ABISEKA RAJA MAJAPAHIT BALI OLEH SRI WILATIKTA BRAHMARAJA XI




31-12-2009 Suasana Puri Surya Majaphit Jimbaran Bali Sangat Ramai, Kelihatan banyak Orang melakukan Kegiatan Acara Ritual untuk Pergantian tahun dari 2009 ke 2010, Kelihatan Raja abhiseka majapahit Sri Wilatikta brahmaraja XI Menyerahkan Keris Empu Gandring kepada GRP Prawirodipoero untuk dibawa ke Pura Besakih dimana di Pura ini terdapat Pelinggih Empu Gandring Pembuat Keris tersebut, Dengan diiringi Barongsai, Gamelan Bale Ganjur berangkatlah Keris dan Tombak Tombak Pusaka Majapahit, Tak Lupa Simbol Matahari Surya Majapahit menuju Pura Besakih di lereng Gunung Agung pagi yang cerah itu. Menyusul jam 16 WITA Mobil Kawal Polisi Daerah [POLDA] XI Bali dengan Sirine Meraung raung membelah Kemacetan  jalan Raya di Bali menjelang Tahun Baru 2010 mengawal Mobil Mercy Hitam yang ditumpangi Hyang Bhatara Agung Surya Wilatikta Brahmaraja XI juga menuju Pura Siwa Buda terbesar di Nusantara yang tetap di Upacarai sejak Zaman majapahit Besakih untuk mengikuti acara SHANTI PUJA WANTI WARSA  "PEMUJAAN AKHIR TAHUN UNTUK KEDAMAIAN DUNIA", Jalanan yang macet tidak menjadi masalah Mobil Kawal Patroli POLDA Bali cukup gesit mencari Jalur agar tetap jalan dengan mengusir Mobil didepannya untuk minggir, Lampu merah pun tak menjadi halangan Bagi Rombongan Sang Raja agar bisa tiba dan Upacara tepat pukul 18 WITA, Benar juga Tepat jam 18 Pria Ber Udeng Merah, Saput Merah dan Sarung merah Brahma ini Turun dari Mobil Hitam Compressor E200 yang disopiri Djoko Tole tepat ditangga Pura Besakih Waktu itu suasana Hujan Gerimis, Sang Raja Majapahit Masa Kini ini, dengan tenang mencabut Keris nya mengarahkan ke Langit dengan membuat Tulisan Swastika kekiri dan kekanan Simbol Budha dan Hindu masa kini, diteruskan membuat Tanda Palang di Tanah, Hujan pun berhenti "Tadi Sudah Hujan jadi nanti malam biar tidak Hujan agar Upacara Sukses, Kita kalau mencintai Alam pasti Alam pun mencintai kita" Ucap Sang Raja yang masih membujang hingga kini untuk menjaga Kesuciannya agar bisa Dekat dengan Leluhurnya dan menyelamatkan Rakyat nya tampa memikirkan Imbalan apapun, Dua Orang Gadis Siswa Hindu Kemudian membawakan Pratima Ratu Mas dan Dua Barongsai Kecil didalam Pelangkiran diatas Kepalanya mengikuti Pria yang akrab dipanggil Hyang Suryo dengan di Payungi Tedung warna Merah Brahmaraja susun Tiga kiri kanan Tedung Putih dan Kuning, Dengan di dahului dua Barongsai Merah Putih Sang Raja berjalan diiringi Pasukan Majapahit lengkap Persenjataan Tombak Kembar Zaman majapahit Asli milik Pengawal Raja yang berbaris jajar dua, Juga Para Mahasiswa Mahasiswi Universitas Mahendradata, Putra Putri Kampus, Teruna teruni Bali, Siswa Siswi Bali dan Masyrakat berbaris menuju Pelinggih Brahmaraja dan Permaisurinya ratu Mas Leluhur dari Sri Wilatikta Brahmaraja generasi ke XI ini, Tiap memasuki Pintu Pintu Agung Sekat Pura Tak lupa menggoreskan Keris Pusaka majapahit nya ke Tanah membuat tanda Silang Hingga Langit yang gelap menampakkan Biru nya serta kerlap Kerlip Bintang Sore Dan Rembulan diufuk Timur yang memang Kebetulan Hari Purnama Tersenyum memandang Sang Narendra Utama dan Setibanya di Pelinggih Ratu Mas Pratima Ratu Mas diletakkan di Dalam Gedong Meru Tumpang III sedang Barongsai Kecil diletakkan di kiri kanan bawah Gedong dan dilakukan Do'a bersama, Tiba Tiba semua Gadis Menari nari secara tak Sadar mengikuti Irama Gamelan Pimpinan Komang Subagia dari desa Tegak Kelungkung yang bertalu talu, Makin cepat Irama Gamelan makin Cepat Tarian masal meliuk liuk, Hal ini Sungguh sangat mengherankan, Inilah bukti bahwa Ratu Mas Magelung yang bagi Orang China juga Indentik dengan Dewi Kwan Im yang juga disebut Sang PENARI Turun bersama Pengiringnya Menari, Jadi Tarian ini tanpa disadari Oleh Para Mahasiswa dan Siswi yang bukan Penari tapi kondisi Trans mereka bisa Menari, ini membuktikan Leluhur ada dan bersemayam di Meru Pelinggihnya ucap Brahmaraja XI dengan Serius dan Yakin bahwa Para Leluhur datang menyambut Kedatangan Keturununannya yang membawa Sesaji Lengkap berupa Tumpeng Putih Kuning dan dikemas dengan Sesaji Bali Tatacara Siwa Buda, Juga Musik nya pun Siwa Buda yaitu Musik Barongsai China [Buda] dan Bale Ganjur [Siwa] inilah yang membuat Para  leluhur Siwa Buda Langsung Turun membuktikan kalau Beliau Ada dan Melinggih di Pelinggihnya yang selalu di Upacarai sejak didirikan 1343 oleh Para Kerabat Majapahit dibawah Pimpinan Arya Damar dan Gajah Mada dan di Lestarikan Keturunannya di Bali hingga kapanpun. Demikianlah Acara Ngalinggihan Ratu Mas di Pelinggihnya dan Beliau sudah mau Melinggih dibuktikan dengan Tarian Trans tadi, Ini juga membuktikan betapa Sakral Tempat ini yang jarang dimasuki sembarang Orang, sebab Pengunjung kalau berdo'a cukup di Penataran Agung Padma Tiga paling bawah yang dibuat di Era Orde Baru yang asalnya hanya Onggokan Batu Kuna lalu dibuat Padma Megah 3 Buah melambangkan Brahma, Wisnu dan Siwa Tapi ada juga yang menyebut lain, Jadi hal ini agak Aneh, Hanya Brahmaraja XI yang langsung naik keatas menuju Pelinggih Brahmaraja Wisesa dan Ratu Mas Magelung [Rambutnya di Gelung seperti Dewi Kwan Im] yang Jarang diketahui Orang awam tanpa melalui Penataran Agung Padma Tiga karena Beliau Adalah Keturunan ke XI Brahma Wisesa sendiri.

Jam 22.00 menyusul Rombongan Rektor Universitas Mahendradata DR Gusti Arya Wedakarna, Langsung melakukan Sembah kepada Leluhur Putri Ratu Mas untuk Persatuan Majapahit Pusat dan Bali, di Susul Upacara memberi Taksu Topeng / Tapel Gajah Mada dan Kebo Iwa yang di Bawa Sang Rektor, Brahmaraja XI dengan diiringi Gamelan Bale Ganjur dan Barongsai menuju Pelinggih Ratu Ibu Mas Magelung dari Pelinggih Meru Tumpang XI Brahma Wisesa dan langsung duduk disebelah disebelah Pemuda Terpandai dan Rektor Termuda di Dunia ini, Kemabali Acara Mencekam Seorang Pendeta Budha Wanita Kapeselang dan mengumumkan Brahmaraja adalah Pemersatu disusul Semua Pengawal Majaphit juga Kapeselang dan meneriakkan "MERDEKA" dan Upacara Menaksu Dua Topeng / Tapel inipun sekaligus Meng-Abhiseka Wedakarna dengan Nama Abhiseka Sri Wilatikta Tegeh Kori Kepakisan Sebagai Raja Majapahit Bali Dengan Menumpangkan Keris Pusaka Andalan Majapahit ke Kepala Wedakarna dan kedua Tapel, disaksikan Para Leluhur Majapahit yang Turun, bagi yang tidak bisa melihat Turunnya Para Leluhur, Mereka pun Percaya karena melihat Para Pendeta Siwa dan Budha dan Sebagian besar Pengunjung Kapeselang / Karauhan Ida Bhatara dan Bhatari, Bahkan Mangku Budhi Menari dengan Kaki Satu Posisi Aqintia, Yang Wanita pun pada Menari dan mengucapkan Selamat atas Pengesahan Abhiseka Sri Wilatikta kepada Keturunan Tegeh Kori Raja Bali ini, Sejak 1 Januari 2010 Maka Sah lah Sri Wilatikta Tegeh Kori sebagai RAJA MAJAPAHIT BALI selanjutnya Acara Darma Wacana dari Brahmaraja XI dimana disebutkan Bahwa Yang Tua akan segera minggir untuk digantikan yang Muda, Janganlah generasi Tua dan serakah bercokol, berilah kesempatan yang Muda untuk dipercaya kalau BISA memimpin Bangsa ini disambut tepuk Tangan Pengunjung yang rata rata Generasi Muda, Juga di Singgung Tentang Presiden Gus Dur yang sudah membuka Pasung Acara Budaya China yang menyatu dengan Bali sejak Dahulu, Hingga Barongsai Penjaga Penolak Bala bisa di hidupkan lagi "Lihatlah Kesatuan Siwa Buda sudah terlihat di Depan Pelinggih Siwa Buda Majapahit dengan bersatunya Bale Ganjur dan Barongsai untuk Menghibur Leluhur Yang Siwa Buda dan terbukti Beliau senang dan langsung Turun menerima kedatangan kita" di Tambahkan Bali kalau Upacara selalu menggunakan Uang China Kuno inilah Bukti bahwa Leluhur Putri kita dari China yang ber Ageman Buda, Kan Ratu Mas atau Dewi Kwan Im itu Perantara Manusia Hidup dan Budha, Jadi Siwa Budha adalah Kesatuan, Buda tidak mengakui Siwa bukan Buda, sebaliknya Siwa tidak mengakui Buda bukan Siwa Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa inilah kutipan Lontar Sutasoma yang digali Bung Karno Pendiri RI untuk Dasar negara kita, yang sejak 1965 tidak di Pakai secara benar, Hingga Adat Leluhur Ibu dari China dihapuskan diganti Adat Arab yang sangat bertentangan dengan Adat kita yang memuja Leluhur dengan Tuduhan Adat China Komunis tidak ber Tuhan, Untung Bali tidak terpengaruh adatnya dari Dahulu tetap lestari dan Pelinggih Ratu Mas ini tetap Abadi, memang Orang nya bisa berubah seperti 1965 umur nya 10 tahun, dan 2010 ini kan 60 tahun Jadi Perubahan 50 tahun lalu tidak mengenal Barongsai dan dianggap Asing karena adat China diberangus sejak 1966 itu kita maklumi tapi untung masih tahu kalau ini Pelinggih Ratu Mas yang bahaya kalau sudah tidak tahu Pelinggih Leluhurnya, yang penting Generasi mendatang tentunya sudah bisa berpikir Seperti Gus Dur yang Wafat kemarin sudah berpikiran Maju membebaskan kembali Adat Budaya Ibu hingga kita bisa menikmati serta Leluhur pun Senang karena GARWO adalah Sigaran ne Nyowo menurut Jawa Kuna, Jadi Istri itu adalah Separuh / Belahan Jiwa jadi tidak boleh dipisahkan, Inilah kepandaian Lawan Majapahit, dengan memecah Belah Leluhur Putri dan Lanang menjadi Agama Budha dan Agama Hindhu agar kita jadi Bangsa yang bodoh tidak mengerti Sangkan Paraning Dumadinya, dan Keturunannya itu selalu pada Cerai.[TV] malah Istri yang Sigaran Nyawa dikontrakkan Orang Arab [TV], dan marilah kita do'akan Gus Dur yang sudah membuka jalan Persatuan biarpun dihambat Orang yang anti Persatuan karena Takut bila rakyat bersatu mereka kalah.


Demikianlah Acara Tahun Baru 2010 Raja Abhiseka Majapahit masa Kini telah juga Meng Abhiseka Raja Majapahit Bali dengan Abhiseka Sri Wilatikta maka kini ada dua nama Wilatikta yaitu Sri Wilatikta Brahmaraja XI Raja Majapahit Masa Kini dan Sri wilatikta Tegeh Kori Raja Majapahit Bali yang juga Rektor  Universitas Mahendradata yang didirikan Bung Karno 1963 dengan nama "'MARHAEN"" juga Sang Rektor adalah DOKTOR termuda dan Pemuda Terpandai di Dunia [26 tahun], bahkan Adik Perempuan Sang Rektor Gusti Ayu Diah Werdhi juga berpredikat DOKTOR Wanita Termuda di Dunia pekan silam [Bali Pos] Jadi tidak salah Raja majapahit Masa Kini meng Abhiseka Pemuda Ganteng berpostur Tinggi yang juga Keturunan Raja Bali Zaman Majapahit yang ber Otak Briliant ini Menjadi Raja majapahit Bali {Bali bahasa Jawa bisa diartikan Kembali}SELAMAT TAHUN BARU 2010 Semoga Perubahan Baik akan menyertai Negri ini yang suda Porak Poranda, DPR dan Presidennya sibuk ngurusi Century semoga berakhir sebaik mungkin dan memuaskan Rakyat dan Pemerintahannya SEMOGA, Pukul 9 Pagi 1-1-2010 Mobil Mercy Hitam dengan Kawalan Polda Bali kembali memasuki Puri Surya Majapahit Jimbaran anehnya Brahmaraja XI tidak ada  dalam mobil ini, dan apakah kepulangannya di Rahasiakan akibat ada Ancaman Bom yang diucapkan Rektor Mahendradata semalam di Besakih "'Ada Ancaman dari Situs Internet bahwa Bali akan di Bom Teroris..." Belum ada Konfirmasi lebih jauh Data Ancaman yang diucapkan DOKTOR Termuda di Dunia ini Dua Orang Polisi tetap berjaga di Pura Ibu Majapahit dengan mengenakan Rompi Anti Peluru berwarna Biru hingga tulisan ini diturunkan dan Ancaman tidak terbukti berkat Lindungan Para leluhur Majapahit yang sudah di Upacarai semalam dan Sukses tidak Hujan dan masing masing Selamat tiba kembali dirumah*** {Drs Komang Artanegara Panitia Upacara Akhir Tahun Pura Ibu Majapahit}



0 Responses So Far:

Ngiring sareng-sareng Ngelantur