan kaja berarti utara. Sebaliknya kelod untuk orang   Bali utara berarti utara, dan untuk orang bali selatan berarti selatan.   Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali, tapi   juga dalam aspek kesenian dan juga sedikit aspek bahasa. Konsep kaja kelod   itu nampak juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara agama, letak   susunan bangunan-bangunan rumah suci dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bahasa Bali termasuk keluarga   bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya,   maka bahsa Bali tak jauh berbeda dari bahsa Indonesia lainnya. Peninggalan   prasasti zaman kuno menunjukkan adanya&lt;span&gt;&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;suatu bahasa Bali kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa   Bali kuno tersebut disamping banyak mengandung bahasa Sansekerta, pada masa   kemudiannya juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit,   ialah jaman waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa   Bali mengenal juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata   hormat", walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa.   Bahasa hormat (bahasa halus) dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua   atau tinggi. Di Bali juga berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik   dalam bentuik puisi maupun prosa. Disamping itu sampai saat ini di bali   didapati juga sejumlah hasil kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) dalam bentuk   prosa maupun puisi yang dibawa ke Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan   kerajaan Majapahit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sistem Kekerabatan Orang Bali&lt;br /&gt;
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali,   karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari   masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang   warga komuniti dan warga kelompok kerabat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menurut anggapan adat lama yang   amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem warna(wangsa), maka   perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau   setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat dalam warna. Demikian,   perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen, sedangkan perkawinan yang   dicita-citakan oleh orang Bali yang masih Kolot adalah perkawinan antara   anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. Keadaan ini memang menyimpang   dari lain-lain masyarakat yang berklen, yang pada umumnya bersifat exogam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Orang-orang se-klen di Bali itu,   adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama, dan   demikian juga dalam warna, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas   klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan dan noda-noda keluarga   yang akan terjadi akibat perkawinan antar warna yang berbeda derajatnya.   Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari warna yang tinggi   jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat warnanya, karena   perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta menjatuhkan gengsi   dari seluruh warna dari anak wanita tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dahulu, apabila ada perkawinan   semacam itu, maka wanitannya akan dinyatakan keluar dari dadianya, dan secara   fisik suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama, ketempat   yang jauh dari tempat asalnya. Semenjak tahun 1951, hukuman sermacam itu   tidak pernah dijalankan lagi, dan pada saat ini hukuman campuran semacam itu   relatif lebih banyak dilaksanakan. Bentuk perkawinan lain yang dianggap pantang   adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara   laki-laki istri (makedengan ngad), karena perkawinan yang demikian itu   dianggap dapat mendatangkan bencana (panes). Pada umumnya, seorang pemuda   Bali memperoleh seorang istri dengan dua cara, yaitu dengan meminang   (memadik, ngidih) kepada keluarga gadis, atau dengan cara melarikan seorang   gadis (mrangkat,ngrorod). Kedua cara diatas berdasarkan adat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sesudah pernikahan, suami-istri   yang baru biasanya menetap secara virilokal dikomplek perumahan dari orang   tua suami, walapun tidak sedikit suami istri yang menetap secara neolokal   dengan mencari atau membangun rumah baru. Sebaliknya ada pula suami istri   baru yang menetap secara uxorilokal dikomplek perumahan dari keluarga istri   (nyeburin). Kalau suami istri menetap secara virilokal, maka anak-anak   keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa),   dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen   tersebut. Sebaliknya, keturunan dari suami istri yang menetap secara   uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si   istri, dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si   istri adalah sebagai sentana predhana(penerus keturunan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Suatu rumah tangga di Bali   biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami, sering   ditambah dengan anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka   masing-masing dan dengan orang lain yang menumpang, baik orang yang masih   kerabat maupun orang yang bukan kerabat. Beberapa waktu kemudian terdapat   anak laki-laki yang sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mampu   untuk berdiri sendiri, memisahkan diri dari orang tua dan mendirikajn rumah   tangga sendiri yang baru. Salah satu anak laki-laki biasanya tetap tinggal di   komplek perumahan orang tua (ngerob), untuk nanti dapat membantu orang tua   mereka kalau sudah tidak berdaya lagi dan untuk selanjutnya menggantikan dan   melanjutkan rumah tangga orang tua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tiap-tiap keluarga batih maupun   keluarga luas, dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan   kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Strutur   tunggal dadia ini berbeda-beda di berbagai tempat di Bali. Di desa-desa   pegunungan, orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup   neolokal, tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing   tempat kediamannya. didesa-desa tanah datar, orang-orang dari tunggal dadia   yang hidup neolokal wajib mendirikan mendirikan tempat pemujaan di masing-nasing   kediamannya, yang disebut kemulan taksu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Disamping itu, keluarga batih yang   hidup neolokal masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap kuil asal (dadia   atau sanggah) di rumah orang tua mereka.Suatu pura ditingkat dadia merayakan   upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya, dan dengan   demikian pura/kuil tersebut mempersatukan dan mengintensifkan rasa   solidaritet anggota-anggota dari suatu klen kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di samping itu ada lagi kelompok   kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia   (sanggah) yang memuja kawitan leluhur yang sama disebut kelenteng (pura)   paibon atau panti. Dalam prakteknya, suatu tempat pemujaan di tingkat paibon   juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang   masih dikenal hubungannya saja. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu   sejarah asal-usul yang ditulis dalam bentuk babad dan prasasti yang disimpan   sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarga yang merasa dirinya   senior, ialah keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sistem Kemasyarakatan Orang Bali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Banjar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan   wilayah. Kesatuan sosial itu diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara   keagaman yang keramat. Didaerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya   terbatas pada orang yang lahir di wilayah banjar tersebut. Sedangkan didaerah   datar, sifat keanggotaannya tidak tertutup dan terbatas kepada orang-orang   asli yang lahir di banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah   lain dan kebetulan menetap di banjar bersangkutan dipersilakan untuk menjadi   anggota(krama banjar) kalau yang bersangkutan menghendaki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pusat dari&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;banjar adalah Bale banjar, dimana warga   banjar bertemu pada hari-hari yang tetap. Banjar dikepalai oleh seorang   kepala yang disebut Kelian banjar. Ia dipilih dengan masa jabatab tertentu   oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam   lapangan kehidupan sosial dari banjar sebagai suatu komuniti, tapi juga   lapangan kehidupan keagamaan. Kecuali itu ia juga harus memecahkan masalah   yang menyangkut Desa adat. Kadang kelian banjar juga mengurus hal-hal yang   sifatnya berkaitan dengan administrasi pemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Subak &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
Subak di Bali seolah-olah lepas dari dari Banjar dan mempunyai kepala   sendiri. Orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama dengan orang yang   menjadi anggota banjar. Warga subak adalah pemilik atau para penggarap sawah   yang yang menerima air irigasinya dari dari bendungan-bendungan yang diurus   oleh suatu subak. Sudah tentu tidak semua warga subak tadi hidup dalam suatu   banjar. Sebaliknya ada seorang warga banjar yang mempunyai banyak sawah yang   terpencar dan mendapat air irigasi dari bendungan yang diurus oleh beberapa   subak. Dengan demikian warga banjar tersebtu akan menggabungkan diri dengan   semua subak dimana ia mempunya sebidang sawah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sekaha &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali, ada organisasi-organisasi yang   bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus, ialah sekaha. organisasi ini   bersifat turun-temurun, tapi ada pula yang bersifat sementara. Ada sekaha   yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang   berkenan dengan desa, misalnya sekaha baris/sanggar tari Baris (perkumpulan   tari baris), sekaha teruna-teruni. Sekaha tersebut sifatnya permanen, tapi   ada juga sekaha yang sifatnya sementara, yaitu sekaha yang didirikan   berdasarkan atas suatu kebutuhan tertentu, misalnya sekaha memula   (perkumpulan menanam), sekaha manyi (perkumpulan menuai), sekaha gong   (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. sekaha-sekaha di atas biasanya merupakan   perkumpulan yang terlepas dari organisasi banjar maupun desa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gotong - Royong&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat Bali dikenal sistem gotong   royong (nguopin) yang meliputi lapangan-lapangan aktivitas di sawah (seperti   menanem, menyiangi, panen dan sebagainya), sekitar rumah tangga (memperbaiki   atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainya), dalam   perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga,   atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. nguopin antara individu   biasanya dilandasi oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib   dibalas dengan bantuan tenaga juga. kecuali nguopin masih ada acara gotong   royong antara sekaha dengan sekaha. Cara serupa ini disebut ngedeng   (menarik). Misalnya suatu perkumpulan gamelan ditarik untuk ikut serta dalam   menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. bentuk yang   terakhir adalah kerja bhakti (&lt;b&gt;ngayah&lt;/b&gt;)   untuk keprluan agama,masyarakat maupun pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kesatuan-kesatuan sosial di atas,   biasanya mempunyai pemimpin dan mempunyai kitab-kitab peraturan tertulis yang   disebut awig-awig atau sima. Pemimpin biasanya dipilih oleh warganya.   Klen-klen juga mempunyai tokoh penghubung yang bertugas memelihara hubungan   antara warga-warga klen, menjadi penasehat bagi para warga mengenai seluk   beluk adat dan peristiwa-peristiwa yang bersangkaut paut dengan klen. Tokoh   klen serupa itu di sebut moncol. Klen tersebut tidak mempunyai peraturan   tertulis, akan tetapi mempunya silsilah/babad. Ditingkat desa ada   kesatuan-kesatuan administratif yang disebut perbekelan. Suatu perbekelan   yang sebenarnya merupakan warisan dari pemerintah Belanda, diletakkan diatas   kesatuan-kesatuan adat yang asli di Bali, seperti desa adat dan banjar. Maka   terdapatlah gabungan-gabungan dari banjar dan desa ke dalam suatu perbekelan   yang dipimpin oleh perbekel atau bendesa yang secara administratif   bertanggung jawab terhadap atasannya yaitu camat, dan seterusnya camat   bertanggung jawab kepada bupati.dst dsb. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span&gt;(sebagian   teks diambil dari babad Bali di tambah babad Jawa/Majapahit).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-7789352777572926730?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/7789352777572926730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/palingih-meru-tumpang-xi-hyang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7789352777572926730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7789352777572926730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/palingih-meru-tumpang-xi-hyang.html' title='PALINGIH MERU TUMPANG XI HYANG WISESA/BRAHMARAJA I DI PURA BESAKIH'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-7535182776962416232</id><published>2011-01-20T22:08:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T22:08:57.004-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>TUJUH TOKOH SUCI YANG BERPENGARUH DALAM PERKEMBANGAN HINDU DI BALI /SAPTO PANDITHO.</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C02%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C02%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C02%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h1
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 1 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:24.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:1;
	font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	mso-font-kerning:0pt;}
h2
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 2 Char";
	mso-margin-top-alt:auto;
	margin-right:0in;
	mso-margin-bottom-alt:auto;
	margin-left:0in;
	mso-pagination:widow-orphan;
	mso-outline-level:2;
	font-size:18.0pt;
	font-family:"Times New Roman","serif";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
a:link, span.MsoHyperlink
	{mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	color:blue;
	mso-themecolor:hyperlink;
	text-decoration:underline;
	text-underline:single;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
	{mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	color:purple;
	mso-themecolor:followedhyperlink;
	text-decoration:underline;
	text-underline:single;}
p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing
	{mso-style-priority:1;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
span.Heading1Char
	{mso-style-name:"Heading 1 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 1";
	mso-ansi-font-size:14.0pt;
	mso-bidi-font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	font-weight:bold;}
span.Heading2Char
	{mso-style-name:"Heading 2 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 2";
	mso-ansi-font-size:18.0pt;
	mso-bidi-font-size:18.0pt;
	font-family:"Times New Roman","serif";
	mso-ascii-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-hansi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	font-weight:bold;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2 style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Agama Hindu di Bali tampak sangat berbeda dengan Hindu di Luar Bali,meski demikian secara filsafat Hindu di Bali memang tidak berbeda dengan Hindu di luar Bali (Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa) yaitu mendasarkan diri pada Panca Sraddha :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkftiEhsjI/AAAAAAAAAaQ/2uNZqGAn7vA/s1600/Pandito+Ratu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkftiEhsjI/AAAAAAAAAaQ/2uNZqGAn7vA/s320/Pandito+Ratu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;1. Percaya dengan adanya Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;2. Percaya dengan adanya Ataman/Roh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;3. Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;4. Percaya dengan adanya Reinkarnasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;5. Percaya dengan adanya Moksa/Nirvana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Secara ritual yang bisa kita lihat sehari-hari umat Hindu di Bali sungguh sangat unik, siapakah yang berperan dalam keunikan ini? berikut sekelumit penjelasan tentang perkembangan Hindu di Bali, semoga bisa menambah wawasan kita bersama. Dan bisa kita gunakan sebagai dasar panutan dalam melangkah sehingga bisa mewujudkan kedamaian di hati, di dunia dan dimanapun…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;TUJUH TOKOH SUCI DALAM PERKEMBANGAN HINDU DI BALI :&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;1. DANGHYANG MARKANDEYA &lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pada abad ke-8 beliau mendapat pencerahan di &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Gunung Di Hyang&lt;/span&gt; (sekarang &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dieng, Jawa&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Timur&lt;/span&gt;) bahwa bangunan palinggih di &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tolangkir&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;(sekarang &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Besakih&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) harus ditanami &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;panca&lt;b&gt; &lt;/b&gt;datu&lt;/span&gt; yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.Setelah menetap di &lt;b&gt;Taro, Tegal lalang – Gianyar&lt;/b&gt;, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: &lt;b&gt;Surya sewana, Bebali (Banten), &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;Pecaruan&lt;/b&gt;. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan &lt;b&gt;Agama Bali&lt;/b&gt;.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan &lt;i&gt;bebali&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;banten&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu : &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Batur&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;Sukawana, Batukaru, Andakasa&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lempuyang&lt;/span&gt;.Beliau juga mendapat pencerahan ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Selain itu beliau mengenalkan hari &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tumpek Kandang &lt;/span&gt;untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rare Angon&lt;/span&gt; yang menciptakan darah, dan hari &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tumpek Pengatag&lt;/span&gt; untuk menghormati Hyang Widhi, digelari &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sanghyang Tumuwuh&lt;/span&gt; yang menciptakan getah.&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;br /&gt;
2. MPU SANGKULPUTIH&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Setelah &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Danghyang Markandeya&lt;/span&gt; moksah, &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mpu Sangkulputih&lt;/span&gt; meneruskan dan melengkapi ritual &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bebali &lt;/span&gt;antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.&lt;/span&gt;Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, &lt;/span&gt;Prawayah&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, &lt;/span&gt;dan Kabayan.Beliau juga pelopor pembuatan arca/&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;pralingga &lt;/span&gt;dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Piodalan &lt;/span&gt;di &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pura Besakih&lt;/span&gt; dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jabatan resmi beliau adalah &lt;/span&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt;"&gt;Sulinggih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkgbmmM6DI/AAAAAAAAAaU/7z7z41_Wzeo/s1600/Hyang+Wisesa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkgbmmM6DI/AAAAAAAAAaU/7z7z41_Wzeo/s320/Hyang+Wisesa.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;3. MPU KUTURAN&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;”SIRA EMPU KUTURAN INGARANAN EMPU RAJAKRETA MAHYUNTA AGAWE PARAHYANGAN SANE KAGAWA SAKING MOJOPAHIT KAUNGGAHANG RING BALI KABEH”beginilah bunyi lontar Sutasoma dimana beliau mendapat mandat dari Kerajaan Pusat di Jawa sehingga &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang &lt;/span&gt;&lt;b&gt;Brahmana &lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;dari &lt;/span&gt;&lt;b&gt;Majapahit &lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. &lt;/span&gt;Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;Diantara sekte-sekte tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah.Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.&lt;br /&gt;
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur. Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersepakat untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:&lt;br /&gt;
1. Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2. Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgel&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;3. Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padangbae)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;4. Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang).Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan. Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau telah melaksanakan upacara “Dwijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”. Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu :&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeru&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran.Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “&lt;b&gt;Ciwa Budha&lt;/b&gt;” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha.Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) sebagai Pencipta&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;Pura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa sebagai PemeliharaPura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Pengembali/Pelebur.Ketiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;Dalam Samuan Tiga juga dilahirkan suatu organisasi “Desa Pakraman” yang lebih dikenal sebagai “Desa Adat”.Dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, social, dan spiritual. Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama &lt;i&gt;Pura Samuan Tiga&lt;/i&gt;.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;Atas wahyu &lt;b&gt;Hyang Widhi&lt;/b&gt; beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep &lt;b&gt;Trimurti &lt;/b&gt;dalam wujud simbol palinggih &lt;b&gt;Kemulan Rong Tiga&lt;/b&gt; di tiap perumahan, &lt;b&gt;Pura Kahyangan Tiga&lt;/b&gt; di tiap Desa Adat, dan Pembangunan &lt;b&gt;Pura-pura Kiduling Kreteg&lt;/b&gt; (&lt;b&gt;Brahma&lt;/b&gt;), &lt;b&gt;Batumadeg &lt;/b&gt;(&lt;b&gt;Wisnu&lt;/b&gt;), dan &lt;b&gt;Gelap &lt;/b&gt;(&lt;b&gt;Siwa&lt;/b&gt;), serta &lt;b&gt;Padma Tiga&lt;/b&gt;, di &lt;b&gt;Besakih&lt;/b&gt;.Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;4. MPU MANIK ANGKERAN&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mpu Sangkulputih&lt;/span&gt; moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mpu Manik&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Angkeran&lt;/span&gt;. Beliau adalah &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Brahmana&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;dari &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Majapahit &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;putra &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Danghyang Siddimantra&lt;/span&gt;.Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatanbathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek(Buleleng Barat).&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkhOeAY5XI/AAAAAAAAAaY/ws1MKiyx6No/s1600/Palinggih+Brahmaraja+I.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkhOeAY5XI/AAAAAAAAAaY/ws1MKiyx6No/s320/Palinggih+Brahmaraja+I.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;5. MPU JIWAYA&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tenget&lt;/span&gt;) dan &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;pemasupati &lt;/span&gt;untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Heading2Char"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 115%;"&gt;6. DANGHYANG DWIJENDRA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;Atas wahyu &lt;b&gt;Hyang Widhi&lt;/b&gt; di &lt;b&gt;Purancak, Jembrana, &lt;/b&gt;Beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang bahwa di Bali perlu dikembangkan paham &lt;b&gt;Tripurusa &lt;/b&gt;yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai &lt;b&gt;Siwa, Sadha Siwa, &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;Parama Siwa&lt;/b&gt;. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.Jika konsep &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Trimurti &lt;/span&gt;dari &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mpu Kuturan&lt;/span&gt; adalah pemujaan &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hyang Widhi&lt;/span&gt; dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik.&lt;/span&gt;Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.&lt;br /&gt;
Karya sastra beliau yang terkenal antara lain&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; : &lt;/span&gt;Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;7.SRI WILATIKTA BRAHMARAJA XI&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;Diabad 21 ini kedatangan beliau ke Bali adalah sesuai dengan visi dan misi dalam mengurus kerabat Majapahit yang ada di Jawa Timur dan Bali yaitu untuk menegaskan kembali peradaban Hindu Bali dengan mempertebal keyakinan umat terhadap Leluhur/Kawitan dengan praktek nyata/karya nyata Beliau membikin dan memelihara kembali Palinggih Stana Kawitan Pusat di seluruh daerah yang ada di Jawa dan bali yaitu menyempurnakan kembali Pura Majapahit(Bali) dalam bidang &lt;b&gt;&lt;i&gt;Adat Budaya Nusantara&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; baik di wilayah Negara,Tabanan,Badung,Bangli,Singaraja,Gianyar,dan Karangasem lewat Budaya pemersatu kerukunan umat(Nguri nguri Leluhur).Karena umat sekarang lebih condong mencari jalan singkat langsung menuju Tuhan yang Maha Esa tanpa melalui jalur yang sudah ada yaitu jalur Kawitan, baru setelah itu kejenjang lebih tinggi untuk menuju ke Tuhan.Kapan Agama tidak mendukung Budaya maka kepunahan di ambang pintu dan begitu juga sebaliknya kapan agama menjunjung tinggi Budaya niscaya akan langgeng.Terbukti kita telah di wariskan oleh pendahulu untuk tetap memelihara bahkan meningkatkan serada bakti kita terhadap Leluhur Kawitan masing-masing untuk kembali ke Kawitan Pusat Majapahit Nusantara yang sudah di bangun sesuai kaidah Budaya leluhur . Penegasan dan penerapan kembali Ageman Hindu Bali yaitu sesuai dengan Bisama Empu Kuturan di Batu Anyar(Gianyar sekarang) yaitu Ageman &lt;b&gt;Siwa Budha &lt;/b&gt;yang diimflementasikan dengan membangun Klenteng/gedong palinggih di dalam satu areal Pura yang ada dan membangun Pagoda/Meru Tumpang di dalam satu areal Pura(kelemahan kita di Bali),sehingga kelihatan secara nyata(praktek nyata) bentuk penghormatan kita kepada Kawitan sesuai ageman siwa budha.Di Bali Gedong Ibu yang biasa kita temui di Pura Dalem Kayangan itu sama fungsinya dengan Kelenteng Cuma berlainan nama saja.Begitu juga keberadaan Pagoda/Meru tumpang yang lumrah di Bali mempergunakan atap ijuk di sesuaikan dengan zaman yaitu beratap cor/semen cor sesuai perkembangan zaman karena kita harus fleksibel memilih bahan bangunan alternative apabila nanti bahan ijuk atap sudah langka keberadaannya tanpa mempengaruhi estetika yang sudah ada.Memperkenalkan Arca-arca/Pratima Leluhur Kawitan Pusat(umurnya 100an tahun yang masih disimpan dan disungsung) yang dulunya khusus untuk persembahyangan Raja-raja di tanah Jawa untuk masyarakat umum guna lebih mempertebal srada bhakti&amp;nbsp; dalam pemusatan pikiran, sehingga bhakti kita tidak ngawur dan hampa.Ini lebih menyempurnakan untuk pendahulunya yaitu Danghyang Dwijendra dalam penerapan Padmasana(padma=lingga,asana=duduk)ARTINYA tempat duduk Beliau, beliau yang mana didudukkan di Padmasana yang kosong itu(ilmiah)……???jawabannya adalah Hyang Widhi/Tuhan dalam wujud/manifestasi apa yang kita sembah,jadi Hyang Widhi itu kita wujudkan dalam bentuk Lingga/Pratima sesuai yang kita Puja,misalnya semisal Dewa Siwa haruslah ada Pratima Siwa di rong Padmasana sehingga umat tidak memuja Kekosongan terutama bagi masyarakat awam,bagi yang sudah mengerti tidak menjadi masalah,tapi bagi masyarakat awam justru ini sama dengan pembodohan umat.Sehingga Sulinggih yang berhasil adalah ketika Beliau mampu memberikan umatnya pemahaman yang benar dan jelas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di Bali sekarang ini sering kita dengar dan digembar-gemborkan “&lt;i&gt;Ajeg Bali&lt;/i&gt;”tapi kenyataannya di masyarakat masih terdengar bentrok karena khasus Pelaba Pura,khasus kasepekang,khasus tidak boleh dikubur di setra desa adat dll dsb,justru kejadian ini berkembang di daerah yang Sulinggihnya Ngetop di Bali dengan Darmawacana-nya,tapi berbanding terbalik dengan prilaku umatnya(berita Koran).jadi kita kurang dalam penerapan Budha tatwa(budi pekerti luhur).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jadi kita memuja beliau jelas dan tidak sembunyi-sembunyi lagi(atau memang disembunyikan untuk egosentris bagi kaum tertentu saja),atau takut dikatakan pindah/menjiplak Agama Buddha(karena penganut Buddha lebih mengutamakan Arca/Pratima dalam pemujaannya),padahal kalau dicari sejarah Leluhur kita semua jelas berpulang dari Lingga Yoni/Bapak Ibu/Siwa Budha/Purusha Predhana/Akasa Pertiwi/Langit Bumi.Kebanyakan di Bali menganut Purusha tatwa dan mengambil hukum waris garis purusha(Siwa tatwa=penerapan ke luar/keatas tanpa noleh ke dalam) lebih mempokuskan serana bebantenan saja tanpa mampu menjabarkan makna dan filosofinya untuk masyarakat umum dan jarang mengambil hukum waris predana(Buddha tatwa=penerapan ke dalam).Dan ini sudah jelas dalam Bisama di “Pura Samuan Tiga”Gianyar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kenapa kita tidak menggabungkan keduanya yaitu pemujaan Purusha Predana dalam satu areal&amp;nbsp; pura(keluar dan kedalam) sehingga kita tidak lagi dipisah-pisah dan di cerai berai oleh pihak luar yang ingin merongrong Ageman kita yang di sebut &lt;b&gt;Ageman Budaya yang&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Adiluhung&lt;/b&gt;.coba pakai akal sehat(ilmiah) ,bagaimana seandainya bapak dan ibu dicerai sudah tentu anaknya juga tercerai berai luntang lantung tanpa punya pegangan dan didikan yang cukup,hidup melarat,hidup di garis kemiskinan,inikah yang diinginkan oleh Pentolan-pentolan orang Bali yang nigtig tangkah mebela pati untuk jagad Bali…..????.Jadi Beliau lebih menekankan penerapan dari “Ageman Siwa Budha”untuk diperdalam dan diimplementasikan dalam karya dan praktek nyata dan bukan hanya slogan semata.Inilah contoh Pura yang sudah di wariskan kepada anak cucunya dan sudah mengembangkan Ageman Siwa Budha di Bali,yaitu :Pura Tegeh Koripan(Penulisan), Pura Batur(Bangli),Pura Dalem Balingkang(Bangli),Pura Besakih(Karangasem),Pura Dalem Ped(Kelungkung),&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, terakhir yang paling baru adalah Pura Ibu Majapahit Jimbaran Badung(tempat beliau bermukim yaitu Puri Surya Majapahit). Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-Pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya dsb,dst&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;dll. Jadi semua Pura yang ada di Bali adalah sesuai dengan Lontar-lontar yang dibawa dari tanah jawa(Majapahit Pusat) yang diterapkan oleh keturunannya di Bali,begitulah adat Budaya yang sudah terkenal di seluruh jagad Raya ini jangan sampai kita tinggalkan beralih dengan ageman yang langsung menuju Tuhan tanpa melalui Kawitan sebelum kalian kwalat/Tulah kepada bisama Leluhur Kawitan semua.(lihat pis bolong dua sisi).&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkh3FxL9AI/AAAAAAAAAac/-vUqo1bMzX0/s1600/cahaya+kuning.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkh3FxL9AI/AAAAAAAAAac/-vUqo1bMzX0/s320/cahaya+kuning.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tidak ada larangan untuk belajar ke India,Mesir,Arab maupun Negeri Cina,tapi harus diseleksi mana yang sesuai untuk diterapkan di Tanah Ibu Pertiwi ini sehingga tidak bertentangan dengan adat Budaya Nusantara,katakan benar bila benar dan katakan keliru kalau memang keliru karena masih ada waktu untuk berbenah,selamat berkarya nyata….bersambung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-7535182776962416232?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/7535182776962416232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/tujuh-tokoh-suci-yang-berpengaruh-dalam_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7535182776962416232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7535182776962416232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2011/01/tujuh-tokoh-suci-yang-berpengaruh-dalam_20.html' title='TUJUH TOKOH SUCI YANG BERPENGARUH DALAM PERKEMBANGAN HINDU DI BALI /SAPTO PANDITHO.'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TTkftiEhsjI/AAAAAAAAAaQ/2uNZqGAn7vA/s72-c/Pandito+Ratu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-7616942739327980304</id><published>2010-12-24T20:04:00.000-08:00</published><updated>2010-12-24T20:04:50.869-08:00</updated><title type='text'>EMPU DAHADAN EMPU DAKA MENGAPIT PRABU AIRLANGGA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVfii2l4mI/AAAAAAAAAaA/jEMRCbS6sQw/s1600/20122010%2528010%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVfii2l4mI/AAAAAAAAAaA/jEMRCbS6sQw/s200/20122010%2528010%2529.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVdr8AItKI/AAAAAAAAAZw/upx4Bxhlgck/s1600/20122010%2528009%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVdr8AItKI/AAAAAAAAAZw/upx4Bxhlgck/s200/20122010%2528009%2529.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVd4BC7fMI/AAAAAAAAAZ0/7W4ffroqHnM/s1600/20122010%2528008%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVd4BC7fMI/AAAAAAAAAZ0/7W4ffroqHnM/s200/20122010%2528008%2529.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVeLuSDQ4I/AAAAAAAAAZ4/Uj6y3iEFnl4/s1600/20122010%2528007%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;KASUNYATAN DAN BUKAN DONGENG BAHWA SABDOPALON(EMPU DAHA) DAN NOYOGENGGONG(EMPU DAKA) MEMANG ADA BUKAN DONGENG DAN MASIH ADA PRATIMA/POTRET BELIAU.&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVeLuSDQ4I/AAAAAAAAAZ4/Uj6y3iEFnl4/s320/20122010%2528007%2529.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bertepatan dengan hari raya Kuningan di Bali Sri Brahmaraja XI mengunjungi dan sowan Leluhur tepatnya di bekas pertapaan Empu Daha dan Empu daka untuk membuktikan dan sekaligus menjelaskan bahwa Sabdopalon dan Noyogenggong itu bukan dongeng melainkan leluhur negeri ini yang merupakan Empu/Bagawantanya kerajaan di zamannya yaitu zaman dynasti Darmawangsa di tanah Jawa sampai zaman dinasty selanjutnya semasih Nusantara ini ada bahkan dari zaman Atlantis,yang mana beliau menurunkan keturunan di Jawa dan Bali yaitu warga Pasek/Paku Alam/Paku Buwono/Mangkunegaran/Mangkubumi dll dsb dan warga Pande/Kepandean(Pembuat pusaka-pusaka kerajaan/Empu keris) dan beliau amat terkenal dengan kewaskita-annya sampai sekarang keturunannya masih sakti-sakti sehingga merupakan ujung tombak dari Kerajaan selanjutnya yaitu di zaman Majapahit(Suryodiningrat) sangat kelihatan fungsi dan perannya.&lt;br /&gt;
Untuk itu ini kami tampilkan dokument asli relief candi untuk membuktikan keberadaan beliau yang di pewayangan sering disebut dengan Tawalen(Bali)Semar(Jawa)dan Merdah(Bali)Petruk(Jawa).&lt;br /&gt;
Bagaimana kalau leluhurnya sendiri dibilang Jin dan Setan..........................?????????????????????????.sudah tentu si Leluhur marah-marah dan ini merupaken sumber bencana di negeri dimana leluhur sendiri disepelekan dan leluhur orang lain di agung-agungkan(pakai logika).Anda boleh belajar sampai ke India,anda boleh belajar sampai ke Mekah,anda boleh belajar sampai ke Eropa,anda boleh belajar sampai ke negeri China untuk mendalami Ilmu yang baik untuk diterapkan dan sesuai dengan adat budaya Nusantara tanpa menghapus dan menggantinya dengan budaya luar yang belum tentu sesuai dengan Adat asli peninggalan leluhur Negeri ini,sehingga memperkaya Budaya Negeri ini.Karena budaya Asli Nusantara semakin punah ditelan zaman ,semoga tulisan kami ini bermakna bagi keturunan dan Pratisentana Beliau yang ada di Bali dan khususnya di tanah Jawi dan untuk menyambut kedatangan Pratima Beliau di iring dari Jawa dan akan di pendak mulai dari Gilimanuk(sesuai adat Bali di pendak dengan gong dan sarana lainnya )dilanjutkan dengan Upacara yang akan di adakan &amp;nbsp;di Pura Besakih Bali dalam rangka pergantian tahun 2010 ke 2011....................Rahayu.&lt;br /&gt;
Semoga Nusantara Thoto tentrem gemah rimpah loh jinawi tan kirang pangan kinum.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-7616942739327980304?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/7616942739327980304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/empu-dahadan-empu-daka-mengapit-prabu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7616942739327980304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7616942739327980304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/empu-dahadan-empu-daka-mengapit-prabu.html' title='EMPU DAHADAN EMPU DAKA MENGAPIT PRABU AIRLANGGA'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TRVfii2l4mI/AAAAAAAAAaA/jEMRCbS6sQw/s72-c/20122010%2528010%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-4743919233107049888</id><published>2010-12-11T19:42:00.001-08:00</published><updated>2011-09-11T19:28:06.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>PENELUSURAN JEJAK LELUHUR ARYA BLAHMANUKAN</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h1
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 1 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:24.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:1;
	font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	mso-font-kerning:0pt;}
p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle
	{mso-style-priority:11;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Subtitle Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	letter-spacing:.75pt;
	font-style:italic;}
span.Heading1Char
	{mso-style-name:"Heading 1 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 1";
	mso-ansi-font-size:14.0pt;
	mso-bidi-font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	font-weight:bold;}
span.SubtitleChar
	{mso-style-name:"Subtitle Char";
	mso-style-priority:11;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:Subtitle;
	mso-ansi-font-size:12.0pt;
	mso-bidi-font-size:12.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	letter-spacing:.75pt;
	font-style:italic;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s1600/Meru+.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s320/Meru+.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 style="margin-right: -0.5in; text-indent: -40.5pt;"&gt;MEN&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berawal dari keterpencilan kami di suatu desa sebelah barat daya dari perbatasan kabupaten Tabanan dan sebelah Selatan(Kaja bagi Bll) kabupaten Buleleng yang nama desanya adalah Blahmanukan(Brah Manu Kang) ,kami menelusuri jejak Leluhur Arya&amp;nbsp; Blahmanukan yang keberadaannya sangat terpencil dan masuk ke daerah dataran tinggi pegunungan Batur Karegan sebelah Utara Gunung Batukaru.Sesuatu yang sangat mengesankan di benak kami di tengah-tengah desa terdapat Palinggih Meru Tumpang 9 &amp;nbsp;menjulang tinggi di depan pinggir jalan bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa setempat.Adalah sesuatu bangunan yang seolah-olah mengingatkan pada setiap orang yang lewat bahwasanya di tempat terpencil dan jauh dari keramaian kota masih tersimpan sesuatu yang sangat unik dari peninggalan Leluhur untuk memberitahukan kepada keturunannya bahwa anda adalah keturunan Anak Menak(darah biru).Tetapi anehnya satupun warga desa tidak ada yang bergelar&amp;nbsp; Gusti,atau di atasnya sampai kami mencari keturunan setempat.Dan anehnya posisi desa di kelilingi oleh air baik dari Hulu sampai ke hilir,maupun kiri kanan desa dikelilingi air,sehingga kalau dibikin peta ada mata air dari segala penjuru seolah-olah tanah desa muncul dari dalam Air.Di Hulu(Utara) desa kami menemukan peninggalan Pra Sejarah yaitu berupa &lt;span class="SubtitleChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Punden Berundak.danMenhir berlubang 9.entah apa maknanya sampai sekarah masih penyelidikan…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lebih keatas lagi di daerah pegunungan kutemukan Batu Piramid yang bisa berubah posisi sesuai arah mata Angin.Yang mana menurut Tetua yang dapat kami percayai adalah Lingga Dewa Siwa(Lingga Yoni)seolah-olah seperti gampang mencopotnya dari tanah namun sukar dicabut dan bisa digoyangkan ke segala arah yang mana kalau ada bencara Batu Linggam/Piramid/Tumpeng/Gunung itu condok kea rah mata angin dilokasi bencana yang terjadi,misalnya kalau condong kearah barat maka bencana ada diarah barat &amp;nbsp;desa demikian seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sekarang kita bergerak ke Timur dari desa terdapat pancuran yang sangat terkenal di seluruh pelosok desa bahkan sampai ke daerah Badung(Bali Selatan)mengenalnya tapi lewat pawisik/bisikan Gaib dan banyak terbukti keampuhannya yang sering disebut pancuran “&lt;i&gt;Yeh Mantra&lt;/i&gt;”.penunggu dari tirta yeh Mantra ini adalah berupa belut putih dan pada hari tertentu menampakkan diri kepada warga yang dating dengan niat membersihkan diri dari segala kekotoran jasmani dan rohani,dulu diceritrakan ada orang luar yang berkehendak untuk memohon air suci kepada Beliau yang berstana disana untuk pengobatan namun si pemohon lupa menaruh air ke dalam sibuh(tempat air dari batok kelapa),dan secara tiba-tiba sibuh bergerak sendiri disertai dengan terdengarnya mantra-mantra wingit keluar dari dalam sibuh dan aneh bin ajaib sibuh sudah berisi air suci jernih layak dikonsumsi .Dengan kejadian yang aneh bin ajaib serta kemukzisatan Beliau yang berstana di sana member berkah dan restu sehingga Pancuran sejak saat itu di beri nama Pancuran Yeh Mantra/Tirta Mantra yang mana di dalam dasar telaga mata air konon tersimpan Lontar-Lontar Kuno peninggalan Hyang Sidhimantra ketika beliau datang dari Jawa untuk mencari anaknya ke Besakih yaitu Manik Angkeran karena lama tidak pulang ke Jawa.Di tempat inilah beliau menyimpan pusaka-pusaka Jawa yang dipendam dengan kekuatan mantra beliau ditutup dengan Air dan di tunggu oleh Belut Putih.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sebelah Barat desa terdapat pancuran dan aliran sungai Yeh Saba yang hilirnya ada di daerah Seririt sampai di laut lepas dan airnya sangat besar karena hulunya ada di pengunungan di atas desa Cuma 6 km dari desa dan kami pernah main ke Hulu sambil mendaki dan airnya sangat jernih bahkan satwa/binatang gunung masih lestari hidup di pegunungan baik Kijang dan satwa lainnya tidak terusik sama sekali.Dan konon pancuran ini untuk pengobatan sampai-sampai nama dusun di barat desa namanya &lt;i&gt;Dusun Obatan.&lt;b&gt;Disini kami menemukan sesuatu simbol kuno yang sangat mengagumkan yang sampai sekarang kami bawa kemanapun kami berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di selatan desa kami merupakan tempat Pemelastian Ida Bhatara kalau ada upacara Melasti karena desa ini jauh dari pesisir pantai atau laut dan dulu sekali waktu kami masih anak-anak melihat air merah total yang menurut penuturan Tetua adalah tersimpannya Mirah Delima asli untuk penyengker desa oleh leluhur pendahulu kami,bersambung…………&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-4743919233107049888?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/4743919233107049888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/penelusuran-jejak-leluhur-arya_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/4743919233107049888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/4743919233107049888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/penelusuran-jejak-leluhur-arya_11.html' title='PENELUSURAN JEJAK LELUHUR ARYA BLAHMANUKAN'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s72-c/Meru+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-2657342031132803601</id><published>2010-12-11T19:41:00.003-08:00</published><updated>2011-09-11T19:28:06.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>PENELUSURAN JEJAK LELUHUR ARYA BLAHMANUKAN</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h1
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 1 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:24.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:1;
	font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	mso-font-kerning:0pt;}
p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle
	{mso-style-priority:11;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Subtitle Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	letter-spacing:.75pt;
	font-style:italic;}
span.Heading1Char
	{mso-style-name:"Heading 1 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 1";
	mso-ansi-font-size:14.0pt;
	mso-bidi-font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	font-weight:bold;}
span.SubtitleChar
	{mso-style-name:"Subtitle Char";
	mso-style-priority:11;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:Subtitle;
	mso-ansi-font-size:12.0pt;
	mso-bidi-font-size:12.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	letter-spacing:.75pt;
	font-style:italic;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s1600/Meru+.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s320/Meru+.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 style="margin-right: -0.5in; text-indent: -40.5pt;"&gt;MEN&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berawal dari keterpencilan kami di suatu desa sebelah barat daya dari perbatasan kabupaten Tabanan dan sebelah Selatan(Kaja bagi Bll) kabupaten Buleleng yang nama desanya adalah Blahmanukan(Brah Manu Kang) ,kami menelusuri jejak Leluhur Arya&amp;nbsp; Blahmanukan yang keberadaannya sangat terpencil dan masuk ke daerah dataran tinggi pegunungan Batur Karegan sebelah Utara Gunung Batukaru.Sesuatu yang sangat mengesankan di benak kami di tengah-tengah desa terdapat Palinggih Meru Tumpang 9 &amp;nbsp;menjulang tinggi di depan pinggir jalan bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa setempat.Adalah sesuatu bangunan yang seolah-olah mengingatkan pada setiap orang yang lewat bahwasanya di tempat terpencil dan jauh dari keramaian kota masih tersimpan sesuatu yang sangat unik dari peninggalan Leluhur untuk memberitahukan kepada keturunannya bahwa anda adalah keturunan Anak Menak(darah biru).Tetapi anehnya satupun warga desa tidak ada yang bergelar&amp;nbsp; Gusti,atau di atasnya sampai kami mencari keturunan setempat.Dan anehnya posisi desa di kelilingi oleh air baik dari Hulu sampai ke hilir,maupun kiri kanan desa dikelilingi air,sehingga kalau dibikin peta ada mata air dari segala penjuru seolah-olah tanah desa muncul dari dalam Air.Di Hulu(Utara) desa kami menemukan peninggalan Pra Sejarah yaitu berupa &lt;span class="SubtitleChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Punden Berundak.danMenhir berlubang 9.entah apa maknanya sampai sekarah masih penyelidikan…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lebih keatas lagi di daerah pegunungan kutemukan Batu Piramid yang bisa berubah posisi sesuai arah mata Angin.Yang mana menurut Tetua yang dapat kami percayai adalah Lingga Dewa Siwa(Lingga Yoni)seolah-olah seperti gampang mencopotnya dari tanah namun sukar dicabut dan bisa digoyangkan ke segala arah yang mana kalau ada bencara Batu Linggam/Piramid/Tumpeng/Gunung itu condok kea rah mata angin dilokasi bencana yang terjadi,misalnya kalau condong kearah barat maka bencana ada diarah barat &amp;nbsp;desa demikian seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sekarang kita bergerak ke Timur dari desa terdapat pancuran yang sangat terkenal di seluruh pelosok desa bahkan sampai ke daerah Badung(Bali Selatan)mengenalnya tapi lewat pawisik/bisikan Gaib dan banyak terbukti keampuhannya yang sering disebut pancuran “&lt;i&gt;Yeh Mantra&lt;/i&gt;”.penunggu dari tirta yeh Mantra ini adalah berupa belut putih dan pada hari tertentu menampakkan diri kepada warga yang dating dengan niat membersihkan diri dari segala kekotoran jasmani dan rohani,dulu diceritrakan ada orang luar yang berkehendak untuk memohon air suci kepada Beliau yang berstana disana untuk pengobatan namun si pemohon lupa menaruh air ke dalam sibuh(tempat air dari batok kelapa),dan secara tiba-tiba sibuh bergerak sendiri disertai dengan terdengarnya mantra-mantra wingit keluar dari dalam sibuh dan aneh bin ajaib sibuh sudah berisi air suci jernih layak dikonsumsi .Dengan kejadian yang aneh bin ajaib serta kemukzisatan Beliau yang berstana di sana member berkah dan restu sehingga Pancuran sejak saat itu di beri nama Pancuran Yeh Mantra/Tirta Mantra yang mana di dalam dasar telaga mata air konon tersimpan Lontar-Lontar Kuno peninggalan Hyang Sidhimantra ketika beliau datang dari Jawa untuk mencari anaknya ke Besakih yaitu Manik Angkeran karena lama tidak pulang ke Jawa.Di tempat inilah beliau menyimpan pusaka-pusaka Jawa yang dipendam dengan kekuatan mantra beliau ditutup dengan Air dan di tunggu oleh Belut Putih.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sebelah Barat desa terdapat pancuran dan aliran sungai Yeh Saba yang hilirnya ada di daerah Seririt sampai di laut lepas dan airnya sangat besar karena hulunya ada di pengunungan di atas desa Cuma 6 km dari desa dan kami pernah main ke Hulu sambil mendaki dan airnya sangat jernih bahkan satwa/binatang gunung masih lestari hidup di pegunungan baik Kijang dan satwa lainnya tidak terusik sama sekali.Dan konon pancuran ini untuk pengobatan sampai-sampai nama dusun di barat desa namanya &lt;i&gt;Dusun Obatan.&lt;b&gt;Disini kami menemukan sesuatu simbol kuno yang sangat mengagumkan yang sampai sekarang kami bawa kemanapun kami berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di selatan desa kami merupakan tempat Pemelastian Ida Bhatara kalau ada upacara Melasti karena desa ini jauh dari pesisir pantai atau laut dan dulu sekali waktu kami masih anak-anak melihat air merah total yang menurut penuturan Tetua adalah tersimpannya Mirah Delima asli untuk penyengker desa oleh leluhur pendahulu kami,bersambung…………&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-2657342031132803601?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/2657342031132803601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/penelusuran-jejak-leluhur-arya_3399.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/2657342031132803601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/2657342031132803601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/penelusuran-jejak-leluhur-arya_3399.html' title='PENELUSURAN JEJAK LELUHUR ARYA BLAHMANUKAN'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s72-c/Meru+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-3803881003144749057</id><published>2010-12-11T19:41:00.001-08:00</published><updated>2010-12-11T19:41:49.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>PENELUSURAN JEJAK LELUHUR ARYA BLAHMANUKAN</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 415 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h1
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 1 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:24.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:1;
	font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	mso-font-kerning:0pt;}
p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle
	{mso-style-priority:11;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Subtitle Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	letter-spacing:.75pt;
	font-style:italic;}
span.Heading1Char
	{mso-style-name:"Heading 1 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 1";
	mso-ansi-font-size:14.0pt;
	mso-bidi-font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	font-weight:bold;}
span.SubtitleChar
	{mso-style-name:"Subtitle Char";
	mso-style-priority:11;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:Subtitle;
	mso-ansi-font-size:12.0pt;
	mso-bidi-font-size:12.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#4F81BD;
	mso-themecolor:accent1;
	letter-spacing:.75pt;
	font-style:italic;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s1600/Meru+.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s320/Meru+.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 style="margin-right: -0.5in; text-indent: -40.5pt;"&gt;MEN&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berawal dari keterpencilan kami di suatu desa sebelah barat daya dari perbatasan kabupaten Tabanan dan sebelah Selatan(Kaja bagi Bll) kabupaten Buleleng yang nama desanya adalah Blahmanukan(Brah Manu Kang) ,kami menelusuri jejak Leluhur Arya&amp;nbsp; Blahmanukan yang keberadaannya sangat terpencil dan masuk ke daerah dataran tinggi pegunungan Batur Karegan sebelah Utara Gunung Batukaru.Sesuatu yang sangat mengesankan di benak kami di tengah-tengah desa terdapat Palinggih Meru Tumpang 9 &amp;nbsp;menjulang tinggi di depan pinggir jalan bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa setempat.Adalah sesuatu bangunan yang seolah-olah mengingatkan pada setiap orang yang lewat bahwasanya di tempat terpencil dan jauh dari keramaian kota masih tersimpan sesuatu yang sangat unik dari peninggalan Leluhur untuk memberitahukan kepada keturunannya bahwa anda adalah keturunan Anak Menak(darah biru).Tetapi anehnya satupun warga desa tidak ada yang bergelar&amp;nbsp; Gusti,atau di atasnya sampai kami mencari keturunan setempat.Dan anehnya posisi desa di kelilingi oleh air baik dari Hulu sampai ke hilir,maupun kiri kanan desa dikelilingi air,sehingga kalau dibikin peta ada mata air dari segala penjuru seolah-olah tanah desa muncul dari dalam Air.Di Hulu(Utara) desa kami menemukan peninggalan Pra Sejarah yaitu berupa &lt;span class="SubtitleChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Punden Berundak.danMenhir berlubang 9.entah apa maknanya sampai sekarah masih penyelidikan…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lebih keatas lagi di daerah pegunungan kutemukan Batu Piramid yang bisa berubah posisi sesuai arah mata Angin.Yang mana menurut Tetua yang dapat kami percayai adalah Lingga Dewa Siwa(Lingga Yoni)seolah-olah seperti gampang mencopotnya dari tanah namun sukar dicabut dan bisa digoyangkan ke segala arah yang mana kalau ada bencara Batu Linggam/Piramid/Tumpeng/Gunung itu condok kea rah mata angin dilokasi bencana yang terjadi,misalnya kalau condong kearah barat maka bencana ada diarah barat &amp;nbsp;desa demikian seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sekarang kita bergerak ke Timur dari desa terdapat pancuran yang sangat terkenal di seluruh pelosok desa bahkan sampai ke daerah Badung(Bali Selatan)mengenalnya tapi lewat pawisik/bisikan Gaib dan banyak terbukti keampuhannya yang sering disebut pancuran “&lt;i&gt;Yeh Mantra&lt;/i&gt;”.penunggu dari tirta yeh Mantra ini adalah berupa belut putih dan pada hari tertentu menampakkan diri kepada warga yang dating dengan niat membersihkan diri dari segala kekotoran jasmani dan rohani,dulu diceritrakan ada orang luar yang berkehendak untuk memohon air suci kepada Beliau yang berstana disana untuk pengobatan namun si pemohon lupa menaruh air ke dalam sibuh(tempat air dari batok kelapa),dan secara tiba-tiba sibuh bergerak sendiri disertai dengan terdengarnya mantra-mantra wingit keluar dari dalam sibuh dan aneh bin ajaib sibuh sudah berisi air suci jernih layak dikonsumsi .Dengan kejadian yang aneh bin ajaib serta kemukzisatan Beliau yang berstana di sana member berkah dan restu sehingga Pancuran sejak saat itu di beri nama Pancuran Yeh Mantra/Tirta Mantra yang mana di dalam dasar telaga mata air konon tersimpan Lontar-Lontar Kuno peninggalan Hyang Sidhimantra ketika beliau datang dari Jawa untuk mencari anaknya ke Besakih yaitu Manik Angkeran karena lama tidak pulang ke Jawa.Di tempat inilah beliau menyimpan pusaka-pusaka Jawa yang dipendam dengan kekuatan mantra beliau ditutup dengan Air dan di tunggu oleh Belut Putih.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sebelah Barat desa terdapat pancuran dan aliran sungai Yeh Saba yang hilirnya ada di daerah Seririt sampai di laut lepas dan airnya sangat besar karena hulunya ada di pengunungan di atas desa Cuma 6 km dari desa dan kami pernah main ke Hulu sambil mendaki dan airnya sangat jernih bahkan satwa/binatang gunung masih lestari hidup di pegunungan baik Kijang dan satwa lainnya tidak terusik sama sekali.Dan konon pancuran ini untuk pengobatan sampai-sampai nama dusun di barat desa namanya &lt;i&gt;Dusun Obatan.&lt;b&gt;Disini kami menemukan sesuatu simbol kuno yang sangat mengagumkan yang sampai sekarang kami bawa kemanapun kami berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di selatan desa kami merupakan tempat Pemelastian Ida Bhatara kalau ada upacara Melasti karena desa ini jauh dari pesisir pantai atau laut dan dulu sekali waktu kami masih anak-anak melihat air merah total yang menurut penuturan Tetua adalah tersimpannya Mirah Delima asli untuk penyengker desa oleh leluhur pendahulu kami,bersambung…………&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-3803881003144749057?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/3803881003144749057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/penelusuran-jejak-leluhur-arya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3803881003144749057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3803881003144749057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/12/penelusuran-jejak-leluhur-arya.html' title='PENELUSURAN JEJAK LELUHUR ARYA BLAHMANUKAN'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TQRDdcZH_nI/AAAAAAAAAZs/4HKvO2t-oos/s72-c/Meru+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-5481592711330860126</id><published>2010-10-29T22:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-31T00:54:04.387-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Pura Bukit Darma Kutri kaitannya dengan Pura Ibu Majapahit Pusat.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Om Swastyastu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TMunCz92VaI/AAAAAAAAAZg/WzRN-_uNtTk/s1600/Foto030.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TMunCz92VaI/AAAAAAAAAZg/WzRN-_uNtTk/s320/Foto030.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Pada waktu Raja Udayana (Dinasti Warmadewa/Mulawarma/Miauliwarma) memerintah di Bali sekitar abad X Masehi, masuknya Adat budaya Jawa ke Bali mulai agak deras sampai pada zaman Majapahit sebagai puncaknya. Pura Bukit Darma di Kutri, Desa Buruan, Blahbatuh ini sebagai salah satu buktinya. Pura Bukit Darma hasil budaya Hindu purbakala ini dapat dijadikan salah satu sumber untuk menelusuri proses pengaruh&amp;nbsp; dari Jawa ke Bali. Seperti apakah sejarah Pura Bukit Darma di Kutri itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunapriya Darma Patni yang roh sucinya (Dewa Pitara) distanakan di pura ini berasal dari Jawa Timur(Dinasti Sendok/Wangsadharma). Permaisuri Raja Udayana ini sangat besar pengaruhnya pada sang Raja sehingga namanya selalu disebutkan di depan nama Raja Udayana. Pelinggih utama pura ini juga disebut Gedong Pajenengan/Kelenteng(china), tempat distanakan arca Durga Mahisasura Mardini. Upacara piodalan di pura ini setiap purnama sasih Kasa bersamaan dengan pujawali di Pura Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pura ini letaknya di puncak Bukit Kutri, Desa Buruan. Di areal bawah pura ini terdapat dua buah pura lagi. Pura yang paling bawah di pinggir jalan menuju kota Gianyar adalah Pura Puseh Desa Adat Buruan. Di atasnya Pura PeDarman. Naik dari Pura PaDarman inilah letak Pura Bukit Darma atau Pura Durga Kutri. Yang menarik dari keberadaan pura ini adalah distanakannya permaisuri Raja sebagai Dewi Durga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak Raja berpermaisurikan putri dari Jawa Timur ini pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa sangat kuat masuk ke Bali. Tanpa proses tersebut mungkin kebudayaan Hindu di Bali tidak semarak dan kaya dengan nilai-nilai kehidupan yang adiluhung seperti sekarang ini. Fakta sejarah menyatakan bahwa budaya agama Hindu masuk ke Jawa dari India telah berhasil menjadikan Jawa sebagai Jawa yang ada nilai plusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TMuncK_eddI/AAAAAAAAAZk/4IZ9flRj3-k/s1600/25092010%28002%29.jpg" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TMuncK_eddI/AAAAAAAAAZk/4IZ9flRj3-k/s320/25092010%28002%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Dari Jawa budaya agama Hindu masuk ke Bali menyebabkan Bali menjadikan Bali yang plus. Agama Hindu Bali(Siwa Sidhantha/Siwa Budha) telah berhasil menjiwai budaya setempat. Dengan demikian agama” Siwa Sidhantha” dapat menghasilkan kebudayaan Bali yang adiluhung. Hal itu dimulai dari masuknya bahasa Jawa Kuno ke Bali. Dengan demikian bahasa dan kesusastraan Jawa Kuno sangat kuat pengaruhnya membentuk kebudayaan Bali seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ramayana, Mahabharata dan berbagai cerita dan tutur-tutur dalam bahasa Jawa Kuno masuk dengan kuat dan halus ke Bali. Derasnya bahasa Jawa Kuno masuk ke Bali nampaknya disebabkan kesusastraan Jawa Kuno itu muatannya adalah ajaran agama Hindu. Di lain pihak masyarakat Bali saat itu sudah memeluk agama Tirtha . Agama Tirtha tersebut sumber ajarannya adalah kitab suci Lontar Majapahit dan kitab-kitab susastra lainnya. Seni budaya Hindu Bali yang berbahasa Jawa Kuno demikian digemari oleh masyarakat setempat..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat ini orang awam akan menganggap kesusastraan Jawa Kuno itu sudah menjadi kesusastraan Bali. Sejak itulah Bali mengenal adanya seni sastra dari Jawa Kuno seperti Sekar Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung. Andaikata Raja Udayana saat itu bersikap kaku tidak membolehkan budaya luar masuk Bali, keadaan Bali dapat dibayangkan. Mungkin orang Bali tidak kenal geguritan, kidung maupun kekawin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Geguritan memang berbahasa Bali pada umumnya, tetapi tembang-tembang seperti Semarandhana, Dhurma, Sinom, Ginanti, Megatruh dll. itu semuanya berasal dari kesusastraan Jawa Kuno atau sering disebut bahasa Kawi. Apalagi kekawin sepenuhnya adalah berbahasa Jawa Kuno. Lewat seni sastra Jawa Kuno inilah menjadi media untuk menanamkan ajaran agama Hindu melalui seni budaya. Dengan seni budaya itu umat Hindu di Bali dapat menyerap ajaran agama Hindu secara halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derasnya pengaruh Budaya Jawa ke Bali sangat menonjol sejak zaman Raja Udayana memerintah Bali sampai zaman Kerajaan Majapahit berkuasa di Jawa sampai ke Bali. Keberadaan Gunapriya Darma Patni itu dinyatakan dalam Prasasti Bebetin sbb: Aji Anak Wungsu nira kalih Bhatari lumahing Burwan Bhatara lumahing banyu weka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud Bhatari Lumahing Burwan tiada lain adalah ibunya Anak Wungsu yaitu Gunapriya Darma Patni yang wafat dan distanakan roh sucinya di Burwan yaitu di Bukit Kutri, Desa Buruan. Prasasti ini berbahasa Jawa Kuno diperkirakan berada pada abad X Masehi. Seandainya Raja saat itu tidak berpikir luas dan melakukan proteksi pada kebudayaan asli Bali yang berlaku pada saat itu, mungkin di Bali kita tidak mengenal adanya Pesantian yang demikian marak sampai pada saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan Arca Durga Mahisasura Mardini ini sangat erat kaitannya dengan cerita-cerita Purana Babad Tanah Jawi. Cerita ini memang sangat populer di kalangan umat Hindu Jawa dan di Bali. Diceritakan Dewi Parwati atau Dewi Uma berperang melawan raksasa. Raksasa itu sangatlah sakti dan sulit ditaklukkan. Karena itulah disebut Durga. Artinya sulit dicapai, karena raksasa itu sampai bisa bersembunyi di dalam tubuh seekor lembu atau Mahisa. Karena ada raksasa atau Asura di dalam tubuh lembu itu, maka ia disebut Mahisasura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi Parwati adalah Saktinya Dewa Siwa juga sangat sakti. Raksasa yang sulit ditaklukkan (Durga) itu karena kesaktian Dewi Parwati akhirnya dapat juga menaklukkan raksasa tersebut dengan pedangnya. Sejak dapat ditaklukannya Asura yang bersembunyi di tubuh Mahisa atau lembu itulah Dewi Parwati disebut Dewi Durga. Kemenangan Dewi Durga ini dirayakan setiap hari raya Dasara atau Wijaya Dasami sebagai hari raya Durgha Puja. Durgha Puja ini lebih menonjol di India Selatan.Sedangkan adat Budaya Jawa dan Bali adalah dengan Pemujaan beliau di Pura Kahyangan Dalem Desa masing-masing Pakraman,dan Pura Paibon di masing-masing Trah/klan/keluarga besar/gotra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari suci Wijaya Dasami umumnya dirayakan pada bulan April dan Oktober di India. Hari raya Wijaya Dasami juga merayakan kemenangan Sri Rama melawan Rahwana. Wijaya Dasami ini diperingati selama sepuluh hari. Seperti Galungan di Bali. Tiga hari melakukan Durga Puja, tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga harinya lagi memuja Laksmi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari kesepuluh barulah dirayakan dengan perayaan yang meriah. Pada hari kesepuluh ini dipuja Dewa Ganesia dan Dewi Laksmi. Ini melambangkan bahwa kemenangan itu adalah terwujudnya rasa aman dan sejahtera. Dewa Ganesia lambang pemujaan Tuhan untuk mencapai rasa aman. Sedangkan pemujaan Dewi Laksmi lambang kesejahteraan.Sedangkan adat Budaya Jawa dan Bali pemujaan Ganesha atau Hyang Ganapathi diwujudkan dengan Ruwat deso/kota/bumi(Jawa) atau istilah Balinya&amp;nbsp; ada disebut “Caru Rsi Ghana”yang sudah diterapkan oleh masyarakat Bali secara turun temurun meskipun pemahaman masyarakat Bali Cuma tahu “MULA KETO”yang mana puncak pemujaan Ghanesa terbesar di rayakan pada Tilem Kesanga(Pengrupukan),Tawur Agung Kesanga yaitu jatuh&amp;nbsp; sebelum Hari Raya Nyepi.itulah implementasi Leluhur kita dalam penerapan pemujaan Ghanesa Kala/Ghanesa Dwi Muka Pura Majapahit Pusat berupa Pratima yang umurnya 1000th.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senjata-senjata yang dipegang oleh tangan Arca Durga Kutri itu adalah lambang senjata spiritual. Bukan lambang senjata untuk membunuh badan jasmaniah secara kejam dalam perang duniawi. Senjata itu adalah lambang senjata spiritual untuk membasmi kegelapan hati nurani membangun kesadaran rohani menuju kehidupan yang cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi Durgha di Pura Bukit Dharma Kutri :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Om Catur divya maha sakti.&lt;br /&gt;
Catur asrame Bhatari.&lt;br /&gt;
Siwa jagatpati Dewi&lt;br /&gt;
Durga sarira dewi.&lt;br /&gt;
(Stuti &amp;amp; Stava 308.2)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya:&lt;br /&gt;
Om Hyang Widhi dalam wujud Catur Dewi, mahakuasa dan mahasuci, Hyang Widhi sebagai Dewi yang dipuja dalam empat kehidupan manusia, Catur Dewi adalah saktinya Sang Hyang Siwa, Dewa dari seluruh Dewa. Om Hyang Widhi hamba memuja-Mu dalam wujud sebagai Dewi Durga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pura Bukit Darma di Kutri Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar. Pura ini adalah sebagai stana (Padharman) dari permaisuri Raja Udayana yang bergelar Gunapriya Darma Patni. Raja Udayana berkuasa sebagai Raja di Bali sekitar abad X Masehi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permaisuri Raja Udayana ini melahirkan tiga putra yaitu Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu. Perkawinan Mahendradata — nama asli dari Gunapriya Darma Patni — sebagai permaisuri Raja Udayana banyak membawa perubahan kebudayaan Bali. Sejak Raja suami-istri ini memerintah Bali pengaruh kebudayaan&amp;nbsp; Jawa sangat kuat mempengaruhi kehidupan kebudayaan di Bali. Prasasti-prasasti Bali sejak Raja Udayana memerintah menggunakan bahasa Jawa Kuno. Sebelum Raja Udayana memerintah prasasti Bali menggunakan bahasa Bali Kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam prasasti yang dikeluarkan saat Raja Udayana memerintah Bali, Gunapriya Darma Patni selalu disebutkan mendahului nama Raja Udayana. Nampaknya Gunapriya Darma Patni pengaruhnya sangat kuat dalam menetapkan kebijaksanaan kerajaan dalam menata kehidupan berkebudayaan sebagai media pengamalan berageman di Bali saat itu. Hal inilah yang mungkin menyebabkan Gunapriya Darma Patni demikian dihormati di Bali oleh semua lapisan masyarakat Bali. Hal inilah mungkin sebagai salah satu sebab Gunapriya Darma Patni distanakan (didharmakan) di Pura Bukit Darma di Kutri, Desa Buruan Blahbatuh Gianyar Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pura ini permaisuri Udayana ini dibuatkan arca perwujudan sebagai Dewi Durga Mahisasura Mardini. Sayang sementara masyarakat umat di Bali memiliki persepsi yang sedikit kurang tepat tentang keberadaan Dewi Durga dalam sistem pantheon Hindu. Sesungguhnya Dewi Durga dalam sistem pantheon Hindu bukan sebagai dewanya ilmu hitam atau black magic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi Durga sebagai Saktinya Dewa Siwa adalah simbol dari kemahakuasaan Tuhan dalam fungsinya sebagai Dewi Kasih Sayang yaitu Dewi Pelebur niat buruk dan membangun niat suci. Untuk membangun niat baik dengan melebur niat buruk memang tidak mudah. Karena sulitnya mencapai upaya tersebutlah disebut Dewi Durga. Kata ”durga” dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata ”dur” artinya sulit dan ”ga” artinya dilalui atau dijalani. Karena itu kata ”durga” artinya sulit dicapai atau sulit dilalui. Niat itu sesuatu gerak diri yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata oleh orang lain. Karena sulitnya menempuh jalan itu maka disebut Durga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat besar kemungkinannya Gunapriya Darma Patni dalam kedudukannya sebagai permaisuri raja demikian besar kasih sayangnya pada rakyat. Karena kasih sayangnya itu Gunapriya Darma Patni sangat berwibawa, tetapi rakyat tidak takut pada ratunya itu. Rakyat demikian cinta dan hormat pada ratunya bukan karena ia diktator, tetapi karena prilakunya yang demikian banyak berbuat bijaksana untuk mensejahterakan rakyat dan memberikan rasa aman pada suasana kehidupan kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunapriya Darma Patni setelah menjadi Dewa Pitara dalam wujud niskala(Arcanam) dibuatkanlah tempat pemujaan di Pura Bukit Dharma tersebut. Karena kasih sayangnya pada rakyat beliau dibuatkan arca perwujudan sebagai Dewi Durga Mahisasura Mardini. Arca ini diwujudkan sebagai seorang dewi yang langsing bertangan delapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap tangannya membawa berbagai senjata. Ada yang memegang senjata trisula, perisai, busur/ panah, pedang, cakra, gada, ujung tombak (anak panah) dan ada tangannya memegang ekor lembu Mahisa. Semuanya itu sebagai simbol yang mengandung makna keagamaan. Senjata di tangan arca Durga tersebut sesungguhnya bukanlah lambang dari kekerasan haus perang. Misalnya senjata Cakra Sudharsana yang mana senjata Cakra Sudharsana bukanlah lambang senjata perang untuk membunuh. Kata Cakra artinya bulat simbol alam semesta. Sudharsana artinya pandangan atau wawasan. Dengan demikian Cakra Sudharsana itu artinya wawasan yang menyeluruh tentang keberadaan alam semesta ini. Barang siapa yang mampu memiliki wawasan yang menyeluruh atau wawasan global tentang keberadaan alam semesta ini dialah yang akan dapat memenangkan kehidupan di bumi yang bulat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang menang bukan berarti ada yang dikalahkan. Hidup menang adalah hidup yang aman sejahtera dan bahagia sekala dan niskala. Arca Durga ini distanakan pada bangunan pelinggih di arah Ersania yaitu arah timur laut Pura Bukit Darma ini. Arah Ersania adalah arah tersuci menurut kepercayaan Siwa Sidhanta(Siwa Budha). Ersania di Bali disebut kaja kangin. Kaja kangin adalah arah gunung dan matahari terbit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpaduan dua sumber alam ini melahirkan sumber kehidupan. Gunung menjadi sumber air dan matahari sumber bio-energi. Tujuan penempatan pelinggih utama di ersania sebagai simbol untuk memohon selalu terpadunya dua sumber alam itu sebagai anugerah Tuhan kepada makhluk hidup ciptaan-Nya. Salah satu tangan arca Durga Kutri ini memegang ekor lembu. Ini melukiskan bahwa dunia ini hendaknya dikendalikan dengan kasih sayang Tuhan yang dilambangkan oleh arca Durga tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebelah kiri arca Durga ini terdapat dua Lingga berpasangan. Lingga ini lambang pemujaan pada Dewa Siwa(Purusha) dengan Dewi Parwati(Predhana) manifestasi dari Bapak dan Ibu(Lingga Yoni) beliau. Pemujaan Beliau sebagai manifestasi dari Dewa dan Dewi bertujuan untuk menuntun umat agar mengembangkan diri dalam hidupnya ini secara seimbang dan sudah tentu yang paling penting adalah penghormatan kepada Leluhur pendahulu karena tanpa leluhur kita tidak ada di dunia ini. Tuhan itu adalah Esa, namun tujuan manusia memuja Tuhan adalah untuk menguatkan spiritualitasnya dalam menopang kehidupannya di bumi ini tanpa melupakan asal usul dari kita/bibit Wit atau istilah Balinya “Kawitan”.Kenapa di Pura Ibu Majapahit juga memuja Durga karena kita ketahui bahwa Prabu Airlangga yang menjadi Raja di Tanah Jawa adalah anak pertama dari Prabu Udayana hasil perkawinannya dari Ibunya Mahendradhatta malahan di Pura Ibu Majapahit diwariskan Pratima Durga Mahisasura Mardini bertahtakan Emas 1000th. berumur sama dengan keberadaan Pura Dharma Kutri di Gianyar.Sedangkan yang berstana di Pura Ibu Majapahit adalah Ibu Siwa Parwathi Tangan seribu Istrinya Bhatara Siwa mempunyai anak Ghanesa/dewa Ghana yang selalu menjaga Ibunya dengan setia semua Pratima ada termasuk Pratima Bhatara Lingsir(Siwa Budha “dalam kekawin sutasoma disebutkan siwa dan budha itu satu wujud tapi lain sebutan)ada yang umurnya tak terdeteksi oleh Arkeologi.inilah kaitannya Pura Durga Kutri dengan Pura Ibu Majapahit Pusat(Pura Ibu dari segala Ibu).Yang semua Pratima Kawitan Pusat sudah di “Upacara SUCISRADHA”upacara penyatuan Leluhur ke dewa dewi Titisannya(Manifestasi).Upacara Sucisradha ini adalah upacara akhir dari upacara “Ngaben di Bali”,dan jarang masyarakat di Bali bisa bikin upacara ini kecuali Puri Sunantaya Penebel Tabanan trah ARYA DAMAR atau.keluarga Raja Majapahit di Bali yang masih memegang “Lontar Indik Sucisradha”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi garis besar dari adanya Pura Durgha Kutri&amp;nbsp; dan Pura Ibu Majapahit ini adalah asli pemujaan Leluhur Pendahulu kita atau Pemujaan Kawitan Tertinggi bagi umat sedarma yang masih diterapkan sampai sekarang dan seterusnya.Rahayu……Rahayu………..Rahayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Om Shanti Shanti Shanti Om.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;


&lt;br /&gt;
&lt;/h1&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-5481592711330860126?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/5481592711330860126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/10/pura-bukit-darma-kutri-kaitannya-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5481592711330860126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5481592711330860126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/10/pura-bukit-darma-kutri-kaitannya-dengan.html' title='Pura Bukit Darma Kutri kaitannya dengan Pura Ibu Majapahit Pusat.'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TMunCz92VaI/AAAAAAAAAZg/WzRN-_uNtTk/s72-c/Foto030.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-7571930181042502549</id><published>2010-10-29T22:00:00.001-07:00</published><updated>2011-09-11T19:28:06.083-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:RelyOnVML/&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;h1&gt;&lt;span&gt;Pura Bukit Darma Kutri kaitannya dengan Pura Ibu Majapahit Pusat.&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Om Swastyastu&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pada waktu Raja Udayana(Dinasti Warmadewa/Mulawarma/Miauliwarma) memerintah di Bali sekitar abad X Masehi, masuknya Adat budaya Jawa ke Bali mulai agak deras sampai pada zaman Majapahit sebagai puncaknya. Pura Bukit Darma di Kutri, Desa Buruan, Blahbatuh ini sebagai salah satu buktinya. Pura Bukit Darma hasil budaya Hindu purbakala ini dapat dijadikan salah satu sumber untuk menelusuri proses pengaruh &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dari Jawa ke Bali. Seperti apakah sejarah Pura Bukit Darma di Kutri itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gunapriya Darma Patni yang roh sucinya (Dewa Pitara) distanakan di pura ini berasal dari Jawa Timur(Dinasti Sendok/Wangsadharma). Permaisuri Raja Udayana ini sangat besar pengaruhnya pada sang Raja sehingga namanya selalu disebutkan di depan nama Raja Udayana. Pelinggih utama pura ini juga disebut Gedong Pajenengan/Kelenteng(china), tempat distanakan arca Durga Mahisasura Mardini. Upacara piodalan di pura ini setiap purnama sasih Kasa bersamaan dengan pujawali di Pura Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pura ini letaknya di puncak Bukit Kutri, Desa Buruan. Di areal bawah pura ini terdapat dua buah pura lagi. Pura yang paling bawah di pinggir jalan menuju kota Gianyar adalah Pura Puseh Desa Adat Buruan. Di atasnya Pura PeDarman. Naik dari Pura PaDarman inilah letak Pura Bukit Darma atau Pura Durga Kutri. Yang menarik dari keberadaan pura ini adalah distanakannya permaisuri Raja sebagai Dewi Durga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sejak Raja berpermaisurikan putri dari Jawa Timur ini pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa sangat kuat masuk ke Bali. Tanpa proses tersebut mungkin kebudayaan Hindu di Bali tidak semarak dan kaya dengan nilai-nilai kehidupan yang adiluhung seperti sekarang ini. Fakta sejarah menyatakan bahwa budaya agama Hindu masuk ke Jawa dari India telah berhasil menjadikan Jawa sebagai Jawa yang ada nilai plusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dari Jawa budaya agama Hindu masuk ke Bali menyebabkan Bali menjadikan Bali yang plus. Agama Hindu Bali(&lt;/span&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Siwa Sidhantha/Siwa Budha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;) telah berhasil menjiwai budaya setempat. Dengan demikian agama” &lt;/span&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Siwa Sidhantha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;” dapat menghasilkan kebudayaan Bali yang adiluhung. Hal itu dimulai dari masuknya bahasa Jawa Kuno ke Bali. Dengan demikian bahasa dan kesusastraan Jawa Kuno sangat kuat pengaruhnya membentuk kebudayaan Bali seperti sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ramayana, Mahabharata dan berbagai cerita dan tutur-tutur dalam bahasa Jawa Kuno masuk dengan kuat dan halus ke Bali. Derasnya bahasa Jawa Kuno masuk ke Bali nampaknya disebabkan kesusastraan Jawa Kuno itu muatannya adalah ajaran agama Hindu. Di lain pihak masyarakat Bali saat itu sudah memeluk agama Tirtha . Agama Tirtha tersebut sumber ajarannya adalah kitab suci Lontar Majapahit dan kitab-kitab susastra lainnya. Seni budaya Hindu Bali yang berbahasa Jawa Kuno demikian digemari oleh masyarakat setempat..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sampai saat ini orang awam akan menganggap kesusastraan Jawa Kuno itu sudah menjadi kesusastraan Bali. Sejak itulah Bali mengenal adanya seni sastra dari Jawa Kuno seperti Sekar Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung. Andaikata Raja Udayana saat itu bersikap kaku tidak membolehkan budaya luar masuk Bali, keadaan Bali dapat dibayangkan. Mungkin orang Bali tidak kenal geguritan, kidung maupun kekawin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Geguritan memang berbahasa Bali pada umumnya, tetapi tembang-tembang seperti Semarandhana, Dhurma, Sinom, Ginanti, Megatruh dll. itu semuanya berasal dari kesusastraan Jawa Kuno atau sering disebut bahasa Kawi. Apalagi kekawin sepenuhnya adalah berbahasa Jawa Kuno. Lewat seni sastra Jawa Kuno inilah menjadi media untuk menanamkan ajaran agama Hindu melalui seni budaya. Dengan seni budaya itu umat Hindu di Bali dapat menyerap ajaran agama Hindu secara halus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Derasnya pengaruh Budaya Jawa ke Bali sangat menonjol sejak zaman Raja Udayana memerintah Bali sampai zaman Kerajaan Majapahit berkuasa di Jawa sampai ke Bali. Keberadaan Gunapriya Darma Patni itu dinyatakan dalam Prasasti Bebetin sbb: &lt;/span&gt;&lt;span class="Heading2Char"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;Aji Anak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="Heading2Char"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;Wungsu nira kalih Bhatari lumahing Burwan Bhatara lumahing banyu weka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Yang dimaksud Bhatari Lumahing Burwan tiada lain adalah ibunya Anak Wungsu yaitu Gunapriya Darma Patni yang wafat dan distanakan roh sucinya di Burwan yaitu di Bukit Kutri, Desa Buruan. Prasasti ini berbahasa Jawa Kuno diperkirakan berada pada abad X Masehi. Seandainya Raja saat itu tidak berpikir luas dan melakukan proteksi pada kebudayaan asli Bali yang berlaku pada saat itu, mungkin di Bali kita tidak mengenal adanya Pesantian yang demikian marak sampai pada saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keberadaan Arca Durga Mahisasura Mardini ini sangat erat kaitannya dengan cerita-cerita Purana Babad Tanah Jawi. Cerita ini memang sangat populer di kalangan umat Hindu Jawa dan di Bali. Diceritakan Dewi Parwati atau Dewi Uma berperang melawan raksasa. Raksasa itu sangatlah sakti dan sulit ditaklukkan. Karena itulah disebut Durga. Artinya sulit dicapai, karena raksasa itu sampai bisa bersembunyi di dalam tubuh seekor lembu atau Mahisa. Karena ada raksasa atau Asura di dalam tubuh lembu itu, maka ia disebut Mahisasura.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dewi Parwati adalah Saktinya Dewa Siwa juga sangat sakti. Raksasa yang sulit ditaklukkan (Durga) itu karena kesaktian Dewi Parwati akhirnya dapat juga menaklukkan raksasa tersebut dengan pedangnya. Sejak dapat ditaklukannya Asura yang bersembunyi di tubuh Mahisa atau lembu itulah Dewi Parwati disebut Dewi Durga. Kemenangan Dewi Durga ini dirayakan setiap hari raya Dasara atau Wijaya Dasami sebagai hari raya Durgha Puja. Durgha Puja ini lebih menonjol di India Selatan.Sedangkan adat Budaya Jawa dan Bali adalah dengan Pemujaan beliau di Pura Kahyangan Dalem Desa masing-masing Pakraman,dan Pura Paibon di masing-masing Trah/klan/keluarga besar/gotra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hari suci Wijaya Dasami umumnya dirayakan pada bulan April dan Oktober di India. Hari raya Wijaya Dasami juga merayakan kemenangan Sri Rama melawan Rahwana. Wijaya Dasami ini diperingati selama sepuluh hari. Seperti Galungan di Bali. Tiga hari melakukan Durga Puja, tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga harinya lagi memuja Laksmi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pada hari kesepuluh barulah dirayakan dengan perayaan yang meriah. Pada hari kesepuluh ini dipuja Dewa Ganesia dan Dewi Laksmi. Ini melambangkan bahwa kemenangan itu adalah terwujudnya rasa aman dan sejahtera. Dewa Ganesia lambang pemujaan Tuhan untuk mencapai rasa aman. Sedangkan pemujaan Dewi Laksmi lambang kesejahteraan.Sedangkan adat Budaya Jawa dan Bali pemujaan Ganesha atau Hyang Ganapathi diwujudkan dengan Ruwat deso/kota/bumi(Jawa) atau istilah Balinya &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;ada disebut “Caru Rsi Ghana”yang sudah diterapkan oleh masyarakat Bali secara turun temurun meskipun pemahaman masyarakat Bali Cuma tahu “MULA KETO”yang mana puncak pemujaan Ghanesa terbesar di rayakan pada Tilem Kesanga(Pengrupukan),Tawur Agung Kesanga yaitu jatuh &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sebelum Hari Raya Nyepi.itulah implementasi Leluhur kita dalam penerapan pemujaan Ghanesa Kala/Ghanesa Dwi Muka Pura Majapahit Pusat berupa Pratima yang umurnya 1000&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Senjata-senjata yang dipegang oleh tangan Arca Durga Kutri itu adalah lambang senjata spiritual. Bukan lambang senjata untuk membunuh badan jasmaniah secara kejam dalam perang duniawi. Senjata itu adalah lambang senjata spiritual untuk membasmi kegelapan hati nurani membangun kesadaran rohani menuju kehidupan yang cerah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dewi Durgha di Pura Bukit Dharma Kutri :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Om Catur divya maha sakti.&lt;br /&gt;
Catur asrame Bhatari.&lt;br /&gt;
Siwa jagatpati Dewi&lt;br /&gt;
Durga sarira dewi.&lt;br /&gt;
(Stuti &amp;amp; Stava 308.2)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Maksudnya:&lt;br /&gt;
Om Hyang Widhi dalam wujud Catur Dewi, mahakuasa dan mahasuci, Hyang Widhi sebagai Dewi yang dipuja dalam empat kehidupan manusia, Catur Dewi adalah saktinya Sang Hyang Siwa, Dewa dari seluruh Dewa. Om Hyang Widhi hamba memuja-Mu dalam wujud sebagai Dewi Durga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pura Bukit Darma di Kutri Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar. Pura ini adalah sebagai stana (Padharman) dari permaisuri Raja Udayana yang bergelar Gunapriya Darma Patni. Raja Udayana berkuasa sebagai Raja di Bali sekitar abad X Masehi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Permaisuri Raja Udayana ini melahirkan tiga putra yaitu Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu. Perkawinan Mahendradata — nama asli dari Gunapriya Darma Patni — sebagai permaisuri Raja Udayana banyak membawa perubahan kebudayaan Bali. Sejak Raja suami-istri ini memerintah Bali pengaruh kebudayaan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Jawa sangat kuat mempengaruhi kehidupan kebudayaan di Bali. Prasasti-prasasti Bali sejak Raja Udayana memerintah menggunakan bahasa Jawa Kuno. Sebelum Raja Udayana memerintah prasasti Bali menggunakan bahasa Bali Kuno.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam prasasti yang dikeluarkan saat Raja Udayana memerintah Bali, Gunapriya Darma Patni selalu disebutkan mendahului nama Raja Udayana. Nampaknya Gunapriya Darma Patni pengaruhnya sangat kuat dalam menetapkan kebijaksanaan kerajaan dalam menata kehidupan berkebudayaan sebagai media pengamalan berageman di Bali saat itu. Hal inilah yang mungkin menyebabkan Gunapriya Darma Patni demikian dihormati di Bali oleh semua lapisan masyarakat Bali. Hal inilah mungkin sebagai salah satu sebab Gunapriya Darma Patni distanakan (didharmakan) di Pura Bukit Darma di Kutri, Desa Buruan Blahbatuh Gianyar Bali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di pura ini permaisuri Udayana ini dibuatkan arca perwujudan sebagai Dewi Durga Mahisasura Mardini. Sayang sementara masyarakat umat di Bali memiliki persepsi yang sedikit kurang tepat tentang keberadaan Dewi Durga dalam sistem pantheon Hindu. Sesungguhnya Dewi Durga dalam sistem pantheon Hindu bukan sebagai dewanya ilmu hitam atau black magic.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dewi Durga sebagai Saktinya Dewa Siwa adalah simbol dari kemahakuasaan Tuhan dalam fungsinya sebagai Dewi Kasih Sayang yaitu Dewi Pelebur niat buruk dan membangun niat suci. Untuk membangun niat baik dengan melebur niat buruk memang tidak mudah. Karena sulitnya mencapai upaya tersebutlah disebut Dewi Durga. Kata ”durga” dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata ”dur” artinya sulit dan ”ga” artinya dilalui atau dijalani. Karena itu kata ”durga” artinya sulit dicapai atau sulit dilalui. Niat itu sesuatu gerak diri yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata oleh orang lain. Karena sulitnya menempuh jalan itu maka disebut Durga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sangat besar kemungkinannya Gunapriya Darma Patni dalam kedudukannya sebagai permaisuri raja demikian besar kasih sayangnya pada rakyat. Karena kasih sayangnya itu Gunapriya Darma Patni sangat berwibawa, tetapi rakyat tidak takut pada ratunya itu. Rakyat demikian cinta dan hormat pada ratunya bukan karena ia diktator, tetapi karena prilakunya yang demikian banyak berbuat bijaksana untuk mensejahterakan rakyat dan memberikan rasa aman pada suasana kehidupan kerajaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gunapriya Darma Patni setelah menjadi Dewa Pitara dalam wujud niskala(Arcanam) dibuatkanlah tempat pemujaan di Pura Bukit Dharma tersebut. Karena kasih sayangnya pada rakyat beliau dibuatkan arca perwujudan sebagai Dewi Durga Mahisasura Mardini. Arca ini diwujudkan sebagai seorang dewi yang langsing bertangan delapan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Setiap tangannya membawa berbagai senjata. Ada yang memegang senjata trisula, perisai, busur/ panah, pedang, cakra, gada, ujung tombak (anak panah) dan ada tangannya memegang ekor lembu Mahisa. Semuanya itu sebagai simbol yang mengandung makna keagamaan. Senjata di tangan arca Durga tersebut sesungguhnya bukanlah lambang dari kekerasan haus perang. Misalnya senjata Cakra Sudharsana yang mana senjata Cakra Sudharsana bukanlah lambang senjata perang untuk membunuh. Kata Cakra artinya bulat simbol alam semesta. Sudharsana artinya pandangan atau wawasan. Dengan demikian Cakra Sudharsana itu artinya wawasan yang menyeluruh tentang keberadaan alam semesta ini. Barang siapa yang mampu memiliki wawasan yang menyeluruh atau wawasan global tentang keberadaan alam semesta ini dialah yang akan dapat memenangkan kehidupan di bumi yang bulat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hidup yang menang bukan berarti ada yang dikalahkan. Hidup menang adalah hidup yang aman sejahtera dan bahagia sekala dan niskala. Arca Durga ini distanakan pada bangunan pelinggih di arah Ersania yaitu arah timur laut Pura Bukit Darma ini. Arah Ersania adalah arah tersuci menurut kepercayaan Siwa Sidhanta(Siwa Budha). Ersania di Bali disebut kaja kangin. Kaja kangin adalah arah gunung dan matahari terbit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perpaduan dua sumber alam ini melahirkan sumber kehidupan. Gunung menjadi sumber air dan matahari sumber bio-energi. Tujuan penempatan pelinggih utama di ersania sebagai simbol untuk memohon selalu terpadunya dua sumber alam itu sebagai anugerah Tuhan kepada makhluk hidup ciptaan-Nya. Salah satu tangan arca Durga Kutri ini memegang ekor lembu. Ini melukiskan bahwa dunia ini hendaknya dikendalikan dengan kasih sayang Tuhan yang dilambangkan oleh arca Durga tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di sebelah kiri arca Durga ini terdapat dua Lingga berpasangan. Lingga ini lambang pemujaan pada Dewa Siwa(Purusha) dengan Dewi Parwati(Predhana) manifestasi dari Bapak dan Ibu(Lingga Yoni) beliau. Pemujaan Beliau sebagai manifestasi dari Dewa dan Dewi bertujuan untuk menuntun umat agar mengembangkan diri dalam hidupnya ini secara seimbang dan sudah tentu yang paling penting adalah penghormatan kepada Leluhur pendahulu karena tanpa leluhur kita tidak ada di dunia ini. Tuhan itu adalah Esa, namun tujuan manusia memuja Tuhan adalah untuk menguatkan spiritualitasnya dalam menopang kehidupannya di bumi ini tanpa melupakan asal usul dari kita/bibit Wit atau istilah Balinya “Kawitan”.Kenapa di Pura Ibu Majapahit juga memuja Durga karena kita ketahui bahwa Prabu Airlangga yang menjadi Raja di Tanah Jawa adalah anak pertama dari Prabu Udayana hasil perkawinannya dari Ibunya Mahendradhatta malahan di Pura Ibu Majapahit diwariskan Pratima Durga Mahisasura Mardini bertahtakan Emas 1000&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;. berumur sama dengan keberadaan Pura Dharma Kutri di Gianyar.Sedangkan yang berstana di Pura Ibu Majapahit adalah Ibu Siwa Parwathi Tangan seribu Istrinya Bhatara Siwa mempunyai anak Ghanesa/dewa Ghana yang selalu menjaga Ibunya dengan setia semua Pratima ada termasuk Pratima Bhatara Lingsir(Siwa Budha “dalam kekawin sutasoma disebutkan siwa dan budha itu satu wujud tapi lain sebutan)ada yang umurnya tak terdeteksi oleh Arkeologi.inilah kaitannya Pura Durga Kutri dengan Pura Ibu Majapahit Pusat(Pura Ibu dari segala Ibu).Yang semua Pratima Kawitan Pusat sudah di “Upacara SUCISRADHA”upacara penyatuan Leluhur ke dewa dewi Titisannya(Manifestasi).Upacara Sucisradha ini adalah upacara akhir dari upacara “Ngaben di Bali”,dan jarang masyarakat di Bali bisa bikin upacara ini kecuali Puri Sunantaya Penebel Tabanan trah ARYA DAMAR atau.keluarga Raja Majapahit di Bali yang masih memegang “Lontar Indik Sucisradha”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jadi garis besar dari adanya Pura Durgha Kutri &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan Pura Ibu Majapahit ini adalah asli pemujaan Leluhur Pendahulu kita atau Pemujaan Kawitan Tertinggi bagi umat sedarma yang masih diterapkan sampai sekarang dan seterusnya.Rahayu……Rahayu………..Rahayu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Om Shanti Shanti Shanti Om.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-7571930181042502549?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/7571930181042502549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7571930181042502549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/7571930181042502549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title=''/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-3723322253919766254</id><published>2010-10-02T22:26:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T23:42:08.848-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lontar'/><title type='text'>ASAL MUASAL PEMUJAAN LINGGA YONI(PURUSHA PRADHANA)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKgTog8D3gI/AAAAAAAAAZU/fEiEniBk_Uk/s1600/pranda+gde+Made+Gunung.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKgTog8D3gI/AAAAAAAAAZU/fEiEniBk_Uk/s320/pranda+gde+Made+Gunung.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Om Swastyastu"                                                                                                                                       Ong wilaheng awignamastu namo shidam,lupute salah lan shandi lupute dendaning Tawang Towang Hyang Jagad dewa Bhatara Hyang Paramaditya Bhuwana langgeng".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Purwa Bhumi Kamulan termasuk kelompok lontar Tattwa. Lontar ini berisi ajaran tentang penciptaan dunia yang diuraikan secara mitologis. Seluruh ajarannya bersifat Siwabudhaistik. Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :"Om Bhatara Bhatari adalah dua sumber kekuatan yang mula-mula ada".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kekuatan yoga Bhatari terciptalah Dewata, Panca Resi, dan Sapta Resi sebagai isinya dunia. Pada tahap berikutnya barulah diciptakan dunia. Gangga tercipta dari cucuran keringat. Samudra tercipta dari garam yang keluar dari badan. Prathiwi tercipta dari garam yang keluar dari badan. Selanjutnya Sanghyang Budha Dharma menciptakan"Mahapadma", Matahari, Bulan, Panca mahabutha dan Catur Pramana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Bhatari Uma merubah wujudnya sebagai Durga. Bulu-bulu badannya diciptakan sebagai Kala sumber kejahatan didunia. Dengan kekuatan yoganya, Durga menciptakan semua isi samudra ,ikan dst dsb.nya."Om Bhatara Guru" kemudian turun ke bumi sebagai Bhatara Ka\a karena tertarik oleh kekuatan pandang Bhatari Durga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dengan kekuatan yoganya Bhatara Kala menciptakan berjenis-jenis Kala. Manusia adalah santapan Bhatara Kala. Manusia yang disantap adalah : "Orang yang lahir pada wuku carik (wuku wayang). Kadana-Kadani (kembar siam), Bersaudara Lima, Tunggak Wareng (tus tunggal), Unting-unting ,Uduh-uduh rare bajang .Selanjutnya Bhatara Kala turun ke dunia membuat tempat pemujaan. Begitu pula Brahma, Wisnu dan Iswara diperintahkan turun ke dunia. Brahma sebagai Brahmana. Wisnu sebagai Bhujangga. Iswara sebagai Resi. Brahmana, Bhujangga dan Resi diberi tugas oleh Bhatara Kala menghaturkan sesaji kepada dirinya dan Bhatari Durga dan meruwat sepuluh jenis kekotoran manusia. Itulah permulaan manusia memuja Lingga Yoni/Purhusa Predhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhatara Kala dan Bhatari Durga tidak lagi menyantap manusia.Rupanya yang mengerikan kembali berubah wujud seperti semula sebagai Bhatara Guru dan Bhatari Uma,kembali ke Siwapada/Siwaloka.

TEKS :

"Om purwa bhumi kamulan, paduka Bhatari Uma; mijil saking limo-limo nira Bhatara guru. Mulaning hana Bhatari minaka somah Bhatara ; mayoga sira Bhatari.

Mijil ta sira dewata, Panca Resi, Sapta Resi; Kosika, sang Garga, Maitri,Kurusya, sang Pratanjala. Kosika wikan padyargha, sinapa dening Bhatara; mijil ta sang hyang Kosika, sakeng kulit sangkanira.

Mijilta sira sang Garga, sakeng daging sangkanira; mijil ta sira sangMaitri, sakeng otot sangkanira. Mijil ta sang hyang Kurusya, sakeng balung sangkanira, mijil ta sang Pratanjala, sakeng sumsum sangkanira.Genep isi ning bhuwana, apan sampun winastonan; ingutus ikang Bhatara,kalih lan sira Bhatari.

Kinon sira (ng) gawa loka, neher sira sinanmata, kang wikan pateng ranira, sinapa de Bhatara. Kosika mlesat mangetan, matemahan dadi dengen, sang Garga mlesat mangidul, matemahan dadi sang mong.

Sang Maitri mlesat mangulon, matemahan dadi ula,Kurusya mlesat mangalor, matemahan dadi bwaya. Pratanjala mlesat (ring)madhya, matemahan hyang kurma raja, ingutus sang Pratanjala, tumurun manggawe loka. Lumampah nda tan parowang, ingutus Bhatari Uma; dening paduka Bhatari, tumurun sang Pratanjala. Neher amit anganjali, Bhatara lawan Bhatari, angadeg sireng pantara, awang-awang uwung-uwung. Tanhananing sarwa katon, tan hana ning sarwa umung. Ahening cipta Bhatari,alekas anggawe loka, maka daging ing bhuwana, kalih lan sang Pratanjala.

Karingeta kuyu-kuyu, adres titis ing sarira. Tumiba mangkeng Bhatari, mijil ta Bhatari Gangga. Mulanira duk samana. Asat karinget Bhatari; metu uyah saking awak, ginutuk ta sepet asin. Tumibeng Bhatari Gangga, mijil Bhatari samudra; dinulu awak Bhatari, metu lemah saking awak. Tumibeng Bhatari samudra, mijil Bhatari prathiwi; sarimbag loning prathiwi,sa-payung lo ning Akasa. Mulanira duk samana, mayoga ta sira muwah,alekas anggawe loka ......

Yoganira sanghyang Budha Dharma mijil tekang Mahapadma, maka sesek ing bhuwana.Mijilta Radtya klawan Wulan, maka suluh ing bhuwana; mijil lintang Taranggana, maka tulis ing bhuwana. Mijil Panca Maha Bhuta, maka urip ing bhuwana; mijilta Catur pramana ; apah, teja, bayu akasa. Urip ing anda bhuwana sampun apasek; mangke punang jagat traya apan sampun sirayoga.

Dinel Bhatari Uma, satampakira Bhatari: hana putih, hana abang, hana kuning,hana ireng. Kaget Bhatari Sri Uma, agila tuwon ing awak, neher masih nadah janma, mangerak masingha-nada; waja masalit masiyung, tutukilwirjurang parah ro; netra kadi Surya kembar, irung kadi sumur bandung;kuping Iwir leser ing pa (ha;roma...agimbal;awak awegah aluhur, luhur iratan pantara; tutug ing anda bhuwana, tutug madhya ning akasa; sira ta Bhatari Durga, aranira duk samana.

Satinggal Bhatari Durga,ayoga sang wado Kala; wulune ginawe ala, lanang wadon warna nira. Pada sampun winastonan, sampun pinugrahan aran, kunang tetendahanira, sicabora, si cabori, si bragla, si bragali, si sanaka, si sanaki, sidurana, si durani, si kaleka, si kaleki, si gondala, si gondali, sibetala, si betali, garbhayaksa, garbhayaksi, galungan panadah Kala.Pangawaking Kala braja, besawarna mandi-jati, pepelika, pepeleki, agungalitwarna nira.

Yoga ning Bhatari Durga; ri sampunira mayoga,lumebu sireng samudra, mayoga sira irika. Isining dalem samudra, mijil tekang sarwa rupa, duyung kuluyung lan prang-prang, tangiri Kalawan buntek. Tan ilang takonakena.

Genep kabeh punang warna, Yoganing Bhatari Durga, dineleng sireng bhuwana, tutug madhya ning Akasa.Tuminghal ta Bhatara guru, turun sira sakarengan, mayoga ta sira muwah, matemahan metu Kala. Mangerak masingha-nada, waja masalita siyung, tutuk lwir jurang parongbrong, netra kadi Surya kalih. Irungkadi sumur bandung, kuping lwir lalar ing pandung, roma akepel agimbal, awak awegah aluhur.

Luhuriratan pantara, abang tutug ing bhuwana, tutug madhya ning Akasa, sira ta Bhatara Kala. Sira ta Bhatari Uma, aranira duk samana, mayogasa-wado Kala, lanang wadon warnanira. Bhuta bhuti, yaksa yaksi, pisaca,Bhuta manganti, maha Bhuta, panca Bhuta,pulung darah, pulung darih, Dewa dengen, Bhuta dengen, Daitya, wil lawan Danawa, Mrajapati Anggapati. Kekeliki, Pepelika, Pepeleki, agung alit warnanira, yoganing Bhatara Kala.

Ri sampunira mayoga, mangher po sira ring gunung, Hyang Sangkara naminira, mangher po sira ring alas. Bhuta Banaspati Raja, Banaspati sireng kayu, Singha-Kala sireng lemah, Kala Wisesa ring Akasa. Bhuta lamis sireng watu, Wisnu pujut sireng wengi,Bangbang pita ring rahina, Kala nundang sireng dalan. Dora Kala sirenglawang, Hyang maraja sireng natar, Bhuta Suci sireng sanggar, Bhuta sayah ring bale agung. Kala Graheng pamanggahan, Bhuta Ngandang simpangawan, Kala dungkang sireng batur, Bhuta duleg sireng longan, Bhuta andelik sireng galar, Bhuta Gumulung ing klasa, Bhuta Jempang sireng galeng, Bhuta Asih ring paturon. Kala Mukti sireng pawon, Bhuta Ndelep sireng dengen, Kala sakti sireng sanggar, Kala nembah taretepan, Kala nginte sireng pager, Kala ngintip sireng tampul, Dora Kala sireng lawang, Bhuta ngingel Siwawalan, Bhuta ninjo ring gugumuk, Bhuta ngilo sireng sumur, Bhuta mangsa sireng sema, Bhuta boset pabajangan, Bhuta rerengek ring wates, Bhuta ulu sireng pakung, Bhuta edan (ring) dalanagung, Bhuta wuru sireng sajeng, Bhuta bloh (sir) eng dalanagung, Bhuta logok sireng tapan, Bhuta bega pamidangan, Bhuta cantule ing pasajnan, Bhuta simuh sande kawon, Bhuta ngoncang sireng lumpang, Bhuta ngadu sireng lebuh, kuncang-kancing ring padangan Bhuta grawang Umah suwung, Bhuta lawang paciringan, Bhuta lepek paperangan, Bhuta rangregek sireng wates, Bhutatulus sireng pangkung,Kala-kali ring pajuden, Singanjaya ring Kalangan, Kala edan sireng pasar, siddha-kara ring patamon, Bhuta dengkol sireng dagan, Kalamendek ring paseban, Bhuta asih ring paturon, Kala mukti pabetekan, Kaladengsek pabajangan, Kala dekek sireng sendi.

Dineleng Bhatari Durga, mentas ta saking samudra, sareng lan Bhatara Kala, apa ta jalukanira. Abhasma sira rudhira, kapala ganitri nira, usus tasandangan-ira, asampet sira bang ireng. Ingemban ingiring-iring, dening wado Kala nira, tan sah ring pasanak ira, angher po sira ring setra.Setra wates pabajangan, kepuh randu kurambiyan, ingayap ing wado Kala,dremba moha nadah janma. Ulih ing anggawe loka, tinadah rahina wengi,binuru inguyang uyang, dening wado Kala nira.

Tinututsa-paranira, tinadah rahina wengi, kuneng kang tinadah ira, enaknya anadah jalma. Tan salah tinadah-ira, janna wetu wuku carik, wuku wayangwuku nira, kadana (n) lawan kadini. Pandawa lawan metuwang, tunggakwareng, unting-unting, uduh-uduh rare bajang, tinadah rahina wengi.Mangkin krodha Sanghyang Kala, tumurun sira sakareng, angadeg ringsunyantara, anggawe Sanggah Pamujan.

Neher ta ginawe nira,Brahma, Wisnu, Maheswara, tumurun ring madhyapada, arddha moho inggawe manusa. Hyang Iswara dadi Resi, Hyang Brahma dadi Brahmana, Hyang Wisnu dadi Bhujangga, ya tha sira mangke ngutus, dening pada nira Sanghyang ngaturaken tadah saji, sari genep saji nira, sampun ta mangke winastwan. Dening pada nira Sanghyang, Brahmana, Bhujangga, Resi, Saiwa kalawan Saugata, anglukata dasa mala.Anadah Bhatara Kala, kalih lan Bhatari Durga, tok sekul Kalawan ulan, sarwa genep kang tadahan. Tan ilang takon akena.

Datenge Bhatara Kala, kalih lan Bhatari Durga, angadeg ing puspa-kaki, ingayaping wado Kala, garjita tumon ing tatadahan, tan ilang takonakena.Ingundang ing japa mantra, tinabuhan genta-genti, unung kang genta oragan, sangka umung tan pantara. Tutug teka ring akasa, siniratan sekarura, candana lawan wija kuning, damar murup lawan dhupa. Kukus sakeng dhupa panggil, tutug teka ring akasa, mrebuk arum kang bhuwana,kongas tekeng windu-pada.

Mulaning hana amuja, kang manuseng madhya-pada, tadahan Bhatara Kala, kalih lan Bhatari Durga. Neher sira siramanya : "manusa ring madhya-pada, Purnama Kalawan Tilem, tan kasapa de Hyang Kala, tan kasapa de Hyang Durga, Tan katadah de Hyang Kala,lan katadah de Hyang Durga, apan sampun sinuddha-mala, deni wastu nira Sanghyang. Ilang tekang rupa juti, waluya atemahan jati, Hyang Kala atemahan Guru, Hyang Durga temahan Uma. Mantuk mareng Siwapada; kalihlan Bhatari Uma; deni wastu nira Sanghyang, lukat sira Sang linukat.Lukat sira sang anglukat. Dewa sira sang linukat, hana sireng Siwapada,mantuk sira mareng swarga.Angiring ing pada Sanghyang, angadeg ing Suryapada; Kosika mulih mangetan, matemahan Hyang Iswara. Sang Garga mulih mangidul, matemahan Bhatara Brahma; Sang Maitri mulih mangulon.Matemahan Hyang Mahadewa. Kurusya mulih mangalor, matemahan BhataraWisnu, Pratanjala mulih ring madhya, matemahan Bhatara Siwa. Sakwehikang wak Kala, matemahan Widyadhara; manadi Yaksa klawan Yaksi matemahan Widyadhari.

Sami mantuk mareng Swarga, angering paduka-nira, dening wastu nira Sanghyang, mulih kuneng jati purna.Manusa sami kalukat, mantuk maring Siwapada, sampun pada ingastonan,,ilang tekang rupa juti, waluya atemahan jati, dening wastu ira Sanghyang, alinggih ing Sthananira, enang-ening rupa jati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERJEMAHAN

Om, Purwa Bhumi Kamulan (awal mula dunia).Yang Mulia Bhatari Uma, lahir dari pergelangan kaki Bhatara Guru.

Mula-mula yang ada adalah Bhatari, sebagai permaisuri Bhatara . Beryogalah Bhatara dan beryoga pula Bhatari. Lahirlah para Dewata, Panca resi,Sapta resi; Kosika, Sang Garga, Maitri, Kurusya, Sang Pratanjala Kosika pandai dalam hal padyargha, dan kemudian dipastu/dikutuk oleh Bhatara; Sanghyang Kosika lahir dari kulit. Kemudian Sang Garga lahir dari daging. Sang Maitri lahir dari otot. Sanghyang Kurusya lahir dari tulang. Sang Pratanjala lahir dari sumsum. Maka lengkaplah isinya dunia (Bhuwana), sebab telah diisi. Kemudian Bhatara dan Bhatari disuruh membuat dunia, kemudian ia dinobatkan dan namanya sangat terkenal, dan kemudian di kutuk oleh Bhatara.

Kosika pergi ke timur, berubah menjadi dengen. Sang Garga pergi ke selatan ,berubah menjadi harimau. Sang Maitri pergi ke barat berubah menjadi ular. Kurusya pergi ke utara berubah menjadi buaya. Pratanjala pergi ke tengah , berubah menjadi kura-kura besar. Sang Pratanjala diutus turun membuat dunia. Berjalan dengan tanpa teman, (karena) diutus oleh Bhatari (Uma), maka turunlah Sang Pratanjala. Lalu menyembah dan mohon diri (ke hadapan) Bhatara dan Bhatari. Berdirilah ia di antara langit yang kosong. Tidak ada sesuatu yang tampak, tidak ada sesuatu yang bersuara. Maka pikiran Bhatari menjadi hening, lalu mengeluarkan mantra-mantra untuk menciptakan dunia, beserta isinya dunia, bersama dengan sang Pratanjala.

Keringat mengalir dengan deras membasahi badan. Kemudian jatuh menimpa Bhatari(Gangga), maka keluarlah Bhatari Gangga. Pada awal mulanya ketika itu,keringat Bhatari mengering, maka keluarlah garam dari badan yang rasanya sepat dan asin, jatuh menimpa Bhatari Gangga, lalu keluarlah Bhatari Samudra; dilihatnya badan Bhatari, keluarlah tanah dari badan, jatuh menimpa Bhatari Samudra,maka keluarlah Bhatari Prthiwi; kemudian dataran bumi menjadi melebar,berpayungkan hamparan langit yang lebar. Pada awal mulanya ketika itu, beliau kembali beryoga, mengucapkan mentra untuk membuat dunia.Dari yoga Sanghyang Dharma, keluarlah maha-padma, sebagai pelengkap dunia.Kemudian keluarlah matahari dan bulan sebagai penerang dunia; keluar gugusan bintang-bintang, sebagai hiasan pada dunia. Kemudian keluar Panca Maha Bhuta,sebagai jiwanya dunia; kemudian keluar catur pramana : apah,teja, bayu dan akasa. Sehingga jiwa anda bhuwana alit menjadi lengkap dan kuat;dan sekarang ketiga dunia menjadi sempurna, oleh yoga beliau. Dipandanglah Bhatari Uma, setiap yang disentuh oleh Bhatari, ada putih, ada merah, ada kuning dan ada yang hitam.

Tiba-tiba Bhatari  Uma menjadi murka melihat wujud dirinya, lalu tumbuh dorongan untuk memakan manusia, lalu berteriak bagaikan singa meraung.Gigi dan taringnya panjang. Mulutnya bagaikan jurang terbelah dua. Matabagaikan matahari kembar. Hidung bagaikan sumur kembar. Telinga bagaikan paha berdiri tegak. Rambut digulung, badannya tinggi besar,tingginya tidak terkira, dari anda bhuwana (Bulatan bumi) sampai kepertengahan langit, beliaulah Bhatari Durga, namanya saat itu. Semua abdi Bhatari Durga, dan abdi-abdi Sang Kala melakukan yoga;bulu-bulunya dijadikan sumber kejahatan, berwujud laki maupun perempuan.

Semuanya sudah diisi dan sudah dianugrahi nama. Adapun nama-namanya adalah SiCabora, Si Cabori, Si Bragala, Si Bragali, Si Sanaka. Si Sanaki, SiDurana, Si Durani, Si Kalika, Si Kaleki, Si Gondala, Si Gondali, SiBetala, Si Betali, Si Garbhayaksa, Si Garbhyaksi, semuanya berpesta pada Galungan.Perwujudan Kala Braja, Besa warna yang amat sakti,Pepelika, Pepeliki, ada yang besar dan ada yang kecil wujudnya, Yoga Bhatari Durga.

Setelah beliau beryoga, kemudian menyelam kedalam samudra, di sana beliau beryoga. Semua isi samudra lalu keluar dalam bentuk aneka rupa seperti : ikan duyung, ikan hiu, dan ikangergaji, ikan tengiri dan buntek (ikan pendek besar mengandung racun).Dan masih banyak lagi dengan nama masing-masing.

Bhatari Durgaberyoga, dipandangnyalah dunia, tembus sampai kepertengahan angkasa.Bhatara Guru melihat, lalu seketika beliau turun. Kemudian beliauberyoga lagi, akhirnya lahirlah (para) Kala. Berteriak bagaikan singameraung, gigi dan taringnya panjang, mulut bagaikan jurang menganga,mata seperti matahari kembar, hidung bagaikan sumur kembar, telingabagaikan rambut diurai, badan tinggi besar. Tingginya luar biasa, bumimenjadi merah, tembus ke pertengahan langit, beliaulah Bhatara Kala.

BhatariUma nama beliau tatKala itu Para Kala pembantu  beliau baik yang laki maupunyang perempuan beryoga. Bhuta Bhuti, Yaksa Yaksi, Pisaca Bhutamenyertai, Maha Bhuta, Panca Bhuta, Pulung Dara , Pulung Dari .Krti Dara , Krti Dari , Dewa Dengen, Bhuta Dengen, Daitya, Wil,serta Danawa, Mrajapati Anggapati. Kekelika, Kekeliki, Pepelika,Pepeleki, ada yang besar ada yang kecil bentuknya, yoga Bhatara Kala.Setelah beliau beryoga, lalu beliau tinggal di gunung. Hyang Sangkaranama beliau, ketika beliau tinggal di hutan. Bhuta Banaspati,Banaspati pada kayu. Singha Kala pada tanah. Kala Wisesa pada langit.Bhuta Lamis pada batu. Wisnu Pujut pada malam hari. Bangbang Pita padasiang hari. Kala Nundang pada jalan. DoraKala pada pintugerbang. Hyang Maraja pada halaman. Bhuta suci pada sanggar. Bhuta Sayah padaBale agung. Kala Graha pada Kuburan (pemanggahan). Bhuta Ngadang padapersimpangan jalan. Kala Dungkang pada bangunan suci (batur). Bhuta Duleg dibawah tempat tidur. Bhuta Ndelik pada bilah-bilah bambu alas tikar pada tempat tidur (galar). Bhuta Gumulung pada tikar pandan yang dianyam halus (klasa). Bhuta Jempang pada bantal. Bhuta Asih pada tempat tidur. Bhuta Delep pada tugu pekarangan (dengen). Kala Sakti pada tempat suci (sanggar). Kala Nembah pada cucuran atap. Kala Nginte pada pagar. Kala Ngintip pada tiang rumah. Dora Kala pada pintu gerbang. Bhuta Ngigel pada orang kerasukan. Bhuta Ninjo pada gundukan tanah diatas kuburan. Bhuta Ngilo pada sumur. Bhuta Mangsa padakuburan Bhuta Boset pada kuburan anak-anak. Bhuta Reregek di perbatasan. Bhuta Ulu pada jurang. Bhuta Edan pada jalan besar. Bhuta Logok pada pertapaan(tapan). Bhuta Bega pada pamidangan . Bhuta Cantula pada balai pertemuan. BhutaSimuh pada waktu senja. Bhuta Nguncang pada lesung. Bhuta Ngadu pada jalan didepan rumah. Kuncang Kancing  Padangan pada (alat dapur). Bhuta Grawang pada rumah kosong. Bhuta Lawang pada Gang. Bhuta Lepek pada medan perang. Bhuta Rengregek di perbatasan. Bhuta Tulus pada jurang. Kala Kali pada perjudian.Singanjaya pada arena perjudian. Kala Edan pada pasar. SiddhaKala pada pertemuan (patamon). Bhuta Dengkol pada kaki tempat tidur. Kala Mukti pada dapur. Kala Dengsek pada kuburan anak-anak. Kala Dekek pada dasar tiang rumah.

Dipandangnya Bhatari Durga, lewat samudra, bersama dengan Bhatara Kala. Ia menggunakan darah sebagai basma. Ganitrinya tengkorak manusia. Usus selempangnya. Berselendang berwarna merah dan hitam. Diasuh dan diantar oleh para hambanya (yang terdiri dari) para Kala, tidak jauh dari sanak saudaranya, lalu ia menuju kuburan.Di perbatasan kuburan anak-anak,pada pohon kepuh dan randu yang rindang. Dipuja oleh para Kala yang menjadi hambanya, dengan seperti orang mabuk memakan manusia. Upah menciptakan dunia, dimakan., siang dan malam, dikejar dan diperangkap,oleh para Kala yang merupakan para hambanya. Kemana pergi dikejar,dimakan siang dan malam. Adapun manusia yang dimakan dengan enaknya.Tidak lain yang dimakan adalah orang yang lahir pada Wuku Carik, yaitu orang yang lahir pada Wuku Wayang, lahir kembarsiam (kadana-kadini), bersaudara lima, tunas tunggul (tunggak wareng), unting-unting, itulah yang dimakan siang dan malam. Sekarang Sanghyang Kala marah,seketika ia turun, berdiri diantara dunia yang sepi, membuat sanggar pemujaan.Lalu diciptakan Brahma, Wisnu dan Maheswara, kemudian turun kedunia,berkehendak menciptakan manusia. Hyang Iswara menjadi Resi. Hyang Brahmamenjadi Brahmana. Hyang Wisnu menjadi Bhujangga. Merekalah kemudian yang diutus oleh Tuhan (Sanghyang), agar menghaturkan sajen/banten, segala jenis sajen yang lengkap. Sekarang sudah ditegaskan; oleh Sanghyang, bahwa Brahmana,Bhujangga, Resi, Siwa dan Sogata, boleh meruwat sepuluh jenis kekotoran.

Bersantaplah Bhatara Kala bersama dengan Bhatari Durga, tuak, nasi, dan ikan,berjenis-jenis hidangan lengkap. Dan banyak lagi namanya yang lain.Kemudian Bhatara Kala datang, bersama dengan Bhatari Durga, berdiri diatas tangkai bunga, dipuja oleh para Kala yang merupakan hamba sahayanya, sangat senang hatinya, melihat hidangan. Diundang dengan japamantra, diiringi suara genta yang tiada putus-putusnya, suara genta oragan riuh, suara sangka riuh tidak henti-hentinya. Tembus sampai keangkasa, ditaburi dengan bunga-bungaan, cendana dan bija berwarna kuning, pedupaan dan dupa menyala. Asap dupa panggil tembus sampai keangkasa, bumi jadi harum semerbak bahkan sampai ke Windu Pada. Itulah awal mulanya adanya manusia dibumi memuja,mempersembahkan sesajen kepada Bhatara Kala, dan kepada Bhatari Durga. Lalu ia berjanji, bahwa setiap Purnama dan Tilem manusia di bumi tidak dikutuk oleh Bhatara Kala dan tidak pula dikutuk oleh Bhatari Durga. Tidak disantap oleh Hyang Kala,dan tidak pula dimakan oleh Hyang Durga, sebab sudah disucikan kekotorannya oleh berkat Sanghyang Sangkan Paraning Dumadi (Tuhan).

Rupanya yang mengerikan kemudian hilang, kembali seperti semula. Hyang Kala menjadi Bhatara Guru, Hyang Durga menjadi Bhatari Uma. Pulang menuju Siwa-pada (tempatnya Siwa), bersama dengan Bhatari Uma, oleh karena berkat Sanghyang Tunggal,akhirnya teruwat juga orang yang diruwat. Yang meruwat juga teruwat. Yang diruwat adalah Dewa, beliau ada di Siwa-pada. Ia kembali menuju Sorga. Setia pada Sanghyang Tunggal ,tinggal di Surya-pada. Kosika kembali ke timur menjadi Hyang Iswara.Sang Garga kembali ke selatan menjadi Bhatara Brahma. Sang Maitri kembali ke barat menjadi Hyang Mahadewa. Kurusya kembali ke utara menjadi Bhatara Wisnu. Pratanjala kembali ketengah menjadi Bhatara Siwa. Semua Kala yang merupakan hamba-hambanya menjadi Widhyadara.Mandiraksa dan Yaksi menjadi Widhyadari. Semuanya kembali ke sorga mengikuti junjungannya. Semua itu karena berkat Sanghyang Tunggal .Semuanya kembali seperti wujudnya semula.”mulih maring sangkan paran Rat Kabeh”.Acintya=tak terpikirkan.

                                            "Om Santih Santih Santih Om"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-3723322253919766254?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://budayadanfilosofi.tk' title='ASAL MUASAL PEMUJAAN LINGGA YONI(PURUSHA PRADHANA)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/3723322253919766254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/10/asal-muasal-pemujaan-lingga-yonipurusha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3723322253919766254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3723322253919766254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/10/asal-muasal-pemujaan-lingga-yonipurusha.html' title='ASAL MUASAL PEMUJAAN LINGGA YONI(PURUSHA PRADHANA)'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKgTog8D3gI/AAAAAAAAAZU/fEiEniBk_Uk/s72-c/pranda+gde+Made+Gunung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-3710678882140700344</id><published>2010-09-27T03:19:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T22:00:47.956-07:00</updated><title type='text'>HARI RAYA PAGERWESI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PAGERWESI ADALAH PEMUJAAN UNTUK KAWITAN TERTINGGI (PRAMESTIGURU)&lt;br /&gt;
INI DIAMBIL DARI LONTAR RAJA PURANA DALEM MAJAPAHIT untuk keberadaan PURA BESAKIH :&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKBu1syw0sI/AAAAAAAAAY4/6XpiJKut0qM/s1600/Kasunaran+jagad.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKBu1syw0sI/AAAAAAAAAY4/6XpiJKut0qM/s320/Kasunaran+jagad.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;salah satu isinya adalah sebagai berikut"Jika tidak mentaati Piagam ini semoga kamu sirna dan menjadi lintah". Ini Piagam tahun 1007 Masehi (929 Saka). Om Namobhye namah, Om Sri wastha sattawasar. Raja Majapahit kabarnya dalam keadaan berbaring. Pada waktu itulah Prasasti yang berupa Piagam ini dikeluarkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku adalah Batara Indra (Sri Wilatikta Brahmaraja I/Jayasabha nama beliau sebelum di abisekha Raja Majapahit)Hyang Wisesa gelar Beliau(Purusha), Istriku adalah Batari Maospahit(Bhatari Mas Magelung) dan aku Raja Majapahit bersama-sama bersemayam di pulau Bali.Ucapan ini ditujukan pada/ Diceritakan kepada Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan yang menurunkan Raja Bali. Karena ketulusan hati dan kebijaksanaan beliau ibarat Sang Hyang Dharma menjadi raja yang dapat mengalahkan raja Bali yang terdahulu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Sira Wang Bang yang mengabdikan diri kepada Batara di Besakih juga mengemong pura tempat bersemayamnya Batara Naga Basukih. Demikianlah kewajibannya selama hidup serta para turunannya mengabdi mempersembahkan air suci. Sira Wang Bang mengantarkan persembahan raja ke hadapan Batara di Kahyangan tatkala bersembahyang ke hadapan yang bersemayam di puncak Gunung Agung dan Batara Pusering Tasik (Tengah samudra) dan lautan madu. Aku mengambil hasil bumi dan angkasa, segala jenis hasil pesisir, lautan dan gunung untuk biaya upacara ke hadapan Batara di Besakih (gunung Agung). Berkat anugerah Batara masyarakat bersatu mematuhinya akibatnya bumi pun makmur(Gemah rimpah loh jinawi).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para Arya semua bersatu yaitu: Arya Kanuruhan, Arya Kenceng, Delancang, Arya Belog, Arya Kuta Waringin. Sabda Batara, "Hai kamu manusia mayapada, jangan engkau durhaka kepadaku. Jika engkau tidak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman para Dewa masing-masing dan kalau ada yang rusak tidak kamu perbaiki, tidak bakti, semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita serta jauh dari keselamatan". Sabda Batara Nawasanga kepada para umat penganut Siwa dan Buda dan para catur wangsa supaya memelihara dan memperbaiki kerusakan pura di Besakih."dsb dst.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKBmxldna2I/AAAAAAAAAY0/7wtiyvJKx9I/s1600/25092010%28014%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKBmxldna2I/AAAAAAAAAY0/7wtiyvJKx9I/s320/25092010%28014%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Jadi semua Pura pura yang ada di Bali adalah pemujaan untuk Leluhur sesuai dengan tingkatannya,sedangkan Tuhan adalah sebagai pesaksi karena Tuhan telah memberikan mandat untuk Leluhur Tertinggi untuk mengurus keturunannya,baru nanti Beliau menyampaikan kepada Tuhan,bukti nyatanya sesuai dengan keberadaan Meru Tumpang yang ada di Kawitan di Besakih seperti Meru Tumpang I,II,II sampai Tumpang XI.contoh tingkatan leluhur kita ambil dari Bapak Ibu tingkat/tumpang I,Kakek nenek II,Kumpi III,buyut IV,kelab kambe V,dadong dawuh VI,kropaksentre VII,udeg-udeg VIII,gantung siwur IX,canggah X,Danghyang XI, baru setelah itu Tuhan.Jadi begitulah contoh untuk imflementasi Tingkatan leluhur yang dimanifestasikan oleh pendahulu kita dalam bentuk Meru Tumpang dan lestari sampai sekarang dan Budaya adiluhung itu punya makna bukan sekedar"mule keto"yang berhubungan dengan Buana Agung Alam semesta dan beserta isinya(Siwatatwa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyambung makna dari Pagerwesi yang sudah turun menurun dirayakan oleh umat kita sudah tentu berhubungan juga dengan bhakti ke dalam diri yang sering di identikkan dengan Roh Suci(atman yang bersemayam di dalam diri dengan istilah Yoga Semadhi yaitu penerapan budhi pekerti luhur,mulat sarira,cinta kasih sesama sekalian mahkluk/sarwa prani,karena apa yang ada di alam(macrokosmos) begitu juga keberadaannya di Buana Alit(microkosmos)imflementasi ke dalam yang sering disebut Budhatatwa.inilah yang sering diperdebatkan mengenai makna "Siwa Budha"yang merupakan satu kesatuan dalam konsef kita hidup.Apapun yang kita laksanakan tanpa menerapkan "siwa budha"semuanya adalah palsu belaka.Inilah sistem yang perlu dilanggengkan turun-temurun agar terus berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ini saya tampilkan (Foto Piagam Siwa Budha zaman Dinasti Sendok dok Pura Majapahit Pusat)kenapa simbul "Surya Majapahit"adalah sebagai lambang Kerajaan Majapahit yang mana Siwa budha menyatu di tengah-tengah diantara dewa-dewa yang lain.Sehingga apa yang bisa membentengi kita bukanlah kesaktian atau kekebalan melainkan bhakti yang tulus pada Leluhur disertai moral yang baik.Rahayu, semoga semua mahkluk hidup berbahagia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-3710678882140700344?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/3710678882140700344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/pagerwesi-adalah-pemujaan-untuk-kawitan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3710678882140700344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3710678882140700344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/pagerwesi-adalah-pemujaan-untuk-kawitan.html' title='HARI RAYA PAGERWESI'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TKBu1syw0sI/AAAAAAAAAY4/6XpiJKut0qM/s72-c/Kasunaran+jagad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-8773854074106408954</id><published>2010-09-25T12:15:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T22:15:33.150-07:00</updated><title type='text'>PURANA IBU DARI SEGALA IBU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENGUNGKAPAN SEJARAH:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5JC-iZTNI/AAAAAAAAAYs/VHaxo4ElYIs/s1600/25092010%28002%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5JC-iZTNI/AAAAAAAAAYs/VHaxo4ElYIs/s320/25092010%28002%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Bertepatan dengan Hari Raya Saraswati ini,kami selaku Penyungsung dan Pengempon Pura Majapahit akan mengungkap sejarah Ibu dari segala Ibu di jagadraya ini yang sering disebut sebagai Ibu DURGA MAHISA WARDINI(yang dimanifestasikan) yaitu Ibu dari Prabu Airlangga yang nama terkenalnya adalah Dewi Mahendradhatha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa kami ungkap sejarah/purana/babad ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada umat yang kurang tahu persis siapa sebenarnya Ibu ini yang Pratima-Nya sudah berumur 1000-an tahun dan masih terawat dan di sungsung oleh keturunannya/ahli warisnya yaitu Sri Wilatikta Brahmaraja XI,yang mana Pratima ini mengalami zaman Dinasty Empu Sendok ,zaman Keemasan Majapahit dan merupakan sungsungan Raja-Raja turun temurun dan merupakan sungsungan pribadi di Puri beliau dan sampai saat ini masih disungsung yang di stanakan di Merajan Pura Majapahit Ibu Nusantara.sampai anda lihat Pratima-Nya sampai keropos baik perwujudan beliau maupun Lembu yang ditungganginya yaitu Lembu Nandini(foto).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5JhyrWPWI/AAAAAAAAAYw/4hspuk_iUmI/s1600/25092010%28011%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5JhyrWPWI/AAAAAAAAAYw/4hspuk_iUmI/s320/25092010%28011%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenarnya bersyukurlah bagi umat yang berada di Bali karena Beliau di linggihkan di Bali dengan Pratima beliau yang Asli dan sampai saat ini tidak bisa orang lain untuk menjiplaknya atau membuat duplikatnya karena saking bagusnya bentuk dan cara pembuatannya di zaman dulu dan menurut pengakuan dari ahli waris Kerajaan bahwa Beliau mewujudkan diri sesuai wujud dan wajah beliau yang asli waktu beliau masih di dunia ini (Pratima ini boleh dites arkeologi apa palsu apa asli silahkan buktikan kalau tidak percaya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan kenapa kami ungkap ini karena berhubungan dengan kejadian Tgl 11 september lalu dimana Pratima Beliau diundang dan di pendak oleh WHYO dalam rangka Ulangtahun Ganesha anak beliau yang secara jelas adalah Istri dari Bhatara Siwa sesuai dengan Purana-purana yang sudah diketahui umum dalam rangka Ruwat Deso/kota/jagad.Bahkan sempat waktu itu Pratima tidak dibolehkan masuk ke Pura Jagadnatha karena salah paham dikira bukan milik sungsungan Majapahit (dikira patung baru dari aliran India yang berkembang di Bali saat ini).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5Gr_0fhNI/AAAAAAAAAYk/Ln5kcUXlB3s/s1600/25092010%28009%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5Gr_0fhNI/AAAAAAAAAYk/Ln5kcUXlB3s/s320/25092010%28009%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Dan ketika Kami dari pihak Pura menjelaskan keberadaan Beliau baru-baru ini di gedung DPR Bali baru semua pengempon minta maaf karena mis informasi.dan semuanya saling minta-maaf karena ketidak tahuan umat.Sampai dalam rapat itu juga membahas akan diadakannya upacara Guru Piduka di Pura Jagadnatha(Pura Ida Shang Hyang Whidi Wasa) untuk kedua belah pihak yaitu dari Pengempon Pura Jagadnatha dan pihak WHYO karena ada kejadian di malam 11 september itu dimana kedua belah pihak saling adu argumentasi dari pihak penyungsung dan pihak penyelenggara yaitu WHYO (sauh ujar ala).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5HWq7GhAI/AAAAAAAAAYo/Xiw0oqXSp3o/s1600/25092010%28010%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5HWq7GhAI/AAAAAAAAAYo/Xiw0oqXSp3o/s320/25092010%28010%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Sehingga dari sekala/nyata bahwa kami keliru ngiring Pratima Ibu Durga ke Pura Jagadnatha/Tuhan padahal menurus pengempon dan sejarah Pura Jagadnatha di dalamnya juga ada pelinggih penyungsungan Ratu Niang yang terkenal di Bali yang sering di sebut Nang Hay Niang Niang(nama china-Nya)atau sering disebut Ratu Mas Magelung(nama Bali)banyak sebutan tetapi Beliau satu,sama seperti Anoman(Bali)nama chinanya Sun Gokong,Ganesha nama chinanya Gajah Tin Tin,semua itu di Bali sudah lumrah karena kita zaman dulu bukan Agama tetapi Leluhur/Kawitan yang kita sungsung sampai saat ini terbukti dengan adanya Palinggih Merajan,Dadia,Paibu-an/Paibon,Panti,sampai ke Pedharman yang semuanya itu adalah Pura Leluhur/Kawitan/wit/sangkan Paraning Dumadi sesuai dengan linggih Beliau sampai saat ini ada Meru Tumpang XI (Pagoda Tingkat XI), Kelenteng (Gedong Ibu/Paibon)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5GKxpDJXI/AAAAAAAAAYg/nSCykl_cWLA/s1600/25092010%28013%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5GKxpDJXI/AAAAAAAAAYg/nSCykl_cWLA/s320/25092010%28013%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Semuanya itu adalah Palinggih Leluhur Kawitan kita.yaitu Leluhur Purusha dan Pradana (yang mana semua Leluhur yang sudah di aben dimasukkan atau di catat di pura Ibu kalau tingkat Wangsa,kalau tingkat desa namanya Pura Kayangan Dalem,sama seperti Pura Pradana yaitu Pura Batur ada Klenteng-nya juga,Pura Dalem Balingkang,Pura Goa Giriputri Nusa Penida,Pura Masceti,Pura Dalem Durgakutri Blahbatuh yang umurnya 1000-an tahun,Pura Besakih ada juga Pura Ratu Mas Magelung, Pura Dalem Puri sehingga semua desa,&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5E3r_x0fI/AAAAAAAAAYY/zTH3ljmAvfI/s1600/25092010%28012%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5E3r_x0fI/AAAAAAAAAYY/zTH3ljmAvfI/s320/25092010%28012%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;pekraman nyungsung Ibu yang sering disebut Ibu dari segala Ibu karena sesuai dengan umur Beliau yang sering disebut Bhatari Durga/Siwa Parwati/Bhatari Uma ketika masih muda/Bhatari Saraswati ketika beliau menurunkan ilmu pengetahuan,Bhatari sri ketika beliau memberi Amertha,Pertiwi dll dsb dst dan ini salah satu kutipan (Bhisama Beliau)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Meme jani ada di Meru Malinggih yen meme di Jagat Jegeg meme tan nyamanpada Bhatari Gangga meme rabin Bhatara Siwapasopati,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5Fi5T_nvI/AAAAAAAAAYc/JoNTGOF7jhY/s1600/25092010%28006%29.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5Fi5T_nvI/AAAAAAAAAYc/JoNTGOF7jhY/s320/25092010%28006%29.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;yen meme duka memurti meme menados Bhatari mecaling Jagad,rug.......gumine,nyen bani ngutak-atik Majapahit meme kel munggel" begitulah ucapan ibu kalau sampai marah, karena kutuk pastu Ibu yang melahirkan kita semua haruslah dihindari apalagi Ibu adalah perwujudan Cinta kasih jangan sampai kasihnya seorang Ibu surut gara-gara anak yang durhaka"Surga ada ditelapak kaki Ibu"............Guru piduka adalah permahluman dan permohonan maaf yang ditujukan untuk Ibu dari segala Ibu atau untuk Tuhan.........................????? camkan baik-baik...............bersanbung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="refHTML" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-8773854074106408954?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/8773854074106408954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/pengungkapan-sejarah-purana-ibu-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/8773854074106408954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/8773854074106408954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/pengungkapan-sejarah-purana-ibu-dari.html' title='PURANA IBU DARI SEGALA IBU'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ5JC-iZTNI/AAAAAAAAAYs/VHaxo4ElYIs/s72-c/25092010%28002%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-5686057840883651203</id><published>2010-09-24T21:11:00.001-07:00</published><updated>2011-09-11T19:28:06.102-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH DEWI DURGA MAHISA WARDINI IBU PRABU AIRLANGGA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ13ustglnI/AAAAAAAAAXk/7r2cW6yPtUQ/s1600/25092010%28005%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ13ustglnI/AAAAAAAAAXk/7r2cW6yPtUQ/s1600/25092010%28005%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ139SvdfnI/AAAAAAAAAXo/BZIZ4XY1aw4/s1600/25092010%28009%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ139SvdfnI/AAAAAAAAAXo/BZIZ4XY1aw4/s1600/25092010%28009%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ14M4DSf6I/AAAAAAAAAXs/_7-2yJOFpcI/s1600/25092010%28006%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ14M4DSf6I/AAAAAAAAAXs/_7-2yJOFpcI/s1600/25092010%28006%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ14Zr-289I/AAAAAAAAAXw/pxoXN_he8xE/s1600/25092010%28007%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ14Zr-289I/AAAAAAAAAXw/pxoXN_he8xE/s1600/25092010%28007%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ14j8l6m_I/AAAAAAAAAX0/DIXvp0uqys0/s1600/25092010%28010%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ14j8l6m_I/AAAAAAAAAX0/DIXvp0uqys0/s1600/25092010%28010%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ1474vDRgI/AAAAAAAAAX4/X-P5zF2wPqg/s1600/25092010%28011%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ1474vDRgI/AAAAAAAAAX4/X-P5zF2wPqg/s1600/25092010%28011%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ15JxzJcxI/AAAAAAAAAX8/3OzOVrjIFVs/s1600/25092010%28012%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ15JxzJcxI/AAAAAAAAAX8/3OzOVrjIFVs/s1600/25092010%28012%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ15iZjPBLI/AAAAAAAAAYA/ELxTUkOr1-Y/s1600/25092010%28013%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ15iZjPBLI/AAAAAAAAAYA/ELxTUkOr1-Y/s1600/25092010%28013%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ15t4CgywI/AAAAAAAAAYE/W1rDxFyLbRo/s1600/25092010%28014%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ15t4CgywI/AAAAAAAAAYE/W1rDxFyLbRo/s1600/25092010%28014%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ158sGxT_I/AAAAAAAAAYI/IWFCdjkH4TQ/s1600/25092010%28015%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ158sGxT_I/AAAAAAAAAYI/IWFCdjkH4TQ/s1600/25092010%28015%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ16SvE_DrI/AAAAAAAAAYM/DMzyecnHz9s/s1600/25092010%28003%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ16SvE_DrI/AAAAAAAAAYM/DMzyecnHz9s/s1600/25092010%28003%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ16ie4EKdI/AAAAAAAAAYQ/sYS_cBK9vNk/s1600/25092010.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ16ie4EKdI/AAAAAAAAAYQ/sYS_cBK9vNk/s1600/25092010.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-5686057840883651203?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/5686057840883651203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/sejarah-dewi-durga-mahisa-wardini-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5686057840883651203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5686057840883651203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/sejarah-dewi-durga-mahisa-wardini-ibu.html' title='SEJARAH DEWI DURGA MAHISA WARDINI IBU PRABU AIRLANGGA'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TJ13ustglnI/AAAAAAAAAXk/7r2cW6yPtUQ/s72-c/25092010%28005%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-4096587134938608648</id><published>2010-09-20T02:00:00.000-07:00</published><updated>2010-09-26T05:47:21.976-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PALINGGIH MENJANGAN SELUWANG</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di petik dari : Babad Dalem Majapahit&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_xfqgzGC3ZyM/TJc2nC_Zs6I/AAAAAAAAAAg/0DA48kscSEc/s1600/Menjangan+sluwang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_xfqgzGC3ZyM/TJc2nC_Zs6I/AAAAAAAAAAg/0DA48kscSEc/s320/Menjangan+sluwang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Diceritakan Ida Pandita Siwa Budha yang bergelar Usman Aji dan Ajisaka diutus oleh Ratu Tanah Jawi yang &amp;nbsp;memelihara Pulau Jawa, karena pulau Jawa adalah sangat suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberangkatan keduanya ini membawa pengikut sebanyak 5.020 orang laki-perempuan. Yang memerintah di Majapahit pada saat ini Prabu Bhrawijaya V. Tetapi Majapahit dikacaukan oleh Islam sehingga banyak putri beliau lari beragama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun putri Bhrawijaya V(banyak istri selir) dari Jawa berputra I Bondan Kejawan. Putrinya dari Danuja berputra Arya Damar, putrinya dari Papua berputra I Lembu Peteng .Di kisahkan di tempat lain yaitu Ki Arya Damar memerintah di Palembang dan bergelar Prabu Palembang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah Majapahit ditinggalkan oleh Arya Damar pergi ke Palembang menjadi Adipati Palembang, ada juga putra beliau yang bernama Arya Sampang yang setelah dewasa diutus untuk ikut kepada kakaknya Arya Damar. Arya Sampang diangkat menjadi patih yang bernama patih Samplangan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diceritakan julukan para Arya dari dulu seperti Arya Bleteng, Arya Sentong, Arya Benculuk, Arya Waringin, Arya Belog. Sang Arya Samplangan dulunya memilih Arya Jelantik, Arya Pangrurah Dawuh, Arya Palasan, Arya Dalancang, Arya Sidemen, dan Arya Batan Jeruk dll dst-nya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diceritakan kemudian Putri Cina(Putri Cempa) setelah 12 tahun hamil dan lahirlah Raden Patah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Patih Gajah Mada dan Patih Supandria yang mempunyai tugas yang berbeda seperti Patih Gajah Mada menjadi Penguasa atau Panglima dan Patih Supandria menjadi Empu, Patih Gajah Mada lah yang menurunkan Pasek sebanyak delapan buah sedangkan Patih Supandria mendirikan Warga Pande sebanyak lima buah. Putra dari Patih Gajah Mada bernama I Pasek Pangasih, I Pasek Bandesa I Pasek Tangkas, I Pasek Ngukuhin, I Pasek Pagatepan. Anak Ki Patih Supandria adalah Pande-mas, Pande-gong, Pande-wijil, Pande-wesi yang kesemuanya menjadi pemuka di kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga putri Cina ketika hamil delapan tahun melahirkan Raden Kusen, Raden Patah dan Raden Kusen disuruh menghamba ke Majapahit. Tetapi Raden Patah membelok ke Gresik dan Raden Kusen menuju Majapahit. Raden Patah sesampai di Gresik menghadap kepada-Raden Guru Syeh Maulana. Raden Patah dipungut dan diajar Agama Islam. Setelah Raden Patah mahir dengan ajaran-ajaran Islam, disuruh datang ke Majapahit untuk menggantikan Prabu Majapahit atas asutan Syeh Maulana, Raden Patah mengambil istri yang bernama Dewi Supitah disahkan oleh para pendeta sekalian. Setelah itu atas petunjuk dari Raden Syeh Maulana(Guru Islam dari Arab) mendirikan Kerajaan Demak. Atas perintah dari Raja Majapahit V(ada dalam serat/babad Darmo Gandul ketika Brawijaya V terpaksa ikut Islam),-Raden Kusen menjadi Senapati melakukan penyerangan ke Demak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di situ terjadi perdebatan antara kedua orang kakak beradik &amp;nbsp;tersebut. Dalam peperangan ini wafat lah prabu Demak (Raden Patah). Setelah itu Raden Kusen kembali ke Majapahit menghadap kepada Prabu Brawijaya ke V dan disuruh untuk menyudahinya karena menimbulkan aib sendiri sesama keluarga besar Majapahit, Tetapi para bahudanda Demak seperti Adipati Pengi, Adipati Giri, Adipati Tegal membelot mengadakan penyerangan ke Majapahit atas asutan Syeh Maulana, sehingga Majapahit terdesak, Putra Majapahit Brawijaya V yang bernama Raden Lembu Peteng dilarikan serta disembunyikan di Maospahit. Sang Prabu Oka(Raden Lembu Peteng/Raden Gugur) hasil perkawinan dengan permaisuri beliau/Putra Sah Penerus Kerajaan disuruh mengungsi agar keturunannya yang Sah selamat dari kepungan Islam Demak, terus lari mengungsi siang malam karena dikejar oleh pasukan Demak untuk di Islam-kan, tetapi beliau dibantu oleh seekor Kijang/ Menjangan untuk melarikan diri dan diturunkan di Selat Banyu Arum (Banyuwangi tepatnya di Batu Dodol sekarang).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan beliau dilanjutkan ke Bali lewat segara rupek(Pura Segara Rupek sekarang) dan sampai di Pulaki(Singaraja barat sekarang) diiringi oleh para Pendeta Siwa Budha dan rakyat sekalian, Besoknya perjalanannya dilanjutkan sampai ke Batur dan diutusnya Arya Sampang/Arya Samplangan mendirikan puri di Mengwi. Ida Sang Prabu diceriterakan sampai di Puri Gelgel dan mendirikan, Puri yang bernama Puri Smarabawa. Di sini lah Agama Tirta dipertahankan serta dilaksanakan sebagai mana mestinya. Kemudian Sang Prabu Dalem Majepahit menempatkan para Arya seperti Dalem Ketut di Sanur, Arya. Jlantik di Karangasem, Arya Kepakisan ditempatkan di Tegal Ambengan Buleleng, Arya Sidemen di Pangalasan.dsb dst sampai saat ini untuk menghormati Ida Dalem Majapahit maka seluruh Keturunan Beliau termasuk pengiring-pengiring beliau untuk membuat Palinggih/Palungguh Menjangan Seluwang(kijang atau Menjangan yang telah menyelamatkan beliau sampai ke Bali-dwipa..............&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diceritakan pasukan/pengikut setia Beliau I Gede Bendesa Manik Mas di Jimbaran yang berasal dari Banjar Gading Wani Tegeh(Pura Tegeh Sari Jimbaran sekarang) ada putranya yang bertempat di Pujungan bernama I Gede Tebya. Putranya di Beratan bernama I Gede Jagra. Diceritakan Ida Padanda Dwijendra/Pranda sakti Wawu Rauh/Sabdopalon=nama Jawa sebagai Pengabih Prabu Brawijaya V(Serat Babad Darmogandul) pergi ke Gelgel diiringkan oleh Ki Bandesa Manik Mas. Ida Padanda sampai di Sumedang, beliau memprelina rakyat sebanyak 800 orang karena putrinya Dewi Swabawa(berstana di Pura Melanting Buleleng sekarang) disembunyikan orang rakyat tersebut. Desa itu kini diberi nama Pulaki.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para Pangeran dari Purusa seperti I Gede Pasek Gelgel, I Gede Bandesa Manik Mas, I Gede Dangka, I Gede Gaduh, I Gede Ngukuhin, I Gede Tankenyudurian, I Gede Kabayan, I Gede Pamregan, dan I Gede Abyan Tubuh. Para pangeran dari Pradana adalah I Gede Bala Pulasari, I Gede Bandem, I Gede Salahin, I Gede Komoning dan I Gede Lurah. Diceritakan keturunan dari Pangeran I Pasek Gelgel yaitu sebanyak delapan orang yang bernama Pangeran Gelgel, Pangeran Abyan Tubuh, Pangeran Selat, Pangeran Sebetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur dan I Pangeran Anyaran.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keturunan Pasek Bali yaitu Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek Taro, dan Pasek Celagi, Keturunan I Bandesa Gelgel adalah I Bandesa Gelgel dan I Pangeran Manik Mas. Pangeran Manik Mas menurunkan I Gede Manik Mas dan I Gede Pasar. Badung, I Gusti Nengah Sebetan Karangasem menjalankan daya upaya untuk menghancurkan Ida Dalem Bali(Majapahit Bali ), dengan cara Ida Dalem diutus datang ke Besakih. Tetapi sampai di Karangasem, Sri Aji Dalem dikurung serta dipenjara/ ditawan(Moksah di Besakih) atas kesalahan ini biar tidak tulah sama Sri Aji Dalem Majapahit Bali maka semua harus membikin Palinggih Menjangan Seluwang. Dengan demikian para Putra Dalem lari terlunta-lunta meninggalkan Puri Gelgel tak tentu rimbanya atau misteri..........sehingga BALI ADALAH MAJAPAHIT...........makanya semua masyarakat Bali di Pura Merajan/Leluhur/Kawitannya ada Pelinggih/Palungguh Menjangan Seluwang, berani tidak membikin tanggung sendiri akibatnya kena Tulah/kwalat dari Bhisama Bhatara Dalem Majapahit..........bersambung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nama/ Judul Babad :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Babad Dalem Majapahit.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nomor/ kode :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Va.5961, Gedong Kirtya, Singaraja.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Koleksi :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ajin Dayu Putu Remrem.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alamat :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Geria Bantas, Penarukan, Kerambitan, Tabanan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawa Kuna Tengahan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Huruf :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bali&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah halaman :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;56 lembar/halaman.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditulis oleh :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Da Ba Sa ring Geria Bantas Manuaba Panarukan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Colophon/ Tahun :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puput sinurat ring rahina Sa., Ka., Wayang, Tang., Ping.5. Sasih 8, rah 6, Teng,, ping,9, Isaka jagat 1896, tahun Masehi 1976. Kasurat antuk titiang Da Ba Sa, ring Geria Bantas Manuaba, Panarukan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-4096587134938608648?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/4096587134938608648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/sejarah-palinggih-menjangan-seluwang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/4096587134938608648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/4096587134938608648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/sejarah-palinggih-menjangan-seluwang.html' title='SEJARAH PALINGGIH MENJANGAN SELUWANG'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_xfqgzGC3ZyM/TJc2nC_Zs6I/AAAAAAAAAAg/0DA48kscSEc/s72-c/Menjangan+sluwang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-8181955321306490322</id><published>2010-09-11T03:00:00.000-07:00</published><updated>2010-09-26T05:46:09.712-07:00</updated><title type='text'>DINASTI WARMADEWA KAITANNYA DENGAN BUDAYA DESA TENGANAN DENGAN PERANG PANDANNYA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItRuNRjEKI/AAAAAAAAAWs/SW4Z5bjzeeE/s1600/galungan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItRuNRjEKI/AAAAAAAAAWs/SW4Z5bjzeeE/s320/galungan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BALI AGE (BERASAL DARI DESA AGE GUNUNG RAUNG JAWA TIMUR) telah melekat di tubuh Tenganan. Awig-awig yang mengikat krama desa masih lugu memelihara warisan budaya yang memang patut untuk dijaga. Meskipun begitu ketatnya, demokrasi tetap terjaga. Di sini laki-laki bukan herarti lebih tinggi dari perempuan. Tenganan selalu memperlakukan orang-orangnya untuk tetap mengingat betapa pentingnya persamaan hak jiwa kewajiban. Lihatlah rumah-rumah kuno itu selalu berjejer sama di atas jalan desa yang masih perawan. Orang-orang di sini begitu bijaksana menyikapi tanah warisan desa. Tanah bukan untuk dijual tapi untuk dijaga dan dihidupi agar tetap lestari dan langgeng.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersyukurlah Manggis punya Desa Adat Tenganan. Di tanah ini aku selalu belajar tentang masa lalu. Keterpencilan bukan lalu membuat desa jadi mati dan asing tetapi tetap hidup dengan segudang Aura Magis yang terpancar dari perilaku adat menuntun warganya untuk selalu berada pada jalan yang benar.Meski sederhana namun tetap bersahaja. Siapakah yang membiarkan kerbau-kerbau itu bebas berkeliaran? Adalah Budaya Adat juga. Bahwa hewan tak selamanya meski ditangkar dalam sangkar dan kandang. Di sini selalu ada kebebasan dalam keterikatan. Jangan coba kau usir kerbau itu karena ia adalah penjaga desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItSqdSpV5I/AAAAAAAAAW8/k5k0fewnsTc/s1600/Pura+Ratu+Mas+Besakih.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItSqdSpV5I/AAAAAAAAAW8/k5k0fewnsTc/s320/Pura+Ratu+Mas+Besakih.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Di Pageringsingan, aku belajar mengenal kesabaran pada perempuan desa menenun serat benang menjadi selembar kain tradisional. Kain geringsingkah itu? Sore hari, kudapati tangan perempuan Tenganan tengah berlumur kuning minyak kemiri dan merah akar sunti Nusa Penida. Bersabarlah, tunggu hingga benang itu kering, sebentar lagi kubuatkan kain dari tangan-tanganku yang terampil. Ya, kedua tanganmu pun menari menyulam dan menjalin benang-benang yang telah kauwarnai. Jangan tergesa-gesa maka jadilah motif-motif yang kausukai. Inilah kain geringsing yang selalu ditenun dengan kesabaran hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan-perempuan itu tengah menenun kain penolak bala. Kain itulah yang selalu menjagamu dari arus zaman yang suatu waktu bisa menggerus pintalan benangnya. Hingga kini, geringsing itu masih kau pandang sakral. Jika gering berarti sakit dan sing itulah yang meniadakannya. Kuyakini geringsing menjauhkan orang-orang Tenganan dari petaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cinta di kilometer enam puluh lima dari pusat kota ini juga dibatasi. Jadi, jangan coba-coba menikah dengan warga luar desa. Hai..... pemuda Tenganan jika cintamu tak bisa terbendung dengan perempuan luar, ada konsekuensi yang menunggumu. Di sana, di Banjar Pande akan menjadi tempat tinggal cintamu karena engkau dianggap lahir cacat melanggar keteguhan awig-awig desa. Namun, tak lalu menjadikanmu terpisah dari ritual kehidupan adat dan agama. Engkau masih diberi persamaan hak dan kewajiban untuk tetap melaksanakan ritual kebiasaan yang telah ada. Demikianlah cinta terlarang itu diperlakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItQSV9-mmI/AAAAAAAAAWk/b5jfT0-WjBM/s1600/Mendak2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItQSV9-mmI/AAAAAAAAAWk/b5jfT0-WjBM/s320/Mendak2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukit-bukit yang mengelilingi Tenganan selalu menyimpan cerita sejarah yang layak untuk disimak Bukit Kauh dan Bukit Kangin itukah yang telah membendungmu? Matahari di sini selalu terbit di puncak bukit dan harus rela tenggelam di atas bukit pula. Dulu, orang-orang bergerak dari pesisir pantai menuju daerah yang kelak menjadi tanah Bali Kuno. Maka Tenganan kuyakini berasal dari kata ngatengahang mengantarkan orang-orangmu selalu bergerak ke dalam merambah pangsa bukit-bukit mungil itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Kerajaan Bali Kuno, ditanah inilah Ki Patih Tunjung Biru memperoleh kuasa sebagai menteri kerajaan. Masa itu, Bali dipimpin oleh putra Shri Musala Masuli yang bernama Shri Gajah Waktra dengan gelar Dalem Bedahulu atau Sri Astasura Ratna Bumi. Dengan kesaktian dan kebijaksanaannya, Bali pada waktu itu diperintah dengan adil dan tenteram. Dalam pemerintahannya, beliau dibantu para menteri yang patuh memegang perintah sang raja, disiplin, dan sakti mandraguna.Diantaranya Ki Pasung Grigis sebagai mahapatih berkuasa di Tengkulak Ki Kebo Iwa sebagai patih muda berkedudukan di Blahbatuh, Ki Tunjung Tutur mengambil tempat di Tianyar, Ki Tunjung Biru berada di Tenganan, Ki Tambyak di Jimbanan, Ki Buan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro. Para menteri inilah yang selalu menjaga tanah Bali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sinilah timbul cerita bahwa orang-orang Tenganan berasal dari Bedahulu, Gianyar. Suatu kali, raja Dalem Bedahulu kehilangan salah satu kuda kesayangannya. Di manakah kuda itu meringkik? Raja berniat hati agar kuda itu ditemukan. Maka diperintahlah orang-orang Bedahulu untuk mencarinya ke timur Bali di bawah pimpinan Ki Patih Tunjung Biru. Di tanah inilah pada akhirnya kuda itu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh Ki Patih. Atas kerja keras dan kesetiaan Ki Tunjung Biru maka sang raja memberikan wewenang untuk mengatur dan menguasai daerah tempat kuda itu ditemukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wilayah yang bisa dikuasai sejauh aroma bangkai kuda itu bisa tercium. Berkat kepintaran Ki Patih, dipotong-potonglah bangkai kuda itu dan disebarkan sejauh mungkin sehingga sang menteri kerajaan bisa mendapatkan daerah kekuasaan yang cukup luas.Tengananpun menjadi tempat kekuasaan Ki Patih Tunjung Biru hingga masa ekspedisi Gajah Mada ke Bali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika aku Tenganan, kudapati pandan-pandan itu tengah berduri. Meruncing pada tepi-tepi daunnya yang menyirip hijau. Siapakah yang menjadikan pandan-pandan itu tumbuh menyuburi Pageringsingan? Kupercayai ini sudah menjadi titah Dewa Indra/Hyang Wisesa/Hyang Adwayabrahma/Hyang Jayasabha Panglima Perang sebagai &amp;nbsp;anak dari Prabu Airlangga di Kerajaan zaman Prabu Airlangga Wangsa Warmadewa di Jawa dan di Bali adinda Beliau Anak wungsu sebagai Rajanya, sebagai dewa Tertinggi dalam dunia peperangan. Di tanah Tenganan Dewa Indra(Hyang Wisesa Brahmaraja I meru tumpang 11 di Besakih sekarang) selalu dihormati dengan ritual Perang Geret Pandan. Warga percaya bahwa mereka adalah keturunan ksatria perang dari tanah kelahirannya di Desa Age(Jatim). Setajam apakah duri-duri itu akan menggeret kulit tubuhmu? Setajam hatimu untuk selalu menjaga tradisi perang yang penuh dengan kedamaian itu. Nah, duri-duri itu telah lama menunggumu untuk beryuda di atas arena perang tradisional. Juga tameng ata (sejenis tumbuhan pakis yang merambat) itu, bukankah telah lama merindukannya? Perisai yang akan melindungimu nanti dari geretan duri pandan lawan. Sudah siapkah dirimu bersetubuh dengan duri-duri itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sasih kelima tepat di Hari Raya Sambah perang pandan kembali berkobar(Purnama ke 5 odalan di Pura Majapahit Gwk Palinggih/Palungguh Hyang Prabu Airlangga yang dimanifestasikan dengan Bhatara Wisnu naik Garuda(Gwk) jadi kesemuanya itu adalah untuk menyenangkan Leluhur/Kawitan Beliau yaitu Dinasti Warmadewa). Arena yang selalu jadi riuh itu telah menanti laki-laki pemberani sebagai laskar ksatria perang. Di arena perang itulah, pemuda-pemuda Tenganan akan membuktikan bahwa raga dan jiwa mereka betul-betul kuat mempertahankan tradisi yang telah berurat-akar. Tajamnya duri pandan Tenganan tak lalu membuatnya jadi takut jika menghujani punggungnya yang menegak matahari. Sakitkah ketika duri-duri itu menggeret kulit punggungnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gepokan daun pandan berduri itu akan menjadi saksi bahwa tubuhmu betul-betul kuat menahan sakit dan perih sesaat. Jikapun punggungnya itu nanti berdarah tak lalu membuatnya meringis kesakitan. Mereka kini tahu, keteguhan hatinya betul-betul diuji di laga perang. Semangat akan makin menyala untuk menggores punggung lawan ketika tahu bajang-bajang dari celah jendela di atas rumah panggung itu memberinya sorak dalam senyum yang menggoda. Siapakah yang akan mencabuti duri-duri itu pada punggungnya yang memerah? Ketika duri-duri itu dicabuti satu per satu, tarian perang pun telah usai. Perang pandan selalu berakhir dengan damai. Bagiku tak ada yang menang tak ada yang kalah. Kemenangan sejati akan ada ketika tradisi itu tetap terjaga sepanjang pandan-pandan itu terus berbunga dan berduri ditanah Bali Aga Tenganan.Apakah kaitannya perang pandan di sasih ke 5 dengan odalan Prabu Airlangga wangsa Warmadewa di Bali yang jatuh di Purnama ke 5(lima)..............????? Kesemua itu adalah untuk mengem-Bali-kan dan mengingatkan pada satu Keturunan/Kawitan Pusat Kita jangan sampai kita sebagai Generasi muda penerus melupakan sejarah purana Bhatara Kawitan Pusat yang bersumber dari Ayah yang sama yaitu Wangsa Warmadewa sehingga Hyang Prabu Airlangga yang berstana di Pura Majapahit Gwk disebut Pura Kawitan Jawa-Bali(Beliau lahir di Bali umur 14 th ke Jawa Timur dan menjadi Raja di Dinasti Sendok menantu ,sehingga Beliau bisa menggabungkan Dinasti Warmadewa dan Dinasti Sendok di Jawa Timur dan Bali sehingga kawin mengawin dua Dinasti yang meneruskan trah Beliau di Bali dan Jawa.Kalau di telusur bahwa Dinasti yang berkembang di Nusantara terdiri dari 3 Dinasti besar yaitu Dinasti Warmadewa(Bali Age),Dinasti Sendok(Kadiri) dan Dinasti Wisnu Wangsa(Jenggala ,terakhir menurunkan Aryeng Kauripan di Bali= Arya Cakradara,Arya Damar,Arya Kenceng,Arya Tanwikan,Arya Sentong dll).Rahayu................&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-8181955321306490322?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/8181955321306490322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/dinasti-warmadewa-kaitannya-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/8181955321306490322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/8181955321306490322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/dinasti-warmadewa-kaitannya-dengan.html' title='DINASTI WARMADEWA KAITANNYA DENGAN BUDAYA DESA TENGANAN DENGAN PERANG PANDANNYA'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TItRuNRjEKI/AAAAAAAAAWs/SW4Z5bjzeeE/s72-c/galungan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-2868078573568395959</id><published>2010-09-07T02:04:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T02:04:05.194-07:00</updated><title type='text'>MENUTURKAN PRILAKU BHAKTI YANG SESUNGGUHNYA</title><content type='html'>Sesungguhnya bhakti pada sesama manusia serta alam leluhur untuk orang tuanya yang sudah almarhum adalah sah-sah saja yang sering disebut dengan menyambung kelakuan leluhur terdahulu ketika beliau masih hidup di dunia ini/alam semesta untuk melestarikan kebudayaan leluhur.asalkan niat yang sungguh-sungguh leluhur pasti menerima dan bangga dengan keturunannya apalagi bisa melebihi kelakuan leluhur sewaktu beliau masih hidup dan jangan pernah bilang leluhur yang sudah almarhum tidak melihat mendengar apa yang kita perbuat di dunia ini dan justru apapun yang anda perbuat leluhur tahu cuma beliau dalam bentuk roh/kasat mata.Tetapi di masing masing daerah kepercayaan kita banyak macam pemujaan sembahyangan tergantung lokasi daerah tertentu.Adapun prilaku bhakti yang sebenarnya untuk bapak ibu yang sudah almarhum yang sesungguhnya adalah dari hati yang betul-betul timbul dari hati yang suci dan luhur dengan mempersembahkan apa yang semasih hidup beliau senengi/artinya kita melayani beliau seperti melayani ketika beliau masih hidup,begitulah cara kita berlaku bhakti yang sempurna.Umumnya orang hidup di dalam dunia masing-masing akan menduduki kekayaan dan kemulyaan,kekayaan itu sebenarnya dari nasib/karma yang sudah ditetapkan,hanyalah kemulyaan itulah yang bisa dicapai oleh semua golongan baik dia kaya ataupun hidup berkecukupan/miskin.Sehingga semua golongan bisa mencapai kesempurnaan prilaku bakti yang sah dalam dunia akhirat(ini yang berhubungan dengan dunia akherat atau dunia leluhur yang sudah almarhum.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TIX_rKe9GXI/AAAAAAAAAWc/41LPBq32czs/s1600/kwankhong2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TIX_rKe9GXI/AAAAAAAAAWc/41LPBq32czs/s320/kwankhong2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sekarang meningkat persembahyangan untuk Langit dan Bumi ini artinya inplementasi bakti atau sujud untuk Tuhan,kalau persembahyangan untuk nenek moyang biasanya di Klenteng/gedong leluhur dan sujud pada beliau leluhur.Inilah dasar bakti yang sah dan sempurna,artinya kita harus sembahyang ke leluhur baru sampai ke langit dan sedekah bumi sesuai dengan jalurnya yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh di alfa-kan.Kalau sudah mengerti dasar dan haluannya orang suci yang bersembahyang pada Langit dan ke Nenek Moyangnya sehingga baru bisa mengemong hatinya rakyat,dan kalau digunakan untuk mengurus Negeri amatlah mudah sebagai membalikkan telapak tangan saja.Waktu sembahyang Langit itu disamakan dengan Leluhur yang laki namanya.Kalau sembahyangan untuk sedekah Bumi di samakan dengan leluhurnya yang perempuan maksud dan tujuannya adalah biar leluhur yang almarhum mendapat kemulyaan yang menyamai sifat kebajikan dari lakunya Tuhan,karena Tuhan maha pengasih dan penyayang pada sekalian mahkluh.maka siapa yang mengerti prilaku bakti sama nenek moyang dan bakti atau sujud pada Tuhan tentu akan dapat jalan yang gampang untuk mengurus perdamaian dunia seperti membalikkan telapak tangan...................bersambung&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-2868078573568395959?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/2868078573568395959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/menuturkan-prilaku-bhakti-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/2868078573568395959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/2868078573568395959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/09/menuturkan-prilaku-bhakti-yang.html' title='MENUTURKAN PRILAKU BHAKTI YANG SESUNGGUHNYA'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TIX_rKe9GXI/AAAAAAAAAWc/41LPBq32czs/s72-c/kwankhong2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-5460965656502718372</id><published>2010-08-23T19:06:00.000-07:00</published><updated>2010-08-23T19:06:01.575-07:00</updated><title type='text'>MENGEMBALIKAN BALI-KU</title><content type='html'>Menuturkan keadaan prilaku yang menyempurnakan :&lt;br /&gt;
Didunia ini hanya manusia yang mempunyai tabiat atau prilaku suci dan budhi luhur yang bisa sempurna sesuai tabiat yang dikandung oleh Hyang Esa.Kalau sudah bisa menyempurnakan tabiatnya dari Tuhan seyogyanya mengetahui persamaannya masing-masing manusia yang terbelenggu oleh suka dan duka,baru bisa sempurnakan orang yang punya tabiat.dan kalau sudah bisa menyempurnakan orang punya tabiat juga bisa menyempurnakan segala sesuatu benda atau umat Tuhan yang punya tabiat.Tabiat manusia mencintai putra dan putrinya,binatang yang begitu buas juga punya tabiat/sifat mencintai anaknya.Kalau manusia sudah menyempurnakan umat manusia ciptaan Tuhan baru boleh membantu Dunia untuk membabar dan merawat -Nya. &lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/THMoOM4T5UI/AAAAAAAAAWU/RrYoVVXKz_Q/s1600/khong.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/THMoOM4T5UI/AAAAAAAAAWU/RrYoVVXKz_Q/s320/khong.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dunia itu membabar dan merawat benda benda alam semesta sekalian,bagi orang yang sudah satu/manunggal budhi kesuciannya baru boleh membantu pimpinan dan merawat dunia,lantas budhi jasanya boleh manunggal dengan Dunia.sesungguhnya didalam dunia ini cuma orang yang bersikap luhur yang bisa membabar/menerapkan/mengejawantahkan/mengimplementasikan kesatuan/ke-Esaan/kemanugalan.(yang mengerti sudah tentu pinter tapi yang pinter belum tentu mengerti jangan sampai ke"blinger")hati-hati memahaminya ini blog khusus orang-orang spiritual tinggi ........................be continue..........Sam Tjay....Sam Tjay..........Sam Tjay.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-5460965656502718372?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/5460965656502718372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/mengembalikan-bali-ku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5460965656502718372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/5460965656502718372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/mengembalikan-bali-ku.html' title='MENGEMBALIKAN BALI-KU'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/THMoOM4T5UI/AAAAAAAAAWU/RrYoVVXKz_Q/s72-c/khong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-6337284524504210584</id><published>2010-08-15T19:36:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T19:36:20.890-07:00</updated><title type='text'>TEHNIK MEDITASI/CARANYA ORANG SEMADHI</title><content type='html'>1.Enteng,diam tidak bergerak,lantas sadar dengan perasaan tidak melamun atau menghayal, menghubungkan diri dengan Alam Ketuhanan/Ista Dewata/Aksara yang kalian suka.maka kita sebagai mikrokosmos akan terhubung dengan makrokosmos(Buana alit dan Buana agung).seperti layaknya besi dengan magnet.Kitapun mempunyai yang namanya besi berani itu apagila kita dalam meditasi tidak :marah,sedih,takut,cinta/kasmaran,benci dan pamrih/ada sesuatu yang diinginkan inilah pantangannya atau yang menghambat jalannya Meditasi sehingga besi kita tidak akan bisa menjadi besi berani,artinya dasar dari Meditasi adalah betul-betul mempunyai adat Budi pekerti luhur bukan hanya diucap tapi harus dilaksanakan sehari-hari adalah dasar utama/pondasi untuk kita meditasi,selama manusia masih ingin saling membunuh,ego mau menang sendiri dan termasuk mengkafirkan orang lain selamanya tidak bisa orang mencapai semadhi.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TGij_Do7gNI/AAAAAAAAAWE/TJkJnV7tqfo/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TGij_Do7gNI/AAAAAAAAAWE/TJkJnV7tqfo/s320/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tegasnya alam mempunyai hawa positif dan negatif yang terdiri dari 5 element,melahirkan beribu-ribu makhluk masing-masing bersemangat menghirup hawa segar dan membuang hawa busuk,hanya manusia yang paling sempurna dan paling subur untuk bisa melatih budhi pekertinya.Langit adalah hawa positif,sehingga jalannya matahari dan bintang selalu beraturan menerangi bumi.Bumi adalah hawa negatif,sehingga membekukan air di dalamnya dengan jumlah berkubik-kubik.ketika dipanasi oleh inti bumi yang berupa api sehingga bukit air melimpah kepermukaan tanah.dengan bergulatnya hawa positif dan negatif melahirkan 4 masa/musim yaitu musim semi ,panas,gugur/silir,dan dingin dalam 1 tahun terus berulang-ulang.Kenyataan dari akurnya 5 elemen/4 masa yaitu di bulan sisir sampai purnama,dari purnama sampai gelap,maka 3 kali 5jadi tanggal 15 cahaya bulan bundar,3 kali 5 jadi 15 cahaya bulan gelap.Kenapa ini berhubungan karena kita harus tahu bahwa manusia itu hidup dari kebajikan tuhan dan saling berhubungan dengan alam,dan sarana kita meditasi adalah alam,sehinga kita diberi penyuluhan akan kesejukan jiwa dan nafas.bersambung...........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-6337284524504210584?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/6337284524504210584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/tehnik-meditasicaranya-orang-semadhi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/6337284524504210584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/6337284524504210584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/tehnik-meditasicaranya-orang-semadhi.html' title='TEHNIK MEDITASI/CARANYA ORANG SEMADHI'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TGij_Do7gNI/AAAAAAAAAWE/TJkJnV7tqfo/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-1469451116086112257</id><published>2010-08-05T22:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-05T22:14:23.278-07:00</updated><title type='text'>SAMADHI PADA/TEHNIK MEDITASI</title><content type='html'>Yoga adalah upaya penghentian pusaran-pusaran batin yang menghalangi pancaran citta (citta vritti nirodha). Dengan demikian citta —yang terfungsikan sebagai si pengamat— hanya bersandar pada kondisinya sendiri (svarupa) yang jernih; sedangkan, pada waktu-waktu lainnya umumnya si pengamat mempersamakan dirinya dengan pusaran-pusaran batinnya tersebut (vritti sarupya). [YS I.1 - I.4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yoga Sutra dibuka oleh Patanjali dengan empat aphorisma pendek nan padat makna ini. Dari sutra I.1 hingga I.4 ini, kita diperkenalkan pada Yoga, kondisi umum batin manusia dan apa yang dapat diperbuat untuk itu. Sangat mendasar penjelasan dalam empat sutra ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia, makhluk berakal-budi, teranugerahi manas (pikiran) dalam kelahirannya. Dari manas inilah lahir kata manussa atau manusya yang kemudian diadopsi menjadi manusia dalam bahasa Indonesia, man dan mind dalam bahasa Inggris. Jadi, bagi keberadaan manusia, manas menduduki posisi sentral yang merupakan esensi dari keberadaanya. Ia merupakan perabot ampuh manusia untuk bertahan hidup, yang membedakannya dengan makhluk bumi lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rshi Chanakya menegaskan: “mana eva manushyãnam kãranam bandha mokshayoh” —”bagi manusia, manas-lah yang menyebabkan perbudakan pun pencapaian Moksha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hirarki Sankhya, manas menduduki posisi kunci di bawah keakuan atau asmita. Vedanta menyebutnya ahamkara. Intelek, nalar, kecerdasan atau buddhi berada pada tataran yang lebih tinggi dari pikiran, dan dapat dipandang sejajar dengan keakuan. Sedangkan citta —yang acapkali juga dimaksudkan sebagai kesadaran atau pikiran jernih— berada di atas buddhi dan asmita. Citta masih terbilang sejajar dengan triguna (sattvam, rajas dan tamas) —tiga kekuatan Prakriti— namun belum terpengaruhi olehnya. Citta turunan langsung dari Purusha, yang merupakan hakekat yang berlawanan dan berpasangan dengan Pradhana atau Prakriti. Dari Pradhana inilah triguna berasal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah citta dipengaruhi triguna dan didominasi oleh sattvam, maka ia tidak lagi sebagai citta yang jernih, melainkan sebagai buddhi. Dan bila citta dipengaruhi dan didominasi oleh rajas dan tamas, maka terlahirlah asmita atau ahamkara. Ahamkara inilah yang membawahi dan menggerakkan pikiran manusia, dimana relatif amat jarang buddhi ikut campur didalam ‘pemerintahan’ ini. Dalam melayani ahamkara, pikiran dan perasaan menjadi sibuk, bergolak, menggelora, berpusar, berubah-ubah, terombang-ambing, memunculkan berbagai bentuk-bentuk pemikiran dan emosi; ia ada dalam kondisi vritti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konyolnya adalah, dalam ketidak-tahuan (avidya) manusia mengidentifikasikan-dirinya sebagai vritti-vritti tersebut; sebagai ‘vritti sarupya’. Manakala dominasi asmita terhadap pikiran dapat direbut oleh buddhi, kondisi atau sifat sattvik yang luhur mulai menyinarinya. Buddhi telah mendekati citta, sehingga jauh lebih mudah menerima pancaran citta yang murni, lewat mana Purusha memancarkan cahaya di dalam batin manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah idealisasi ‘pemurnian citta’ Patanjali yang juga tersirat pada bagian awal karya agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I.2. Lima Jenis Modifikasi Batin dan Tiga Proses Penalaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Modifikasi-modifikasi batin (vritti) ada lima jenis, baik yang menyedihkan maupun yang tidak menyedihkan: penalaran yang baik (pramana), kekeliruan (viparyaya), imajinasi (vikalpa), tidur (nidra) dan ingatan (smrti).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengamatan melalui pengalaman langsung (pratyaksa), penyimpulan terhadap gejala-gejala yang teramati (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian atau metode penalaran yang baik dan handal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[YS I.5 - I.7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan yang diperoleh tanpa mengabaikan terlebih dahulu kekeliruan (viparyaya), imajinasi (vikalpa) serta ingatan-ingatan (smrti) yang samar dan terbatas, tidak layak dipercaya sebagai suatu pengetahuan yang sahih (vidya), dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan objektivitas dan kebenarannya. Ia tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan samasekali (avidya). Sutra-sutra ini menekankan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pengetahuan diperoleh lewat tiga rangkaian proses, yang masing-masing daripadanya disebut pramana. Ketiganya merupakan suatu rangkaian proses yang saling isi-mengisi dan melengkapi dalam bekerjanya, dimana yang satu dilanjutkan, dikuatkan dan dilengkapi oleh yang lainnya. Dalam mengamati, mencermati guna memperoleh pengetahuan, tri pramana adalah jalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengamati langsung dengan cermat fenomena-fenomena di luar ataupun di dalam, melahirkan pengalaman. Melalui pengamatan terhadap objek yang sama secara berulang-ulang, banyak pengalaman yang diperoleh. Pengalaman disini bisa berupa pengalaman fisik, non-fisik maupun meta-fisik. Endapan pengalaman-pengalaman inilah yang tersimpan berupa kesan-kesan mental yang membentuk ingatan (smrti); mereka serupa dengan kesan-kesan mental (samskara). Smrti akan semakin kuat bila pengalaman yang sama dialami secara berulang-ulang. Dari fenomena batiniah ini terlahir metode Japa, pelafalan sebait mantra pendek secara berulang-ulang. Semua proses empiris ini disebut pratyaksa pramana. Mungkin sekali kata ‘praktek’ maupun ‘praktis’, berasal dari kata pratyaksa ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan juga bisa diperoleh dari mendengar penjelasan sumber-sumber yang otentik dan layak dipercaya, maupun kitab-kitab yang terpercaya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara inilah yang disebut agama atau sabda pramana, pengetahuan dari sabda-sabda suci para Guru-guru suci penerima wahyu yang tertuangkan ke dalam kitab-kitab suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, walaupun tak ada Guru suci atau kitab suci yang didengar atau dibaca, melalui pengalaman empiris (pratyaksa), analogi, pengumpamaan ataupun pemodelan (upamana) serta membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman sejenis lainnya serta analisa secukupnya, dapat pula dilahirkan sebentuk pengetahuan. Proses penyimpulan ini disebut anumana. Masuknya upamana (pengumpamaan atau analogi) dalam pramana —sehingga menjadikannya empat pramana, Catur Pramana — diajukan oleh Rshi Gautama dalam Nyaya Darsana-nya. Menurut beliau, masih ada 4 aspek substantif yang mengkondisikan atau yang terkandung dalam proses penalaran, yakni: (i) subjek (pramata), (ii) objek (prameya), (iii) keadaan hasil amatan (pramiti) dan (iv) cara mengetahuinya (pramana).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekeliruan (viparyaya) merupakan pengetahuan yang salah (mithya-jñana), yang tidak dibentuk dari realitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan yang dimunculkan oleh: citra kata-kata, namun tanpa didukung objektivitas, adalah imajinasi (vikalpa) semata, modifikasi yang terjadi tanpa hadirnya keterjagaan penuh adalah tidur (nidra), dan kemunculan kembali objek sensasi yang pernah dialami dalam pikiran adalah ingatan (smrti), dan ingatan yang terbatas, merupakan pengetahuan yang salah itu. [YS I.8 - I.11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan ada lima jenis penyebab kekeliruan (panca viparyaya) di dalam Wrhaspati Tattwa; masing-masing adalah: (i) Tamah, pikiran yang selalu ingin memperoleh kesenangan duniawi; (ii) Moha, keinginan untuk memperoleh delapan daya adikodrati (asta aiswarya); (iii) Mahamoha, keinginan untuk mendapatkan kesenangan niskala dan asta aiswarya; (iv) Tamisra, berharap untuk memperoleh kesenangan, sebagai buah dari perbuatan di kemudian hari; dan (v) Andhatamisra, menangisi atau menyedihkan (yang dianggapnya sebagai) miliknya yang telah hilang. Kelimanya berandil besar dalam kesengsaraan, disamping sebagai biang keladi kekeliruan, menurut Wrhaspati Tattwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nidra, tanpa hadirnya keterjagaan (jagra) —seperti yang disebutkan dalam sutra I.10— bukanlah tidur pulas, tanpa mimpi, yang adalah sushupti. Dalam sushupti, Ibunda Dunia —Rajesvari— membawa Jiva kembali kepada-Nya; memeluknya dalam dekapan kasih-Nya, menyusuinya lagi dengan segarnya kedamaian, gairah baru, vitalitas dan kekuatan serta menjadikannya cukup prima untuk menghadapi ‘peperangan’ ke-esokan harinya; demikian Swami Sivananda menggambarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas bahwa sushupti bukan suatu keadaan tidak aktif atau reposisi pasif tanpa hadirnya keterjagaan (jagra), seperti Nidra. Ia memiliki signifikansi filosofis praktis yang mendalam. Kaum Vedantin mempelajari keadaan ini dengan sangat hati-hati dan mendalam. Ia memberi petunjuk yang jelas kepada para filsuf non-dualis untuk menelusuri, meneliti, serta menemukan ‘saksi bisu’ yang tersembunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan lebih lengkap dan terpercaya secara meyakinkan bila diperoleh melalui pratyaksa, sabda atau agama serta upamana, sedemikian rupa saling menunjang dan menguatkan, guna memungkinkan penarikan suatu kesimpulan akhir. Disinilah subjektivitas pengalaman pribadi yang terbatas, berupa: kekeliruan (viparya), imajinasi-imajinasi subjektif (vikalpa), serta kehadiran objek-objek indriyawi yang menyesatkan (vishaya) maupun keterbatasan ingatan (smrti) tersingkirkan. Pertanyaannya kini adalah, bagaimana menyiasati penyingkiran modifikasi-modifikasi batin yang menyesatkan, yang menjadi biang dari mithya-jñana ini? Patanjali akan menjelaskannya pada sutra-sutra berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I.3. Abhyasa dan Vairagya — Kiat mengatasi Modifikasi-modifikasi Batin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui pelatihan dan pembiasaan terus-menerus (abhyasa) dan tanpa keterikatan pada keduniawian (vairagya), mereka dihapuskan (nirodhah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abhyasa adalah usaha terus-menerus pada jalan spiritual (sthitau yatno) hingga menjadi suatu kebiasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, perhatian yang konstan dalam jangka waktu lama (dirgha kala), dengan teguh dan tanpa jeda, menjadikannya mantap (drdha bhumih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan hidup yang bebas dari kenafsuan dan kecintaan (vitrsnasya) pada pengalaman-pengalaman indriyawi berikut objek-objeknya, serta tanpa ada lagi keterikatan padanya, adalah vairagya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vairagya yang tertinggi dicapai tatkala munculnya kekuatan Purusha untuk menghentikan pengaruh triguna, hingga keinginan yang sekecil apapun. [YS I.12 - I.16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paparan serupa ternyata kita temukan juga di dalam Bhagavad Gita VI.35: “Tidak diragukan lagi, oh...Mahabahu, pikiran memang sulit dikendalikan, namun ia dapat dikuasai melalui proses pembiasaan-diri dalam praktek spiritual (abhyasena); Kaunteya, ketidak-terikatan (vairagyena) pun dapat dicapai melaluinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abhyasa saling menguatkan dengan vairagya. Abhyasa dicapai melalui kesinambungan pelaksanaan sadhana; sesungguhnya antara sadhana dan abhyasa nyaris tiada beda. Dapat dikatakan bahwa abhyasa merupakan kebiasaan dalam menjalankan sadhana-sadhana bagi seorang sadhaka. Sudah barang tentu membiasakan sesuatu —apalagi sesuatu yang baik dan bernilai spiritual— tidaklah mudah dan dapat diraih dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks ini, abhyasa ditujukan untuk mengendalikan semua vritti. Menurut Sri Swami Sivananda, mengarahkan kembali pikiran pada asalnya, Hrdaya Guha, dan menjadikannya tercerap dalam Atman, adalah abhyasa; demikian pula mengarahkan pikiran ke dalam sehingga menghancurkan kecenderungannya yang senantiasa mengarah ke luar. Hanya melalui abhyasa sajalah samskara-samskara dapat dibakar hangus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wrhaspati Tattwa melukiskan ia yang telah meraih vairagya bagaikan raja yang kuat, yang telah menikmati kemenangan dalam peperangan. Semua kesenangan duniawi tak lagi mengikatnya lewat kemunculan kegandrungan terhadapnya, oleh karena ia tak menginginkan lagi semua itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Sri Swami Sivananda ada empat tingkatan vairagya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Yatamana:- sedang berupaya untuk tidak membiarkan pikiran berlari menuju ladang sensualitas;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Vyatireka :- pada tingkat ini beberapa objek bisa saja menarik Anda, namun Anda berhasrat kuat untuk memutuskan kemelekatan dan ketertarikan Anda. Secara berangsur-angsur vairagya-pun berkembang bagi objek-objek ini, hingga menjadi matang. Bilamana beberapa objek menyerang dan hendak menguasai lagi, Anda harus menghindarinya dengan tegas. Anda harus senantiasa mengembangkan vairagya bagi objek-objek ini, dan inipun harus dimatangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Ekendriya:- disini sensasi-sensasi indriyawi masih ada yang berdiri tegak maupun yang telah tunduk; akan tetapi, pikiran masih punya kecintaan (raga) atau kebencian (dvesha) pada objek-objek tertentu, namun kecintaan dan kebencian itu hanya sebatas pikiran saja;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFuZva0C6dI/AAAAAAAAAV8/SZc9NwFe0CA/s1600/Bhikku.Bhikkuni.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; cssfloat: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" bx="true" src="http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFuZva0C6dI/AAAAAAAAAV8/SZc9NwFe0CA/s320/Bhikku.Bhikkuni.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;(4) Vasirara :- pada tingkat vairagya tertinggi ini, objek-objek tidak lagi menggoda. Mereka tidak lagi menimbulkan ketertarikan samasekali. Ia tenang dengan sempurna. Batinpun telah terbebas dari suka-tak-suka (raga-dvesha). Disini sang Yogi meraih kemenangan dan tidak tergantung lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-1469451116086112257?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/1469451116086112257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/samadhi-padatehnik-meditasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/1469451116086112257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/1469451116086112257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/samadhi-padatehnik-meditasi.html' title='SAMADHI PADA/TEHNIK MEDITASI'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFuZva0C6dI/AAAAAAAAAV8/SZc9NwFe0CA/s72-c/Bhikku.Bhikkuni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-3942187211072151524</id><published>2010-08-03T08:22:00.000-07:00</published><updated>2010-08-03T08:22:45.072-07:00</updated><title type='text'>PETUAH EYANG ISMOYO/SABDOPALON/HYANG SEMAR(II)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFg0B2epqpI/AAAAAAAAAV0/PtiWt9opgIA/s1600/av-9420.gif" imageanchor="1" style="clear: right; cssfloat: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" bx="true" height="316" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFg0B2epqpI/AAAAAAAAAV0/PtiWt9opgIA/s320/av-9420.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petuah Eyang Ismoyo mengenai Tatanan Pauger-ugeraning Urip, bagi manusia dalam mengisi Kehidupannya di alam fana ini. Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur untuk membentuk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
manusia manusia sempurna yang berbudi pekerti yang luhur:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Eling Lan Bekti marang Gusthi Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yang sadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa setiap tarikan nafasnya berisikan sanjung puja kepadaNYA. dimana Beliau telah memberikan kesempatan bagi manusia untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. “Percoyo lan Bekti Marang ... Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan. Karena tiada satu utusan yang membawa keburukan tetapi kita sebagai umatnya yang gagal untuk mengerti Jiwa dari pengajaran yang di bawa..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. “Setyo marang Penggede Negoro”: maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di suatu wilayah, maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarkan pemimpinnya yang baik dan bijaksana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. “Bekti marang Bhumi Nuswantoro” maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nuswantoro ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlakukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya. Berbakti dan Jagalah kelestarian ALAM maka alam akan memberikan yang terbaik untuk manusia yang hidup di atasnya/dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. “Bekti Marang Wong Tuwo” : maksudnya Manusia ini tidak dengan serta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Bapaknya, maka hormatilah, mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita.. Berbakti kepada ayah dan ibu yang telah memberikan kita jalan untuk meraih kehidupan disini./Leluhur baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. “Bekti Marang sedulur Tuwo” : Maksudnya adalah menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik tua secara umur, secara derajat, pengetahuan maupun kemampuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : maksudnya menyayangi kawulo kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab./sebagai tulang punggung Negoro.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. “Tresno marang sepepadaning manungso” :mencintai sesame manusia(sarwa prani) maksudnya semua manusia itu sama, yang membedakan hanya warna kulit dan budaya saja. Tetapi Ingat dan Camkan baik baik semua manusia SAMA nilainya dihadapan Tuhan. Maka hormatilah sesamamu manusia dimana mereka memiliki harkat dan martabat yang sama dan sederajat dengan manusia lainnya. cintailah sesama manusia dengan rasa kasih sayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. “Tresno marang sepepadaning Urip” : maksudnya semua yang di ciptakan Tuhan adalah mahluk yang ada karena kehendak Tuhan yang Kuasa. memiliki fungsi masing masing sesuai dengan bidangnya sehingga dengan menghormati semua ciptaan Tuhan maka secara tidak iangsung kita telah menghargai dan menghormati PENCIPTANYA itu sendiri..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. “Hormat marang kabeh agomo “ : maksudnya hormatilah semua agama atau aliran dan para penganutnya. agama adalah ageming aji.. mengatur dan menata diri mengolah RASA untuk menjadikan manusia manusia yang berbudi pekerti luhur..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. “Percoyo marang Hukum Alam” : maksudnya selain Tuhan/Sang Hyang Whidi menurunkan kehidupan, Beliau juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hukum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai, Ingat kita hidup di alam dualitas ini dan akan terikat dengan hukum hukum yang ada selama masih berdiam di bumi dan hormatilah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : maksudnya manusia ini rapuh dan hatinya berubah ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menempatkan diri di hadapan Beliau, agar selalu mendapat lindungan dan rahmat Nya dalam menjalani Hidup dan kehidupan ini. OLAH RASA.. terus menata diri demi meraih pribadi pribadi yang berbudi pekerti luhur memayu hayuning bawono..semoga bukan hanya dibaca tetapi bagaimana kita menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari,sedah eksiskah di Negara NKRI ini dimana masih terdengar dalam berita(TV)penyerbuan,intimidasi,pengkafiran,pemusrikan di luar faham Islam yang 99% hidup di NKRI,sedangkan kaum minoritas tidak ada pembelaan sama sekali kecuali dengan mengungkapkan lewat tulisan-tulisan/blogs yang kurang diminati oleh para munafiker………….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575643224968740266-3942187211072151524?l=nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/feeds/3942187211072151524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/petuah-eyang-ismoyosabdopalonhyang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3942187211072151524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5575643224968740266/posts/default/3942187211072151524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyoman-budayadanfilosofi.blogspot.com/2010/08/petuah-eyang-ismoyosabdopalonhyang.html' title='PETUAH EYANG ISMOYO/SABDOPALON/HYANG SEMAR(II)'/><author><name>Pak Man Budi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196762456579485487</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/-rSKnAUAQWWI/TxWH1M7FgWI/AAAAAAAAAkk/ahnAGobkyY8/s220/GWK%252110.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFg0B2epqpI/AAAAAAAAAV0/PtiWt9opgIA/s72-c/av-9420.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575643224968740266.post-1192684726124916579</id><published>2010-07-29T05:15:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T05:53:57.235-07:00</updated><title type='text'>SABDOPALON</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYOGALA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYOGALA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYOGALA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYOGALA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h1
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 1 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:24.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:1;
	font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#B35E06;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	mso-font-kerning:0pt;}
p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle
	{mso-style-priority:10;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Title Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:15.0pt;
	margin-left:0in;
	mso-add-space:auto;
	mso-pagination:widow-orphan;
	border:none;
	mso-border-bottom-alt:solid #F07F09 1.0pt;
	mso-border-bottom-themecolor:accent1;
	padding:0in;
	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in;
	font-size:26.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#252525;
	mso-themecolor:text2;
	mso-themeshade:191;
	letter-spacing:.25pt;
	mso-font-kerning:14.0pt;}
p.MsoTitleCxSpFirst, li.MsoTitleCxSpFirst, div.MsoTitleCxSpFirst
	{mso-style-priority:10;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Title Char";
	mso-style-next:Normal;
	mso-style-type:export-only;
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-add-space:auto;
	mso-pagination:widow-orphan;
	border:none;
	mso-border-bottom-alt:solid #F07F09 1.0pt;
	mso-border-bottom-themecolor:accent1;
	padding:0in;
	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in;
	font-size:26.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#252525;
	mso-themecolor:text2;
	mso-themeshade:191;
	letter-spacing:.25pt;
	mso-font-kerning:14.0pt;}
p.MsoTitleCxSpMiddle, li.MsoTitleCxSpMiddle, div.MsoTitleCxSpMiddle
	{mso-style-priority:10;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Title Char";
	mso-style-next:Normal;
	mso-style-type:export-only;
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-add-space:auto;
	mso-pagination:widow-orphan;
	border:none;
	mso-border-bottom-alt:solid #F07F09 1.0pt;
	mso-border-bottom-themecolor:accent1;
	padding:0in;
	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in;
	font-size:26.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#252525;
	mso-themecolor:text2;
	mso-themeshade:191;
	letter-spacing:.25pt;
	mso-font-kerning:14.0pt;}
p.MsoTitleCxSpLast, li.MsoTitleCxSpLast, div.MsoTitleCxSpLast
	{mso-style-priority:10;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Title Char";
	mso-style-next:Normal;
	mso-style-type:export-only;
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:15.0pt;
	margin-left:0in;
	mso-add-space:auto;
	mso-pagination:widow-orphan;
	border:none;
	mso-border-bottom-alt:solid #F07F09 1.0pt;
	mso-border-bottom-themecolor:accent1;
	padding:0in;
	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in;
	font-size:26.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#252525;
	mso-themecolor:text2;
	mso-themeshade:191;
	letter-spacing:.25pt;
	mso-font-kerning:14.0pt;}
span.Heading1Char
	{mso-style-name:"Heading 1 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 1";
	mso-ansi-font-size:14.0pt;
	mso-bidi-font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#B35E06;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	font-weight:bold;}
span.TitleChar
	{mso-style-name:"Title Char";
	mso-style-priority:10;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:Title;
	mso-ansi-font-size:26.0pt;
	mso-bidi-font-size:26.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#252525;
	mso-themecolor:text2;
	mso-themeshade:191;
	letter-spacing:.25pt;
	mso-font-kerning:14.0pt;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div style="border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(240, 127, 9); border-style: none none solid; border-width: medium medium 1pt; padding: 0in 0in 4pt;"&gt;&lt;div class="MsoTitleCxSpFirst"&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="post_form_id" type="hidden" value="e7bda6b8f34a615ba6713ed005412c16" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFF5iXYqrKI/AAAAAAAAAVs/c6q1R5TPp2s/s1600/02012007007-001.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_6ptJUfPMoX0/TFF5iXYqrKI/AAAAAAAAAVs/c6q1R5TPp2s/s320/02012007007-001.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoTitleCxSpLast"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon. Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan akhirnyapun dapat dirunut secara logika historis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata ”Sabdo Palon Noyo Genggong” sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo ( 1135 – 1157 ) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* …; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Serat Darmagandhul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan toleransi yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam serat Darmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* ”Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* ”…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai ”Manik Maya” atau hakekat ”Semar”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* ”Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabdapalon ature sêndhu: ”Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, …..….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sabdo Palon berkata sedih: ”Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, …..&lt;br /&gt;
….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam karya-karya leluhur sangat toleransif sifatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa ”suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual (ponokawan) Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* ”…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi Semar merupakan pamomong yang ”tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa ”perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada ”bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada ”majikan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* ”….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* ”….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi ”mbah”, ”aki”, ataupun ”eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: ”Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* “Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ramalan Sabdo Palon&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&lt;br /&gt;
Sabda Palon matur sugal, ”Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jume­neng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sabda Palon menjawab kasar: ”Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&lt;br /&gt;
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&lt;br /&gt;
Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.&lt;br /&gt;
Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.&lt;br /&gt;
Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.&lt;br /&gt;
Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: ”Semar Ngejawantah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun 2006 lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : ”Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah ”Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama ”Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 0 + 0 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari ”bumi sap pitu” dan ”langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan ”Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Siapa Sejatinya ”Sabdo Palon Noyo Genggong” ?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog/buku ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Budi Marhaen, saya mendapatkan jawaban: ”Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum ”Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam “Dwijendra Tattwa” dikisahkan sebagai berikut :”Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama ”Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut ”Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kemampuan supranatural dan mata batinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam ”Pagunung Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di ba
